BESOLANG

Besolang (/be-so-lang/ bahasa Desa Paseban), atau yang lebih umum di Kabupaten Tebo disebut ‘Beselang’.  Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, kata ini tidak ditemukan. Pada tulisan ini saya menggunakan kata ‘besolang’  sesuai lidah saya sebagai orang Desa Paseban, Kecamatan VII Koto Ilir, Kabupaten Tebo. Secara harpiah, kata ‘besolang’ bermakna mengerjakan suatu pekerjaan secara bersama-sama untuk pekerjaan yang banyak/berat dan memakan waktu yang lama. Dalam istilah yang lebih sederhana adalah gotong royong. Tapi ‘beselang’ memiliki kekhasan sendiri yang bisa saja tidak dimiliki oleh ‘gotong royong’.

Pada zaman dahulu, semua pekerjaan berladang dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Untuk membuka lahan pertanian (beumo) seperti menebang pohon, membersihkan lahan (land clearing), menanam padi (nugal atau nanjak) dilakukan tanpa menggunakan mesin. Karena pekerjaan semacam ini sangat berat untuk dilakukan sendiri-sendiri maka masyarakat cenderung saling membantu.

Biasanya, setelah ladang siap untuk ditanami padi dan datangnya musim hujan,  mereka datanglah musim ‘besolang’. Besolang nanam padi (menabur benih) atau nanjak / nugal. Seluruh masyarakat kampung diundang untuk bersama-sama terjun ke ladang. Biasanya dilakukan secara bergantian. Minggu ini di ladang Si A, minggu depan di ladang Si B, minggu depan lagi di ladang Si C dan seterusnya sampai semua ladang orang kampung tertanami padi.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengambil beberapa makna dan nilai yang terkandung dari ‘besolang’. Pertama, kebersamaan. Besolang artinya mengerjakan suatu pekerjaan besar secara bersama-sama. Nilai-nilai kebersamaan sangat dikedepankan melalui kegiatan ini. Coba bayangkan, untuk menanam padi di ladang seluas satu sampai dua hektar pasti dibutuhkan waktu yang lama jika dikerjakan sendiri atau sekelompok orang saja. Namun dengan ‘besolang’, ladang seluas itu bisa dikerjakan dalam waktu sehari. Kerja yang berat jadi ringan. Waktu yang lama jadi singkat; efektif dan efisien.

Kedua, kekeluargaan. Rasa senasip sepenanggungan yang bermuara pada nilai-nilai kekeluargaan sangat menonjol pada kegiatan ‘besolang’ ini. Selama kegiatan ini berlangsung, semua kegiatan dilakukan bersama-sama. Makan, minum, istirahat, ibadah, dan lain sebagainya dilakukan secara bersama. Ukhuwah didikat erat satu sama lain.

Ketiga, kesamaan tujuan. Tidak ada orang yang ikut ‘besolang’ yang memiliki tujuan lain selain membantu satu sama lain. Seluruh orang yang terlibat pasti memiliki satu tujuan. Tidak ada pula yang sengaja ikut tapi tidak membantu. Jika pun ada, biasanya mereka akan malu sendiri dengan orang yang lain.

Keempat, pembagian tugas. Pada kegiatan ‘besolang’, tidak semua orang melakukan pekerjaan yang sama. Masing-masing orang memiliki tugas sendiri-sendiri. Ada yang nanjak/nugal, ada yang menabur benih (monih), ada yang menyiapkan makan, ada yang menyiapkan minuman, dan lain sebagainya. Masing-masing orang memilih sendiri tugas yang mereka lakukan tanpa harus dikomando secara berlebihan. Semua orang dengan sadar melaksankan tugas masing-masing secara serentak dan massif.

Kelima, media komunikasi.  Pada masanya, masyakata belum memiliki alat komunikasi yang masif seperti media social saat ini. maka kegiatan ‘besolang’ ini adalah satu media komunikasi masal yang mereka gunakan. Sambil mengerjakan pekerjaan besolang, biasanya mereka memperbincangkan banyak hal, dari personal hingga masal. Tidak jarang pula dijadikan musyawarah untuk membincangkan kemajuan desa atau dusun. Bagi pemuda dan pemudi, tidak jarang pula pada musim ‘besolang’ ini merka manfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain. Budak bujang ketemu budak gadis.

Itulah sedikit makna dari ‘besolang’. Kata yang sederhana tapi memiliki makna yang luas. Walau belum masuk ke dalam kamus, tapi jauh sebelum kamus itu ada kata ini sudah hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Kamusnya adalah mulut masyarakat sendiri. Semoga penjelasan ini bermanfaat. Besolang adalah budaya kito. Ayuh lestarikan budaya besolang…!

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Kalo bahasa kami, bahasa Desa Mandiangin, kabupaten Sarolangun, itu “Baijon”, Pak. tapi, unfortunately sekarang kata “baijon” maupun “besolang” sudah tergantikan oleh kata “Ketring” alias “Nyewa-orang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: