TAHU, MENGAPA KAU PERGI?

Berulang kali ia menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Sudah ia coba sekuat tenaga menahan tumpahan aliran itu tapi selalu gagal. Banyak alasan memang yang membuat air itu harus mengalir. Tak dapat dengan jelas ia merinci satu per satu alasan itu. Terlalu banyak. Terkadang alasan-alasan itu terlalu abstrak dan terkadang terlalu nyata. “Keputusan Bapak sudah bulat, nDuk…” kata-kata ayahnya terngiang berulang kali di telinganya. Ia tutup kuping namun selalu saja terngiang. Ia benamkan kepalanya ke dalam bantal dalam-dalam dan menutup mata rapat-rapat tapi tetap saja jelas dibenaknya urutan kalimat tersebut.

Dua hari sudah sejak ultimatum ayahnya itu dikeluarkan, Nisa jarang sekali makan dan tidur. Paling Cuma sehari sekali ia pergi ke dapur. Itu pun makan seadanya. Ia mengurung diri di kamar sambil menangis tak henti-hentinya. Selain ke dapur ia paling ke sumur untuk berwudlu dan mandi. Shalat lima waktu, dhuha, tahajjud, dan entah shalat apa lagi yang bisa selalu ia laksanakan. Di samping menangis ia telah curhat pada Tuhan dengan ribuan do’a yang ia panjat kan agar ia bisa keluar dari masalah ini.

”Ya, Rabb, tidak adakah jalan untuk hamba? Rabb…Engkau maha mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Hambamu ini terlalu lemah untuk mengetahui rahasia-Mu. Apa sesungguhnya yang Engkau rahasiakan di balik semua ini? Berilah hamba sedikit petunujuk- agar hamba kuat menerima semua ini. Jika ini adalah cobaan untuk hamba, hamba akan ikhlas walau hamba belum cukup kuat untuk menerimanya. Rabb…” kalimatnya terhenti dan isak pun mengembang di sajadah. Tumpahan air mata kembali membasahi pipinya yang ayu dan halus itu.

”Kak Nisa, dipanggil Bapak…” Teriak Yoyo dari luar kamarnya. Cepat-cepat ia seka air mata dan mencoba membenahi wajahnya yang mulai kusut dengan mata yang mulai membengkak karena menangis.

”Ya.. entar Yo, Mba lagi abis shalat” sahutnya jelas dari balik dinding papan kamarnya.

”Cepat Mba, Bapak nunggu di ruang tamu karo Mamak” Teriak Yoyo sambil berlari ke dapur entah apa yang ia cari. Nisa melipat mukena dan perlengkapan shalatnya dan diletakkan di sebelah meja hias butut yang ia miliki sejak kelas 4 SD dulu. Dirapikan pakaiannya seadanya dan memakai jilbab sekedar menutupi rambutnya yang cantik terurai sepunggung. Ia tipikal gadis jawa yang cantik, lembut, dan manis. Gadis Jawa walau sampai saat ini ia belum pernah berkunjung ke tanah kelahiran moyangnya itu. Kata ibunya neneknya berasal dari Jogja. Namun ia hanya tahu jogja dari televisi.

”Gimana nDuk, apa kamu kecewa dengan keputusan Bapak…? Apa Bapak salah mengambil keputusan itu? Trus Bapak ama Mamakmu harus berbuat apa lagi..?” Bapaknya membuka percakapan setelah Nisa duduk di lantai tepat dihadapan kedua orang tuanya. Bapak dan Mamaknya duduk di kursi tamu usang yang telah berumur puluhan tahun. Sudah mulai reot seiring usia kedua orang tua itu yang tidak lagi muda. Mereka berdua pun sebenarnya kalau bukan buatan Tuhan juga sudah reot seperti kursi itu. Untung buatan Tuhan jadi belum sereot kursi itu walau gigi sudah mulai habis, kulit sudah keriput, rambut sudah memutih.

”Bapakmu sudah berusaha sekuat tenaga untuk memperjuangkan kuliah mu, tapi semua belum dapat petunjuk dari Gusti Allah. Mamak juga tidak ingin…” Wanita tua itu mulai terbata-bata menahan air mata. ”Sopo sing ora kepengen ana’e berhasil… pengen NDuk[*]. Tapi…” Akhirnya tumpah juga. Isak pun menghiasi ruangan itu.

Kalau sudah begini Nisa juga tidak mampu menahan luapan gemuruh di dadanya. Sedih, rapuh, pilu menerjang di balik sukma yang dalam. TunDuk pada kenyataan hidup adalah sebuah fakta yang terkadang di luar logika.

”Nisa tidak kecewa sama Bapak dan Mamak. Nisa mengerti Mak, tapi…” lama ia terdiam dan ruang kecil itu sunyi bagai matahari senja meninggalkan siang. Aroma kesediahan seakan berhembus bersama angin-angin malam menembus sela bolong papan dinding rumah itu. Jarum-jarum nestapa menusuk pilu menembus hulu hati.

”…tapi Nisa juga masih ingin kuliah. Nisa ingin jadi sarjana seperti Mas Eko. Nisa juga pengen diwisuda…”

”Bapak tahu itu. Bapak dua kali lipat keinginanmu. Bapak akan sangat bangga sekali bisa menyekolahkan kalian sampai jadi sarjana semua. Masmu, kamu, dan adikmu Sutaryo juga harus jadi sarjana. Tapi…haruskah kita meratapi kejadian ini? Api itu tidak hanya membakar pabrik tahu kita, tapi telah membakar ijazah sarjana kalian yang belum dicetak….”

Bapak tua itu terhenti sembari menarik nafas dalam-dalam seakan mencoba melupakan sesuatu. Manalah mungkin ia melupakan kobaran api malam itu. Bak sebuah vidio rekaman di dalam benaknya betapa pabrik tahu yang baru ia benahi itu harus ludes ditelan si jago merah. Padahal ia baru meminjam kredit dari bank untuk membangun pabrik itu. Tidak tanggung-tanggung ia meminjam sampai angka seratus juta rupiah. Sebagian bangunan berdindingkan beton dan sebagian besar berdinding papan dan beratap daun nipah. Lebih besar. Lebih bersih.

Membangun pabrik tahu yang besar dan bagus adalah impiannya sejak dua puluh tahun yang lalu. Ia merintis usaha membuat tahu sejak anak sulungnya Eko Mursiyanto kelas satu SD. Kini anak itu telah mendapatkan gelar Sarjana Pertanian barulah impian itu terwujud. Seiring waktu ia telah memperkejakan puluhan karyawan. Entah berapa orang sarjana pula dari anak-anak karyawannya yang terlahir di pabrik itu. Namun kuasa Tuhan berkata lain. Malam naas tiba menghantam, mengamuk, tanpa basa basi. Ketika semua manusia sedang merajut mimpi, api berkobar merenggut mimpi-mimpi di potongan-potongan tahu di dalam pabrik itu. Api yang berkobar hebat melahap atap daun nipah dengan bersenda gurau. Terkadang terbahak-bahak mengikuti tiupan angin yang bersuka ria. Usaha masyarakat menimba air tak tertandingi derasnya air mata Nisa dan Ibunya.

Cuma dalam hitungan satu jam semua telah menjadi bara. Puing-puing kehidupan pun mulai berserakan. Puing-puing itu hitam, berasap, busuk, panas, dan gelap. Gelap, segelap masa depan pabrik itu sendiri. Segelap masa depan Hannisa Natiani dan Sutaryo.

Kalau masih boleh bersyukur, kejadian itu tak sampai merenggut nyawa dan masih menyisakan rumah tempat mereka berteduh. Pabrik yang langsung berdempetan dengan rumah dihubungkan oleh dapur. Dapur ikut terbakar dan dirobohkan oleh masyarakat yang membantu demi menyelamatkan rumah mereka. Semua musnah.

Peralatan pabrik pun ikut menjadi arang. Ember-ember tinggal menyisakan asap dan aroma plastik terpanggang. Memang hampir semua uang pinjaman dari bank itu ia tanamkan sebagai modal disamping pembangunan fisik pabrik. Ia juga habiskan uang untuk membeli berapa ton kacang kedele.. Saat ini harga kedelai melambung tinggi.

Pemerintah Indonesia sangat rapuh. Mengatasi kenaikan harga kedelai pun tak mampu. Ini negara dungu seperti keledai. Para birokrat dan politisi sibuk berebut kursi kekuasaan. Para anggota dewan berebut uang insentif pembuatan undang-undang. Huh..undang-undang untuk siapa? Untuk mereka sendiri. Buat sendiri, terima upah sendiri, jalankan sendiri, langgar sendiri, dan dirubah sendiri. Rakyat negeri ini hanya menjadi penonton ulah-ulah busuk mereka. Jual beli undang-undang sudah biasa. Undang-undang pesanan sudah lumrah asal dapat aliran dana. Biadap!

Bagaimana nasib pengusaha kecil pabrik tahu seperti Pak Sulistiono ini? Pernahkah menjadi perbincangan negara ini? Pernahkah harga tahu dibahas di DPR/MPR? Pernahkah masalah harga gabah, tomat, kacang ijo, bawang menjadi bahasan Pak Presiden dan para meterinya? Minyak tanah sering hilang di pasaran. Minyak bensin naik. Minyak sayur melambung tinggi. Mereka tak lagi peduli! Perkaya diri, cukuplah. Inilah negara dungu!

”Sudahlah nDuk, kowe gak usah terlalu bersedih dulu. Maafkan Bapak kemaren langsung mengambil keputusan untuk menghentikan kuliahmu. Dalam bulan ini Bapak akan usahakan dulu bagaimana bisanya untuk berunding dengan pihak Perbankan. Mudah-mudahan Bapak dapat keringanan dan kamu bisa bayar SPP lagi bulan depan. Berdoalah supaya lancar”

”ya nDuk, kita berdoa saja. Mamak juga sedih, kecewa, iba. Tapi mau diapakan? Sudah takdir dari Gusti Allah. Itu bukti Dia masih mencintai kita”

”Iya Pak, Mak, mudah-mudahan. Nisa do’ain…”

”Ya udah, tidur sana. Tuh matamu sembab. Jangan nangis terus, gak baik anak gadis banyak menangis, ya.” Pesan ibunya penuh kasih.

Nisa pun bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya. Ia menutup jendela yang masih terbuka dan angin telah menghembuskan aroma malam yang pekat. Ia kembali keluar untuk berwudhlu shalat ’Isa.

◊◊◊

Sebulan berlalu. Ia tidak mau ke kampus. Libur panjang akan segera habis. Tahun ini ia tidak ikut panitia penerimaan mahasiswa baru. Yang ada dibenaknya hanyalah ketakutan tidak bisa membayar SPP untuk semester depan. Takut ancaman Bapaknya untuk stop kuliah benar-benar menjadi nyata. Sebenarnya bukan ancaman Bapaknya tapi ancaman kehidupan di negeri ini. Hidup di negeri ini selalu terancam. Baru lahir sudah diancam dengan hutang perkapita dari hutang negara. Ingin tumbuh besar dengan baik tarancam gizi buruk. Mau pintar terancam putus sekolah. Mau usaha terancam gulung tikar. Itulah yang kemudian dirasakan keluarga Nisa.

“Bapak kemaren sudah menghadap ke bank bersama Pak Lek mu. Tapi hasilnya masih seperti yang Bapak sampaikan minggu lalu. Bank tidak mau memberi keringanan. Hutang kita tetap harus dibayar sesuai perjanjian. Artinya, tanah dan rumah ini tetap terancam disita. Bapak tidak punya jalan lain.” Terang Pak Tio Bapak Nisa.

”Apa tidak ada solusi lain dari orang bank Pak?”

”Ada, pilihan yang diberikan bank adalah sita tanah dan rumah ini atau bapak masuk penjara” jawabnya jelas dalam kepasrahan.

Hati Nisa mendidih sedih mendengar jawaban Bapaknya. Sebegitu kejamkah? Air matanya kembali berlinang. Harapan untuk kuliah tinggal sepenggal. Tidak mungkin memaksa Bapaknya masuk penjara hanya karena kuliahnya. Tidak. Untuk apa aku suatu saat sarjana dengan memenjarakan ayah kandungku sendiri. Tidak.

”Trus, kapan orang bank akan menyita rumah kita ini?” Tanya Nisa.

”Katanya akhir bulan ini kita sudah mengosongkan rumah ini. Yang disita hanya rumah dan tanah. Itu pun kita masih terhutang sekitar sepuluh jutaan”

”Jadi tidak cukup rumah dan tanah ini? Bukannya harga tanah di sini mahal Pak?”

”Harga mereka yang menaksir dan menentukannya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa!”

”Dasar Kapitalis tengik!” Umpat Nisa dalam hati. Meminjamkan uang sekaligus menjerat leher. Ini tidak adil. Yang kaya semakin berjaya. Yang miskin semakin tersingkirkan di negeri ini.

”Kita tidak ada pilihan. Tidak mungkin kita melawan orang-orang berduit itu. Kita terima sajalah cobaan ini dengan lapang dada. Allah pasti tahu apa yang terbaik untuk kita.”

”Kita mau pindah kemana Pak? Apa kita mau tidur di kolong jembatan Aurduri? Trus bagaimana dengan sekolah Yoyo? Apa Mas Eko gak bisa bantu?”

Sudahlah, Masmu juga sedang dalam kesulitan. Anaknya juga baru keluar dari rumah sakit. Sebelum kebakaran dulu dia juga minjam duit Bapak tuk beli obat anaknya. Bapak juga tidak mau memberatkan orang lain. Bapak sudah terbiasa hidup seperti ini. Wong cilik ki yo kaya ngene*[†]. ” Jawab orang itu setengah meratapi nasib.

”Tadi Mamak juga sudah cerita ama Buk Le Siti-mu. Dia minjamin kita kebunnya yang ada di luar kota. Ada pondok dan tanahnya luas. Besok Mamak sama Bapakmu ke sana untuk meninjau terlebih dahulu. Kalau memang memungkinkan kita pindah saja ke sana.” Sela ibunya yang dari tadi hanya bisa diam dan pasrah.

◊◊◊

Dengan mencarter sebuah mobil truck semua barang yang bisa dibawa sudah diangkut ke sebuah kebun dipinggir kota. Semua puing-puing kehidupan pun telah ditinggalkan. Yang tersisa adalah sebuah tulisan merah ”DISITA BANK” yang ditempelkan petugas bank tadi malam. Biarlah puing itu kan menjelma menjadi sejarah kekejaman kapitalisme di negeri ini.

Di rumah ’baru’ itu tepatnya gubuk tua yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Kata Pak Lik nya dulu ada penunggu kebun yang tinggal di rumah itu. Tapi tahun lalu mereka kembali ke tanah Jawa. Berdebu dan dinding papannya mulai membusuk dimakan usia. Mereka kemudian membersihkan dan menata rumah itu sedemikian rupa hingga sedikit layak untuk ditempati. Tak ada listrik dan tak ada air ledeng. Yang ada hanya sumur bor yang digali sekitar tujuh meter. Untuk mengambil airnya harus menggunakan ember dengan cara digerek pakai katrol.

Inikah kehidupan baruku? Gumam Nissa sembari merebahkan badannya didalam kamarnya. Perasaan sedih mulai menyelimuti dan menyusup ke dalam benak dan jiwanya. Kandaskah cita-citaku tuk jadi sarjana pertanian? Tak mungkin Bapak membiayai kuliahku. Untuk makan besok pun entah dimana harus Bapak carikan. Hidup kembali ke titik nol. Merangkak dan merayap menelusuri alur sandiwara kehidupan. Matanya mulai mengembun lagi. Kemana hendak mengadu? Haruskah ia mengadu kepada nasib? Haruskah ia berontak? Oo..tidak. sebagai gadis berdarahkan jawa itu tidak mungkin ia lakukan. Patuh pada kehendak orang tua adalah hal terpenting dalam kultur leluhurnya. Hatinya boleh kecewa, hancur, iba, sedih, tapi jiwanya harsus tegar.

Puas menatap langit-langit kamar yang tak berpelapon itu, ia bangkit dan melangkah berdiri dihadapan jendela kecil rumah itu.

”Masya Allah indahnya..” Gumamnya menyaksikan senja yang mulai merayap disela-sela pepohonan kebun itu. Dilihatnya sejauh mata memandang betapa kebun itu sangat luas terbentang. Kicau burung pulang ke sarang ramai bernyanyi. Lambat merayap seiring mentari senja meninggalkan siang, ia tersenyum. Senyum yang sejak kebakaran itu tak lagi ia miliki. Kini mengembang indah sekali.

”Aku bersumpah akan menjadikan kebun ini universitasku selanjutnya…” ia bergumam dengan menambah senyuman. Logikanya mulai bangkit seketika. Kecerdasannya tiba-tiba bergairah.

” Untuk apa aku kuliah?” Pikirannya mengembara melintasi kesedihan dan realita kehidupannya saat ini.

”Untuk apa aku menambah jumlah sarjana pertanian di negeri ini jika masalah kedelai saja tidak terselesaikan? Bukankah negeri ini berlimpah sarjana pertanian? Tapi mereka memilih berebut kursi birokrasi yang akhirnya berbagi korupsi. Searjana pertanian negeri ini alergi menanam kedelai. Puluhan tahun Indonesia merdeka ternyata tak mampu hanya mengatasi masalah kedelai. Goblok…!” gumamnya sambil menganggukkan kepala.

”Mulai hari ini aku bersumpah akan kujadikan lahan ini universitasku sesungguhnya. Cangkul akan kujadikan dosenku. Ranting-ranting pohon itu akan kujadikan pena dan pensilku. Daun-daun itu akan kujadikan silabus kuliahku. Kan kuhentikan impor kedelai mulai hari ini. Go to hell America! Kacangmu itu sebenarnya jelek. Kau Cuma menang nama besarmu! Kau harus beli kedelaiku tahun depan. Kau harus beli tahuku, Jepang! Kau harus impor tempeku, Malaysia.” hatinya halus meronta dalam diam.

Senja pun berlalu seiring sumpah anak petani nan manis dan ayu itu. Mungkin benar, ibu pertiwi ini sudah rindu sentuhan tangan-tangan halus bak Kartini. Negeri ini butuh kerja keras. Tangan-tangan cantik mulus anak negeri ini sudah terlalu lama dipangku dan hanya berani menyentuh bayang-bayang kemewahan tak berujung di dinding-dinding mall, sisi-sisi gelap bar, hingar bingar diskotek, atau di jalan-jalan lokalisasi.

“Aku bersumpah…” Nisa menutup jendela kamarnya untuk dibuka hari esok .#Bhn#

Jambi, 21 Januari 2008: Jam 04:55

(Ditulis dari jam 02.00 setelah membantu memadamkan api kebakaran pabrik tahu di dekat RSJ Jambi)


[*] Siapa yang tidak ingin anaknya berhasil. Ingin nak…

*orang miskin itu ya seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: