Aku Benci Kuala Lumpur

Langkah wanita separo baya itu terhenti seketika di depan pintu kamar yang ia tuju. Tangannya dengan posisi siap mengetuk pintu terhenti begitu saja ketika pelan tapi pasti terdengar isak tangis dari dalam. Tidak cukup yakin dengan apa yang ia dengar, ia tempelkan kupingnya ke daun pintu untuk meyakinkan bahwa yang sayup-sayup ia dengar adalah tangis bukan nyanyian atau suara tivi. Ternyata benar ia yakin itu adalah tangis. Tangis si sulung, Nancy Shaliza. Semakin lama semakin terdengar dan semakin menyesakkan dada. Ada apa gerangan?

”Izaa…” dipanggilnya halus dan lembut bersama tiga kali ketokan di daun pintu. Lama tidak terdengar suara dari dalam. Suara tangis tiba-tiba hilang, namun tidak ada sahutan hingga diulanginya lagi beberapa kali dan beberapa ketokan.

”ya maa…, tunggu sebentar” suara gadis itu dari dalam sambil berlari menuju kamar mandi.

”kok lama jawab Mama tadi. Yuk makan, papamu udah nungguin dari tadi tuh di meja makan. Kamu gak lapar?” wanita itu penuh curiga melangkah ke dalam. Mencari-cari suar tangis yang baru saja mengilang tiba-tiba. Diam-diam ia perhatikan mata dan wajah anak tersayang. Tidak ditemukan.

”belum ma. Tadi makan roti canai di pasar malam” sahut gadis manis itu dalam Melayu yang kental

”gi mana sudah di isi semua formulirnya?” tanya wanita itu juga dalam Melayu yang santun. Namun yang ditanya tidak menjawab tapi malah mengalihkan pandangan ke sebuah map biru yang ada di meja riasnya. Sang mama pun mengerti apa maksud anak gadisnya itu. Ia menuju dokumen itu sambil duduk dikursi hias yang ada dihadapannya. Sekilas ia melihat di kaca pantulan wajah yang ternyata tidak lagi muda. Dulu cermin itu masih sangat bahagia menerima gambar wajahnya yang ayu dan cantik. Kini wajah itu mulai dimakan usia, menipis. Tapi cermin itu agaknya beruntung karena tetap tidak kehilangan orang-orang cantik di hadapannya. Silih berganti. Dulu seorang Susan Mohd. Khalil, si dosen muda nan rupawan dan sekarang Nancy Shaliza yang tak mau kalah cantiknya dari sang mama. Wanita itu kemudian membuka map yang berisikan beberapa formulir di dalamnya. Memperhatikan satu persatu kolom-kolom yang terisi. Kemudaian keningnya berkerut, semakin menunjukkan kerut sesungguhnya.

”Iza…ini yang kesekian kalinya kamu lupa megisi tempat lahir kamu. Kenapa harus selalu mama ingatin? Yang lain sudah terisi semua” tanya sang mama tanpa melihat pada puterinya yang duduk di tepi tempat tidur sambil menimang-nimang henfon.

”bukan lupa, tapi…..”

”tapi kenapa, sayang?” sambung wanita itu agak curiga. Gadis itu seakan tidak berani melihat Mamanya. Kepalanya semakin menunduk. Ia sekuat tenaga menahan air mata. Tapi sang mama ternyata mengetahuinya juga.

”Ada apa Iza? Mengapa kamu tidak suka menulis tempat lahirmu sendiri dalam setiap mengisi formulis apa pun dan…?” kalimat itu menggantung.

”cukup ma…, asal mama tahu ini kesalahan sejarah. Dan Iza benci menuliskannya” sambung gadis itu yang semakin tidak terkonrol. Sekarang tidak lagi air mata tapi mulai isak.

Wanita di hadapannya pun mulai kebingungan. Mengapa masalah menuliskan tempat lahirnya saja membuat anak sulung itu menangis sedemi kian rupa. Apa yang salah dengan tempat lahirnya. Ia berdiri dan mendekat hendak memeluk sang buah hati. Namun belum sempat ia lakukan, Iza telah terlebih dahulu beranjak menuju jendela yang masih terbuka. Magrib sudah berlalu dibawa malam.

Iza berdiri menghadap jendela menembus hitam malam yang sedikit diterangi rembulan. Matanya nanar menatap entah apa yang ia tatap. Air matanya mulai ia hapus dari pipi halusnya. Wajahnya nan jelita seakan tak terima ada air mata di sana. Lambat ia lanjut bicara.

”Iza benci menulis nama itu. Iza benci…! itu kesalahan mama. Kesalahan sejarah, ma” ucapnya tanpa melihat sang mama yang sekarang duduk dipinggir tempat tidur empuk itu.

”apa yang salah dengan menuliskan ”Kuala Lumpur”. Mengapa kau membenci Kuala Lumpur? Bukankan ini negerimu sendiri?” tanya sang mama tak mengerti

”mengapa Kuala Lumpur? Tidak London?” tanya Iza berbalik

“Apa?”

“Ya…Iza tidak benci dengan Kuala Lumpur. Tapi Iza sedih jika harus menulisnya di setiap formulir. Karena Iza tahu seharusnya Iza punya kesempatan untuk menulis “London” di formulir itu.” Jawabnya masih melihat jauh keluar sana seolah-olah ia ingin terbang menuju kota impiannya itu, London.

“apa maksudmu?” mamanya semakin tak mengerti

”andai saja Mama dan papa mau membuatkan sejarah manis hidup Iza yang membanggakan dan sedikit mau berkorban, Mama tidak akan pulang waktu umur kandungan Mama lima bulan. Mama akan melahirkan aku di kota London. Bukan kah Mama yang sering bercerita betapa indahnya kota itu. Betapa besar dan menawan. Betapa orang-orang sana gagah dan cantik. Kehidupan mewah dan megah. Tapi mengapa Mama tidak mau melahirkan aku di sana. Mengapa harus Kuala Lumpur. Mengapa ma..?”

Wanita yang mulai menua itu mulai mengetahui letak persoalan sang puteri. Senyum sedikit getir. Dia pun mulai memutar balik sejarah hidupnya. Bak me-rewind vidio kaset, semua perjalanan hidup itu tampil kembali. Lima tahun hidup di negara Pangeran Charles itu untuk menuntut ilmu ditemai suami tercinta. Namun pada saat lima bulan mengandung anak pertama ia memutuskan untuk kembali ke tanah air tercinta Malaysia.

”Iza, sayang…” sang ibu menuju anak gadisnya yang masih saja mematung di depan jendela. Sambil mengusap rambut panjang sang anak.

”apa bedanya? Di Kuala Lumpur atau di London kau terlahir, tetap aja dirimu kan? Apa jika kau lahir di London membuat badanmu lebih besar dari sekarang? Sama saja, nak.”

”Tidak ma. Pasti berbeda. Kalo Iza lahir di London mungkin orang-orang tidak akn memanggilku Iza, tapi Nancy…”

”Apa bedanya? Apalah arti sebuah nama? Apa pun namamu kau tidak bisa merubah dirimu. Aku masih tetap Mama mu. Prof. Dr. Nazlim Jalaluddin Abd. Halim adalah papamu. Di manapun kau dilahirkan, siapa pun namamu, apapun kau dipanggil”. Jelas wanita itu sambil menarik nafas panjang.

”kau harus bangga dengan negerimu sendiri, nak. Kau harus bangga dengan Kuala Lumpur-mu. Untuk apa kau harus bangga dengan London, tempat tinggal orang-orang yang telah menjajah datuk-datuk mu.” lanjtnya.

”aku tak peduli, ma. Aku hanya ingin orang lain salut dan menghormatiku ketika membaca tempat lahirku, ”London”. Mereka akan menganggap aku hebat karena aku dilahirkan di luar negeri. Orang-orang juga akan bertanya tentang Mama dan papa. Mereka akan tau kalau Mama dan papa itu orang hebat punya anak yang dilahirkan di luar negeri, apa lagi kota London. Iza inginkan itu ma” sambil memeluk Mamanya.

”Iza…, sudah puluhan tahun Mama belajar dan mengajar tantang penjajah dan penjajah. Tidak ada yang dapat kita banggakan dari negeri penjajah itu, nak. Penjajah tetaplah penjajah seberapa baiknya mereka sekarang terhadap kita yang pernah dijajahnya. Hati penjajah sampai kapan pun tetap busuk. Tidak ada sama sekali yang kita banggakan dari mereka…” jawabnya lembut tapi penuh sinis yang membara.

”tapi Mama sendiri belajar ke sana dan bangga ngoceh dalam Bahasa Inggris. Apakah itu tidak bagian dari kebanggan Mama?” anak gadis itu nampaknya mulai membuka mata. Yah, dia tahun ini akan masuk universitas walau baru hendak mengisi formulir pendaftaran.

Mendapat jawaban itu membuat orang tua itu seakan tersentak sadar, anaknya sekarang tidak lagi anak kecil. Ia sudah pandai membuka mata untuk melihat dunia selain negerinya. Ia mulai dipengaruhi segala macam media yang menyuguhkan keunggulan negara Barat dan Eropa. Negara yang dulu tempat ia menempa ilmu. Walau dengan itu pula membuat ia sangat membenci negera-negara penjajah itu. Dengan ilmu yang ia dapat, ia jadi tahu betapa kejam para penjajah. Dengan ilmu itu ia tahu para penjajah telah banyak merampas negerinya, merampas sejarah, meramapas kebenaran. Para pahlawannya disebut kriminal. Para pejuang kemerdekaan mereka sebut penjahat. Hanya penjajah yang mampu membolak balikkan fakta. Menjungkir balikkan kenyataan.

”iya, Mama belajar di sana. Justru karena Mama belajar di sana makanya Mama tahu. Mama tahu mereka itu semua jahat dan penghianat. Anak ku, banggalah dengan negeri ini. Jujur Mama katakan, waktu seumurmu Mama pernah bangga dengan negara-negara itu. Tapi tidak sekarang. Mama tidak pernah bangga dengan New York London, Paris, Amsterdam, dan sebagainya. Mama bangga memiliki Kuala Lumpur, Jakarta, Bandar Sribegawan, Bangkok, dan negara-negara asean lainnya. Mama tidak ingin kesalahan Mama terulang lagi pada anak Mama. Itu janji Mama”

”kesalahan apa, ma?”

”Bangga kepada negeri penjajah nenek moyang kita adalah sebuah kesalahan. Kesalahan besar”

”tapi Iza gak peduli. Bukankah mereka memang lebih hebat dari kita. Dari negara kita, negara-negara asia? Coba Mama tonton tivi, lihat di internet, baca di koran. Semua bicara kehebatan mereka.”

”Siapa yang bilang mereka lebih hebat? Bohong. Semua itu bohong, sayang. Jika memang mereka lebih hebat dan memiliki segalanya, mengapa mereka datang ke bumi nusantara ini untuk meminta rempah-rempah. Mengapa mereka membawa harta kekayaan nenek moyang kita. Mengapa mereka merampas minyak di Timur Tengah. Itu bukti mereka tidak punya apa-apa. Kita yang memiliki apa-apa. Kesalahan bangsa kita, Bangsa Terjajah Cuma satu yaitu terlalu jujur dan baik hati. Sementara mereka terlalu jahat dan penghianat.”

”Tapi itu kan dulu, ma? Zaman penjajahan. Sekarang kita kan sudah merdeka” sela gadis itu

”Dulu dan sekarang penjajahan itu tetap ada, sayang. Keinginanmu menuliskan ”London” di dalam formulir itu juga bentuk penjajahan. Penjajahan pemikiran. Pemikiranmu, seperti dulu juga Mama waktu muda, yang dijajah mereka. Yang muda memang lebih mudah dijajah. Meraka buat negera mereka eksotik di dalam setiap kepala kita. Padahal sebenarnya omong kosong”

”tapi…”

”Oke,..” potong wanita itu. ”Mama akan tunjukkan semua kenenaran itu. Mumpung masih libur sambil menunggu panggilan dari universitas, Mama akan ajak kamu keliling eropa. Kamu boleh saksikan sendri dengan matamu.”

”Apa..? keliling Eropa? Gak salah ni ma?” Gadis itu seakan meloncat-loncat kegirangan mendengar tawaran Mamanya.

”Upss..tapi dengan satu syarat.”

”apa pun syaratnya, akan Iza penuhi ma. Bantu Mama masak satu bulan juga mau” sambungnya ceria.

”Oke, syaratnya cuma satu, kita harus mengunjungi setiap musium. Mama akan tunjukkan isi musium itu adalah harta benda kekayaan nenek moyangmu. Setuju?”

”Siap boss…” jawabnya sambil mencium pipi mamanya kuat kuat. ”I love you, Mama…” sambil melompat-lompat di atas tempatnya kegirangan. Mimpinya akan segera tertunaikan. Mimpi mengunjungi negara-negara hebat sebagaimana tertanam di dalam benaknya selama ini. Mimpi yang belum tentu mimpi.

Melihat anaknya kegirangan, wanita itupun melangkah meninggalkan kamar itu.

”ups..isi tempat lahirmu di formulir itu dan besok langsung antar ke bagian pendaftaran mahasiswa. Ok. Mama tidak mau lagi melihat bagian itu kosong. Banggalah nak dengan negeri kita sendiri” malngkah sambil menutup pintu kamar itu. Membuka dan menutup pintu dengan tangannya sendiri.

Malaysia, 16 Februari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: