LOGO UIN STS JAMBI

Logo ini merupakan peserta sayembara Logo UIN STS Jambi, tapi belum terpilih sebagai pemenang. LOGO UIN 1

Iklan

PESERTA SAYEMBARA LOGO UIN STS JAMBI

LOGO UIN 1

Selamat kepada pemanang lomba sayembara Logo UIN STS Jambi yang telah ditetapkan oleh Senat pada Hari Minggu, 14 Mei 2017.

Walaupun tidak terpilih, logo yang kami buat ini paling tidak sebagai bukti telah berkontribusi pada sayembara ini. Berikut logonya.

KETERANGAN DAN MAKNA LOGO

 KUBAH MESJID

Kubah masjid melambangkan keagungan Islam. Mesjid adalah pusat aktivitas ummat Islam. Dengan diletakkannya kubah masjid pada logo ini, memberi makna bahwa UIN STS Jambi selalu bernaung di bawah kagungan Allah sekali gus mencerminkan visi UIN STS Jambi yaitu “Menjadi Perguruan Tinggi yang Responsif, Inovatif dan Kompetitif yang ISLAMI” Kubah masjid ini mewakili kata ‘Islami’ pada misi tersebut.

KOIN EMAS:

Titik huruf ‘I’ pada bacaan UIN berbentuk ‘koin emas’ yang merupakan representasi dari nadi perekonomian.  Uang dan emas memiliki nilai dan harga yang tinggi sebagai penggerak perekonomian masyarakat. Maka dari itu koin emas ini akan menjadi distingsi keilmuan yaitu  ‘ISLAMIC ENTREPRENEURSHIP’.

PENA:

Pena melambangkan aktivitas akademik dalam hal tulis menulis (penerbitan). Menulis adalah hal yang sangat mencirikan kaum akademisi. Dengan lambang ini, UIN STS Jambi akan melahirkan ULAMA dan INTELKTUAL tanpa mengabaikan khasanah Budaya (ULIYA). Pentingnya keberadaan pena ini juga terdapat dalam Al-Quran sekali gus nama salah satu surah yaitu Al-Qolam. ‘Nuun, Walqalami Wamaa Yasthuruun ~Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis’

KITAB / BUKU

Terdapat Kitab atau buku yang terbentang luas untuk melambangkan sumber ilmu pengetahuan. Hal ini juga terdapat pada logo IAIN STS Jambi sebelum bertransformasi menjadi UIN. Artinya, loga UIN ini tidak meninggalkan apa yang menjadi penting pada IAIN STS Jambi sebelumnya. Bukan buku kecil tapi bentangan yang sangat luas dibuat untuk menunjukkan betapa UIN STS Jambi akan menjadi sumber ilmu tidak hanya bagi masyarakat Jambi tapi seluruh penduduk dunia (global).

KAPAL BERGERAK

Jika diperhatikan dengan cara saksama, di dalam logo ini terdapat kapal besar yang tampak dari depan. Kapal melambangkan wadah bagi civitas akademika UIN untuk mencapai tujuan bersama. Kapal ini berwarna hitam yang menunjukkan kekokohan dan pantang menyerah. Kapal juga merupakan perhimpunan untuk menjalin persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan yang sama. Dilihat dari kondisi air di bawah kapal tersebut, jelas menggambarkan kapal tersebut sedang bergerak kencang. Pergerakan itu melambangkan UIN STS Jambi sebagai perguruan tinggi yang RESPONSIF, INOVATIF, DAN KOMPETITIF.

KERIS SIGINJAI

Keris Siginjai adalah pusaka negeri Jambi. Secara historis, Keris Siginjai adalah milik Rangkayo Hitam yang sangat terkenal dengan kehebatan dan keberaniannya melawan ‘penjajahan’. Rangkayo Hitam menolak memberikan upeti kepada raja Mataram. Lambang ini akan memberi semangat juang kepada civitas akademika UIN STS Jambi untuk terus menegakkan kebenaran dan melawan segala bentuk penjajahan. Keris dan Pena adalah dua senjata ampuh untuk melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar’

SUNGAI

Salah satu kebanggaan masyarakat Jambi adalah Sungai Batang Hari. Sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Lebih dari itu, banyak makna yang dapat diamabil dari sungai. 1). Air adalah sumber kehidupan. Mahluk hidup tidak bisa hidup tanpa air, bahkan 70% dari tubuh manusia adalah air. 2). Aliran air sungai akan terus mengalir sampai muara. Ini melambangkan keberlangsungan (kontinuitas). Inilah yang akan melambangkan keberlangsungan ilmu pengetahuan yang akan terus menerus mengalir sehingga membentuk PARADIGMA SUNGAI ILMU.

TULISAN ‘UIN’ dan WARNA

Tulisan ‘UIN’ dan dominasi  warna hijau keseluruhan logo  identic dengan Islam sebagaimana juga warna yang tedapat pada logo Kemeterian Agama (Ikhlas Beramal).

E-KTP; MALAPETAKA KECURANGAN PILKADA

 

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya berpikir positif bahwa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017 yang baru saja kita lalui di berbagai daerah tanpa kecurangan dan kejahatan. Berjalan lancar, aman, dan damai.

Namun tentunya bukan pula tanpa cela. Melalui artikel singkat ini, tidak salah pula saya mencoba sedikit memberi gambaran betapa lemahnya sistem yang kita bangun sehingga celah untuk melakukan kecurangan itu ternyata belum tertutup rapat. Bahkan, celah itu menganga lebar. Apakah kemudian celah itu dimanfaatkan atau tidak, tentu kita serahkan pada pihak-pihak yang berwenang untuk menanganinya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, “ada celah”.

Salah satu celah besar yang terbuka lebar itu menurut pengamatan saya adalah penggunaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) sebagai salah satu alat sah untuk melakukan  pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Penggunaan E-KTP ini dijadikan ‘pengganti’ C6 bagi mayarakat yang tidak memilikinya. Sekilas nampak sangat akomodatif terhadap pemenuhan hak pilih masyarakat. Dengan penggunaan E-KTP masyarakat masih bisa menyalurkan hak konstitusinya walaupun tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT), atau tidak mendapatkan undangan dari penyelenggara (C6).

Namun demikian, disadari atau tanpa disadari, ternyata kesempatan ini sangat mudah untuk disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kecurangan dan mencederai demokrasi bangsa ini.

Begini, salah satu keunggulan KTP elektronik adalah dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi. Pada konteks Pilkada ini, ternyata keunggulan ini adalah kelemahan terbesar yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan oleh oknum-oknum tertentu.

Karena sifatnya ‘elekronik’, maka E-KTP hanya bisa diketahui keaslian dan validasi data yang tersimpan harus dilakukan secara elektronik (komputerisasi). Artinya, kasat mata orang tidak akan bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. E-KTP dilengkapi dengan biometrik dan chip.

Celakanya, adakah setiap TPS disediakan alat pengindai (scan) atau komputer yang tersambung dengan jaringan internet untuk pengecekan atau validasi E-KTP yang dimiliki oleh calon pemilih? Itu artinya, KPU harus menyediakan komputer sebanyak TPS yang ada. Bagaimana dengan TPS yang tidak memiliki jaringan internet? Fakta yang ada, jangankan jaringan internet, beberapa daerah bahkan belum memiliki kabel listrik.

Bisakah E-KTP dipalsukan? Di negeri ini apa yang tidak bisa digandakan? Semua bisa ditiru! Dengan kecanggihan teknologi di bidang percetakan, rasanya tidak akan kesulitan jika hanya membuat tiruan KTP Elektronik yang ada. Sudah dapat dipastikan mata manusia memiliki keterbatasan untuk menentukan mana yang asli dan mana yang palsu. Jangankan KTP, uang saja yang sehari-hari diraba pun masih banyak yang tertipu oleh yang ‘aspal’ (asli tapi palsu).

Dampaknya? Karena banyaknya yang menggunakan KTP Elektronik tanpa terdaftar di DPT, surat suara yang disediakan tidak mencukupi. Apakah mereka menggunakan E-KTP palsu? Itu bukan tugas saya. Kita serahkan saja kepada pihak-pihak yang berwenang untuk mengurusnya. Pada poin ini, saya ingin mengatakan bahwa habisnya surat suara di TPS belum bisa dijadikan indikator naiknya partisipasi masyarakat. Ini sebuah hipotesa yang masih dangkal dan perlu diuji kebenarannya.

Akhirnya, saatnya kita kembali mengevaluasi diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang.  Kita menyadari bahwa demokrasi kita sedang berproses. Tapi jangan biarkan ia berproses menuju kehancuran. Kecurangan itu bisa saja terjadi kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja, dan untuk tujuan apa saja. Namun adalah sebuah kenaifan jika kecurangan itu dibiarkan terjadi begitu saja. Apalagi, jika kecurangan itu memang disengaja! Bongkar! #BNODOC49022017

*Akademisi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi Provinsi Jambi

 

JADILAH PEMENANG DI HATI RAKYAT

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Penelitian di Harvard University menemukan bahwa keberhasilan kerja 85% ditentukan oleh sikap mental seseorang, dan hanya 15% ditentukan oleh kepandaian dan pengetahuan mereka. National Association of Colleges and Employers, Amerika Serikat, juga pernah melakukan survey terhadap 457 pemimpin sukses. Hasilnya mencengangkan! Kepintaran yang ditandai dengan Indeks Prestasi (IP) tinggi ternyata bukan faktor utama dalam mencapai kesuksesan mereka. IP dengan angka 3.0 berada pada urutan ke 17 sebagai komponen penting dalam mencapai kesuksesan. Wow!

Inilah urutannya, dari  1 hingga 17, (1)Kemampuan Komunikasi, (2)Kejujuran/Integritas, (3)Kemampuan Bekerja Sama, (4)Kemampuan Interpersonal, (5)Beretika, (6)Motivasi/Inisiatif, (7)Kemampuan Beradaptasi, (8)Daya Analitik, (9)Kemampuan Komputer, (10)Kemampuan Berorganisasi, (11)Berorientasi pada Detail, (12)Kepemimpinan, (13)Kepercayaan Diri, (14)Ramah, (15)Sopan, (16)Bijaksana, (17)Indeks Prestasi. Ternyata cerdas tidak menjamin membawa kesuksesan seseorang.

Apa hubungannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017? Saya ingin mendiskusikan isu ini khusus untuk para peserta Pilkada alias Pasangan Calon (Paslon). Pada artikel terdahulu dengan judul ‘Saya Sudah Tahu Pemenangnya’, saya menegaskan bahwa “Tidak ada yang kalah. Sekali lagi, tidak ada yang kalah! Inilah ‘pertandingan’ unik yang ada hanya ‘pemenang’ tapi tidak ada ‘pecundang”.

Saya merumuskan paling tidak ada tiga kategori kemenangan bagi Paslon. Kategori pertama, pemenang kertas suara. Kategori kedua, pemenang hati rakyat. Kategori ketiga, pemenang kertas suara dan hati rakyat. Semua jadi pemenang.

Kategori pertama bisa diartikan secara administratif mereka mendapatkan suara terbanyak tetapi di tengah masyarakat dia tidak disukai dengan berbagai alasan. Sebenarnya agak aneh. Seyogyanya, jika Paslon ini tidak dicintai oleh masyarakat di daerahnya, maka suaranya juga tidak ada. Tapi, faktanya mereka mendapat suara terbanyak.

Ditengarai, salah satu faktor terjadinya hal ini yaitu suara didapat dengan berbagai kecurangan. Manipulasi data, ‘money politic’, penyalah gunaan wewenang (‘abuse of power’), pemaksaan kehendak, adalah beberapa diantara sekian banyak kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh kertas suara terbanyak.

Paslon yang berada di kategori ini kehilangan simpati masyarakat. Kepemimpinannya biasanya tidak berorientasi pada kepentingan orang banyak tapi lebih pada kekuasaan. Libido kekuasaannya sangat tinggi. Jika mendapatkan kekuasaan dengan segala cara, maka saat berkuasa pemimpin tipe ini dapat dipastikan akan memanfaatkan kekuasaannya dengan segala cara untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Kepentingan rakyat terabaikan.

Kategori kedua, Paslon tidak mendapatkan kertas suara terbanyak, tapi mereka menjadi pemenang di hati rakyat. Secara administratif, Paslon kategori ini belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemimpin di daerahnya. Namun, secara sosial kemasyarakatan mereka memiliki wibawa dan harga diri. Mereka dihormati dan ditaati.

Pada kategori ini, Paslon tidak menjadikan Pilkada sebagai ladang permusuhan dan kebencian. Kertas suara tidak pula dijadikan alat untuk membenci pihak lain. Kertas suara hanya instrumen untuk menentukan perolehan kesempatan secara adminitratif dalam Negara demokrasi. Mereka tidak pernah merasa rugi dan tidak pula mau merugikan orang lain. Bagi mereka kekuasaan harus diperoleh dengan cara yang benar. Kebenaranlah yang  berkuasa atas diri mereka. Kata lainnya, ‘legowo’.

Kategori ketiga adalah kondisi ideal. Kertas suara terbanyak, hati rakyat didapat. Masihkah ada? Optimis ada! Yakinlah masih banyak anak-anak negeri yang memiliki hati nurani dengan tulus membangun negeri. Pada kategori ini Paslon betul-betul mampu meyakinkan masyarakatnya bahwa mereka layak untuk diberi kesempatan memimpin. Maka suara yang mereka peroleh di dapat dengan cara yang benar di atas kebenaran. Kategori yang ketiga inilah sesungguhnya yang dimpikan oleh masyarakat saat ini.

Berpikiran positif (positive thinking) saja bahwa Pilkada kali ini kita telah mendapatkan pemimpin kategori yang ketiga ini. Pada kategori yang ketiga ini, paling tidak mereka memerlukan keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain (Inter-Personal Skill), dan kepiawaian dalam mengatur dirinya sendiri (Intra-Personal Skill). Seorang pemimpin tidak hanya mengandalkan kecerdasan (IQ) tapi juga harus mampu memenangkan hati rakyatnya.

Kesimpulannya, kembali ke teori di atas, dari 17 komponen yang disampaikan, ternyata kemampuan komunikasi menempati urutan pertama dan diikuti oleh kejujuran/integritas. Paling kurang, dua komponen papan atas inilah yang dapat dijadikan ‘alat’ untuk memenangkan hati rakyat. Paslon yang berpegang teguh pada komponen-komponen ini, boleh jadi dia tidak menang kertas suara, namun menang di hati rakyat. Selamat. #BNODOC48022017

*AkademisidanKetuaKomunitasPemiludanDemokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.

MENGAPRESIASI PARA PENGABDI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Proses pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 di Kabupaten Tebo, Sarolangun, dan Ma. Jambi sejauh ini berjalan dengan baik dan sukses. Baik dan sukses tanpa menapikan segala kekurangan-kekurangan yang perlu dievaluasi dan dibenahi di masa yang akan datang. Paling tidak satu tahapan krusial sudah terlewati. Masyarakat telah mendapatkan haknya untuk menyalurkan suara sesuai hati nurani. Hak konstitusi telah ditunaikan.

Untuk menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang di tiga kabupaten tersebut, kita tunggu saja pleno dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ketok palu KPU adalah penentu sah yang telah diatur oleh perundang-undangan. Jika sekarang banyak beredar angka-angka dari perhitungan cepat (‘Quick Count’), itu cukup dijadikan gambaran awal. Alat untuk mengira-ngira. Harus dicatat, perkiraan bisa salah, bisa benar.

Artinya, masyarakat juga dihimbau untuk memahami bahwa jika perkiraannya salah jangan marah. Silahkan saja berpegang pada perkiraan masing-masing. Tidak ada yang salah. Yang salah jika perkiraan-perkiraan itu dianggap hasil final. Kesimpulan akhir tetap pada ketok palu KPU.

Biarkanlah segala proses itu berjalan sebagaimana mestinya. Para Paslon, Timses, dan masyarakat luas dihimbau untuk saling mengawasi proses ini hingga berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Pilkada damai adalah impian kita semua. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berkontribusi pada negeri ini.

Lihatlah pada proses pemungutan suara yang lalu. Angka-angka yang sampai di tangan anda saat ini adalah buah perjuangan berbagai pihak yang telah menyumbangkan pengabdian terbaik mereka untuk bangsa dan Negara ini. Di beberapa daerah, di tiga kabupaten tersebut, memiliki tempat pemungutan suara (TPS) yang jauh dan sulit. Para penyelenggara bersama berbagai pihak terkait telah menghibahkan pengabdian terbaik mereka demi kedaulatan rakyat di negeri ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak berani merinci pihak mana saja, kerena khawatir ada yang tidak tersebutkan padahal pihak mereka juga melakukan perjuangan yang sama.Takut ada yang iba hati. Cukuplah saya sebut “penyelenggara dan berbagai pihak terkait” untuk mewakili siapa saja yang telah memberikan sumbangan terbaiknya untuk bangsa ini.

Dua hari ini beredar foto-foto dan video para penyelenggara yang terlibat dalam mendistribusikan dan menjemput kotak suara yang menampilkan perjuangan yang penuh nilai-nilai heroisme (kepahlawanan). Di Kabupaten Tebo dan Kabupaten Sarolangun misalnya, kita ‘menyaksikan’ perjuangan panjang mereka bertungkus lumus menyelamatkan kotak suara. Kondisi alam yang ‘menantang’ tidak sedikitpun menyurutkan semangat untuk berjuang.

Lihatlah dan rasakanlah apa yang telah mereka lakukan. Mereka harus melewatkan malam di tengah hutan belantara. Tidur beralaskan lumpur, beratapkan langit, berselimutkan angin malam. Binatang buas mengintai, siap memangsa setiap saat. Hujan dan lumpur diterpa. Bukit dan lurah dijelajah. Arus sungai nan deras diarungi. Anak istri ditinggal. Upah yang didapat tidak seberapa. Salam hormat!

Merekalah para pejuang demokrasi. Sebuah perjuangan yang sudah sepantasnya mendapat apresiasi.

Anda sendiri? Jangan lupa pertanyakan, apa yang telah anda berikan? Saya juga yakin anda telah berbuat sesuai kemampuan dan porsinya masing-masing untuk bangsa dan Negara ini. Maka dari itu, tidak ada pilihan buat kita kecuali saling bahu membahu, bersatu padu dalam segala bentuk perbedaan yang kita miliki. Kita memang harus membangun jiwa-jiwa kesatria.

Jika masing-masing kita telah membulatkan tekad untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, lantas apa yang perlu kita ributkan? Siapa pun yang nantinya terpilih menjadi pemimpin melalui Pilkada ini, merekalah hasil kerja keras kita semua. Maka jangan nodai perjuangan itu dengan permusuhan dan kebencian.

Akhirnya, saatnya kita mengapresiasi para pengabdi. Betulah apa yang sudah disampaikan oleh John F. Kennedy, “Ask no what your country can do for you. Ask what you can do for your country”. Artinya, tidak perlu banyak tanya, tapi berikanlah pengabdian terbaikmu untuk negeri ini. Saatnya mengapresiasi para pengabdi. Terima Kasih Para Pejuang Demokrasi! #BNODOC47022017

*AkademisidanKetuaKomunitasPeduliPemiludanDemokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.

 

‘KAMBING HITAM’ PARTISIPASI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada seminar-seminar motivasi, untuk menggambarkan betapa pentingnya sebuah tujuan, saya membuat sebuah analogi jalan kaki. Saya bertanya, “Di tengah teriknya matahari siang, mau kah anda jalan kaki dari Mendalo ke Pasar Angso Duo (lebih kurang 20 KM)?”. Peserta seminar biasanya spontan menjab “Tidak!” dengan berbagai alasan. Alasan-alasan yang pasti muncul adalah capek, malas, letih, panas, gak kuat, takut sakit, dan seterusnya. Alasan yang logis dan dapat diterima.

Dengan kondisi yang sama, pertanyaannya saya tambahkan, “Di tengah teriknya matahari siang, mau kah anda jalan kaki dari Mendalo ke Pasar Angso Duo (lebih kurang 20 KM)? Sesampai di sana anda langsung mendapatkan uang tunai satu miliar, rumah seharga tiga miliar, mobil mewah seharga satu miliar, umroh bersama keluarga tiga kali, dan…”. Belum selesai menyebutkan apa yang mereka dapatkan, biasanya semua peserta sudah berteriak-teriak “Mau!”.

Apa yang merubah ‘tidak’ menjadi ‘mau’ dalam kondisi yang sama? Itulah kekuatan impian dan tujuan. Ternyata tidak ada malas, capek, letih, panas, takut sakit, dan semua kendala itu ketika seseorang tahu betul apa yang diadapatkan dari apa yang ia lakukan. Tapi harus ingat, impian itu harus lebih besar dari segala kendala yang dihadapi.

Pada artikel ini, saya ingin mendiskusikan tingkat partisipasi masyarakat dalam melaksanakan hak suaranya pada perhelatan Pilkada 2017 ini. Ditengarai, ada beberapa daerah yang partisipasinya dirasa menurun disebabkan oleh hujan.Di Kabupaten Sarolangun, misalnya, Pj Bupati terang-terangan menegaskan hal ini, “Dari pantauan kami, partisipasi pemilih menurun jika dibandingkan pada Pilgub beberapa waktu lalu. Untuk Pilkada kali ini partisipasi pemilih diperkirakan hanya mencapai 70 persen. Karena tadi itu sampai jam 10.30 WIB di sini masih hujan. Mungkin inilah yang menjadi factor utamanya“.(imcnews.id).

Benarkah hujan menjadi factor utamanya? Hal ini menjadi menarik ketika kita hubungkan dengan tingkat motivasi masyarakat dalam melihat pentingnya menyalurkan hak suara mereka. Jika dipasangkan dengan analogi di atas, masyarakat belum menemukan alasan yang kuat mengapa mereka harus menyalurkan hak suara mereka.

Artinya, kendala hujan jauh lebih besar atau lebih berat dari apa yang ingin mereka dapatkan. Karena dapat dipastikan, sebesar dan seberat apa pun halangan dan rintangan yang dihadapi, jika mereka memiliki motivasi yang besar pasti mereka akan lakukan. Jangankan hujan gerimis, badai dan petir pun akan mereka ‘lawan’ untuk sampai ke kotak suara.

Jika begitu, paradigmanya harus diubah. Jangan ‘kambing hitamkan’ hujan. Bukan rintangannya yang harus diatasi tapi motivasi masyarakat akan pentingnya pemberian hak suara yang harus dipertinggi.

Alam adalah kehendak Allah. Siapa yang hendak melawan kehendak Allah? Ada yang bisa menahan hujan?Ada yang mampu menghentikan badai? Ada yang kuat mengeringkan banjir seketika? Rasanya, tidak. Sekali lagi, bukan alamnya yang harus dipersalahkan, tapi mental masyarakat yang harus kita benahi.

Pada konteks ini, tugas besar kita semua adalah menanamkan impian yang besar kepada Pilkada. Jikalah bernar, turunnya partisipasi yang disebabkan oleh hujan, maka tanda bahwa masyarakat belum memiliki asa yang besar terhadap Pilkada. Pilkada baru sebuah seremoni demokrasi. Singkat kata, tingkat kesadaran masyarakat belum terbangun karena mereka tidak mempunyai harapan kepada Pilkada. Mereka belum menemukan manfaat nyata terhadap pemberian suara yang mereka lakukan.

Lebih miris lagi, sebagian masyarakat telah apatis. Jamak kita dengar nada-nada sumbang melantun di tengah masyarakat, “Sudahlah, milih gak milih, nasib kita kan seperti inilah”. Apatisme semacam ini adalah ‘racun’ demokrasi yang menggerogoti.

Apa obatnya? Membangun impian dan harapan. Semua orang di negeri ini harus memiliki optimism yang besar terhadap proses demokrasi bangsa yang sedang dijalani. Antar anak bangsa harus saling menguatkan dan memotivasidiri. Dengan cara inilah masyarakat akan memberikan partisipasinya dengan menghadapi segala aral yang melintang.

Akhirnya, pepatah lama berbunyi “muko buruk, cermin dibelah”. Cerminnya tidak salah dan jangan dipecah. Memberikan memotivasi dan membangun optimism masyarakat juga memperbesar harapan mereka akan pentingnya penyaluran hak suara jauh lebih bijak dari hanya ‘meng-kambing hitam- kan’ hujan. Tugas siapa? KITA SEMUA. #BNODOA16022017

*AkademisidanKetuaKomunitasPeduliPemiludanDemokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.

SAYA SUDAH TAHU PEMENANGNYA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Jauh sebelum hari ‘H’ pencoblosan, saya sudah tahu siapa yang akan memenangkan Pilkada 2017 di seluruh Indonesia. Siapa? Anda! Ya, andalah yang keluar sebagai pemenangnya. Anda, rakyat Indonesia. Pasangan Calon (Paslon) yang ‘bertanding’ di panggung politik Pilkada hakikatnya adalah representasi dari rakyat negeri ini. Jadi, siapa pun yang diberi kepercayaan dan kesempatan oleh masyarakat, yang menang adalah masyarakat itu sendiri. Maka seharusnyalah kemenangan ini didapatkan dengan penuh kejujuran, integritas dan kewibawaan.

Tidak ada yang kalah. Perhatikan baik-baik. Saya sedang berbicara paradigma atau sudut pandang. Ini penting untuk dipahami karena jika sudut pandang anda salah, ibarat mengambil sebuah foto, objek sebagus apa pun tetap tidak indah dilihat. Dan sebaliknya, seburuk apa pun objek yang ‘dijepret’, jika sudut pengambilannya baik, indah juga untuk dilihat.

Tentang ‘pemenang’ pada konteks pemilu. Ada dua kelompok yang keluar sebagai pemenang yaitu, pertama, kelompok Paslon; dan kedua, kelompok masyarakat. Begini, setiap orang yang sudah disahkan oleh penyelenggara pemilu telah memenuhi persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan untuk menjadi calon pemimpin (Paslon) berarti orang tersebut sudah layak untuk naik ke atas ‘panggung’. Itu artinya semua mereka sudah dinyatakan terbaik dari sekian banyak rakyat lainnya. Nomor berapa pun yang dimiliki, menang.

Pada level ini saja mereka sudah menjadi pemenang. Bersyukurlah. Dari jutaan atau ratusan juta rakyat yang ada di daerahnya, hanya dua, empat, enam, delapan dan seterusnya yang terpilih untuk maju menjadi pasangan calon. Mereka sudah jadi yang terbaik.

Kelompok kedua yang ditetapkan sebagai pemenang adalah masyarakat sendiri.  Pasangan calon nomor berapa pun yang akhirnya nanti diberi kepercayaan dan kesempatan oleh rakyat, pemenangnya tetaplah rakyat yang memilih. Hakikat pilkada adalah untuk menentukan orang yang paling layak memimpin rakyatnya. Mencari pemimpin yang mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Mencari orang yang bersedia menghibahkan dirinya lahir dan bathin untuk kepentingan masyarakat banyak.

Jika begitu, kemenangan yang sesungguhnya adalah kemenangan dalam menentukan pemilihan pemimpin tersebut. Pilkada inilah bentuk kemenangan masyarakat tersebut. Karena, jika pilkada ini tidak sukses maka yang akan rugi adalah masyarakat sendiri. Suksesnya pelaksanaan pilkada ini adalah bentuk kemenangan masyarakat yang sesungguhnya.

Siapa yang kalah? Saya hanya ingin merubah paradigma masyarakat tentang ‘kalah’ dalam konteks Pilkada ini. Tidak ada yang kalah. Sekali lagi, tidak ada yang kalah! Inilah ‘pertandingan’ unik yang ada hanya ‘pemenang’ tapi tidak ada ‘pecundang’.

Pencoblosan yang dilakukan hari ini hanyalah untuk menentukan siapa yang paling layak memperoleh KESEMPATAN memimpin raknyatnya. Artinya, jumlah suara yang diberikan oleh rakyat hari ini adalah bentuk lain dari KEPERCAYAAN yang diberikan kepada Paslon untuk mengemban amanah dan harapan rakyat. Semakin banyak suara yang didapat, semakin besar pula kesempatan yang diberikan. Jumlah suara sama dengan jumalah kesempatan.

Jika bicara ‘kesempatan’ itu artinya kita hanya bicara waktu dan tempat. Jika tidak diberi kesempatan saat ini, berarti ada kemungkinan di lain waktu, atau bahkan di tempat yang lain. Jadi tidak bicara ‘kalah’ dan ‘menang’ yang kesannya membenturkan antara yang ‘baik’ dan yang ‘buruk’. Sekali lagi, mereka semua adalah orang pilihan dan sudah menjadi yang terbaik; PEMENANG.

Maka dari itu, bagi Paslon, tidak ada yang ‘kalah’; yang ada hanya siapa yang lebih dahulu diberi kesempatan oleh masyarakat. Semua paslon sudah jadi pemenang namun mungkin ada yang belum dapat kesempatan dan kepercayaan. Jadilah pemenang sejati yang berjiwa besar, berwibawa, dan memiliki harga diri.

Bagi masyarakat, kemenangan sudah di tangan anda.  Anda telah melaksanakan kedaulatan hak konstitusi dengan menentukan siapa Paslon yang paling anda percaya untuk menunaikan harapan-harapan yang anda miliki sebagai rakyat.

Akhirnya, Pilkada 2017 ini adalah bentuk kemenangan kita semua rakyat Indonesia. Mari merayakan kemenangan ini dengan positif, optimis, saling tersenyum, saling menghormati, bergandengan tangan, berangkulan, dan bersatu padu. Kita adalah Indonesia.  Senyum… #BNODOC450202017

*Akademisi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.