CATATAN PINGGIR PILKADES MENDALO DARAT


Beberapa bulan sebelum perhelatan pemilihan Kepala Desa Mendalo Darat, Jambi Luar Kota, salah seorang tokoh masyarakat di komplek tempat saya tinggal datang untuk berdiskusi. Bapak Yulianto, seorang tokoh masyarakat yang ketokohannya sudah diakui di Desa Mendalo Darat. Singkatnya, beliau akan mencalonkan diri sebagai Kades untuk mengabdikan diri membangun Desa Mendalo Darat. Beliau mengajak saya untuk bergabung di tim pemenangan. Saya bersedia dengan mengajukan beberapa syarat. Di antara syarat itu adalah tidak money politic dan ‘bermain’ jujur. Beliau setuju dan diangkatlah saya sebagai sekretaris tim.

Semua strategi telah disiapkan. Pendekatan dengan masyarakat dilakukan dengan sangat intens. Sambutan masyarakat sangat baik. Sejujurnya, saya pun punya misi ‘khusus’ bergabung dengan tim ini, yaitu memberikan pendidikan politik pada masyarakat desa. Maka di setiap sosialisasi perkumpulan masa saya selalu menyempatkan diri menyampaikan politik uang itu tidak baik, berpolitiklah dengan santun, mari melihat calon pemimpin dari apa yang dia lakukan untuk masyarakat, dan lain-lain. Saya sangat ingin, masyarakat memilih pemimpinnya bukan karena diberi imbalan sejumlah uang.

Ternyata saya salah. Tanggapan positif pada saat mendengarkan ‘ceramah’ saya di setiap pertemuan tidak berbanding lurus dengan suara yang diperoleh. Semua berubah pada hari-hari sebelum pencoblosan. Badai money politic sebelum pencoblosan tidak dapat dihadang. Tim kami yang merasa sudah berjalan di atas jalan yang benar, sekuat tenaga untuk tidak tergoda. Beberapa masyarakat bahkan menelfon saya untuk menanyakan langsung berapa harga suara yang akan diberikan kepada calon yang kami usung. Jika rupiahnya pas, dia nyoblos. Jika tidak, ‘maaf suara saya untuk kandidat lain yang ngasih lebih besar’.

Calon yang kami usung kalah. Penasehat tim yang terdiri dari beberapa orang yang selama ini kami anggap memiliki kredibelitas dan kejujuran di tengah masyarakat tidak ‘dianggap’. Kami pilih tokoh-tokoh yang betul-betul mau ‘bermain’ dengan jujur. Kami bersepakat jika calon ini jadi, akan kami kawal dalam memimpin dan melaksanakan pembangunan desa. Tapi semua itu nampaknya belum bisa dicapai. Kejujuran belum bisa dijadikan landasan berpolitik di negeri ini. Orang-orang yang jujur dan mau berpolitik dengan baik, akan terus tersingkirkan.

Bergabung di dalam tim ini menjadi pengalaman berharga bagi saya. Betapa permainan pilitik di negeri ini sudah sangat mengerikan. Sampai saya pada kesimpulan (kesimpulan pribadi yang tidak bermaksud menyinggung siapa pun), bahwa jika mau jujur jangan berpolitik. Jika mau menang dalam pertarungan politik, jangan jujur. Lakukan berbagai cara; halal dan haram.

Saya sampaikan pada tim, kitalah pemenang itu. Jadilah ksatria dengan mengakui kekalahan dan mengambil hikmah dari semua yang sudah dilakukan. Tidak perlu gugat sana gugat sini, walau pun bukti kecurangan lawan politik ada di tangan. Tidak perlu menghabiskan tenaga dan energi. Jika harus disibukkan dengan gugat menggugat, lantas kapan membangunnya? Kepada yang terpilih tinggal ucapin selamat. Masyarakat pasti sedang menunggu janji-janji politik yang telah disampaikan. Itulah realita politik. Berani menang, berani kalah. Menang dengan bersyukur, kalah dengan berlapang dada.  Semoga.

 

                                                                                                                            

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: