JADILAH PEMENANG DI HATI RAKYAT

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Penelitian di Harvard University menemukan bahwa keberhasilan kerja 85% ditentukan oleh sikap mental seseorang, dan hanya 15% ditentukan oleh kepandaian dan pengetahuan mereka. National Association of Colleges and Employers, Amerika Serikat, juga pernah melakukan survey terhadap 457 pemimpin sukses. Hasilnya mencengangkan! Kepintaran yang ditandai dengan Indeks Prestasi (IP) tinggi ternyata bukan faktor utama dalam mencapai kesuksesan mereka. IP dengan angka 3.0 berada pada urutan ke 17 sebagai komponen penting dalam mencapai kesuksesan. Wow!

Inilah urutannya, dari  1 hingga 17, (1)Kemampuan Komunikasi, (2)Kejujuran/Integritas, (3)Kemampuan Bekerja Sama, (4)Kemampuan Interpersonal, (5)Beretika, (6)Motivasi/Inisiatif, (7)Kemampuan Beradaptasi, (8)Daya Analitik, (9)Kemampuan Komputer, (10)Kemampuan Berorganisasi, (11)Berorientasi pada Detail, (12)Kepemimpinan, (13)Kepercayaan Diri, (14)Ramah, (15)Sopan, (16)Bijaksana, (17)Indeks Prestasi. Ternyata cerdas tidak menjamin membawa kesuksesan seseorang.

Apa hubungannya dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017? Saya ingin mendiskusikan isu ini khusus untuk para peserta Pilkada alias Pasangan Calon (Paslon). Pada artikel terdahulu dengan judul ‘Saya Sudah Tahu Pemenangnya’, saya menegaskan bahwa “Tidak ada yang kalah. Sekali lagi, tidak ada yang kalah! Inilah ‘pertandingan’ unik yang ada hanya ‘pemenang’ tapi tidak ada ‘pecundang”.

Saya merumuskan paling tidak ada tiga kategori kemenangan bagi Paslon. Kategori pertama, pemenang kertas suara. Kategori kedua, pemenang hati rakyat. Kategori ketiga, pemenang kertas suara dan hati rakyat. Semua jadi pemenang.

Kategori pertama bisa diartikan secara administratif mereka mendapatkan suara terbanyak tetapi di tengah masyarakat dia tidak disukai dengan berbagai alasan. Sebenarnya agak aneh. Seyogyanya, jika Paslon ini tidak dicintai oleh masyarakat di daerahnya, maka suaranya juga tidak ada. Tapi, faktanya mereka mendapat suara terbanyak.

Ditengarai, salah satu faktor terjadinya hal ini yaitu suara didapat dengan berbagai kecurangan. Manipulasi data, ‘money politic’, penyalah gunaan wewenang (‘abuse of power’), pemaksaan kehendak, adalah beberapa diantara sekian banyak kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh kertas suara terbanyak.

Paslon yang berada di kategori ini kehilangan simpati masyarakat. Kepemimpinannya biasanya tidak berorientasi pada kepentingan orang banyak tapi lebih pada kekuasaan. Libido kekuasaannya sangat tinggi. Jika mendapatkan kekuasaan dengan segala cara, maka saat berkuasa pemimpin tipe ini dapat dipastikan akan memanfaatkan kekuasaannya dengan segala cara untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Kepentingan rakyat terabaikan.

Kategori kedua, Paslon tidak mendapatkan kertas suara terbanyak, tapi mereka menjadi pemenang di hati rakyat. Secara administratif, Paslon kategori ini belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemimpin di daerahnya. Namun, secara sosial kemasyarakatan mereka memiliki wibawa dan harga diri. Mereka dihormati dan ditaati.

Pada kategori ini, Paslon tidak menjadikan Pilkada sebagai ladang permusuhan dan kebencian. Kertas suara tidak pula dijadikan alat untuk membenci pihak lain. Kertas suara hanya instrumen untuk menentukan perolehan kesempatan secara adminitratif dalam Negara demokrasi. Mereka tidak pernah merasa rugi dan tidak pula mau merugikan orang lain. Bagi mereka kekuasaan harus diperoleh dengan cara yang benar. Kebenaranlah yang  berkuasa atas diri mereka. Kata lainnya, ‘legowo’.

Kategori ketiga adalah kondisi ideal. Kertas suara terbanyak, hati rakyat didapat. Masihkah ada? Optimis ada! Yakinlah masih banyak anak-anak negeri yang memiliki hati nurani dengan tulus membangun negeri. Pada kategori ini Paslon betul-betul mampu meyakinkan masyarakatnya bahwa mereka layak untuk diberi kesempatan memimpin. Maka suara yang mereka peroleh di dapat dengan cara yang benar di atas kebenaran. Kategori yang ketiga inilah sesungguhnya yang dimpikan oleh masyarakat saat ini.

Berpikiran positif (positive thinking) saja bahwa Pilkada kali ini kita telah mendapatkan pemimpin kategori yang ketiga ini. Pada kategori yang ketiga ini, paling tidak mereka memerlukan keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain (Inter-Personal Skill), dan kepiawaian dalam mengatur dirinya sendiri (Intra-Personal Skill). Seorang pemimpin tidak hanya mengandalkan kecerdasan (IQ) tapi juga harus mampu memenangkan hati rakyatnya.

Kesimpulannya, kembali ke teori di atas, dari 17 komponen yang disampaikan, ternyata kemampuan komunikasi menempati urutan pertama dan diikuti oleh kejujuran/integritas. Paling kurang, dua komponen papan atas inilah yang dapat dijadikan ‘alat’ untuk memenangkan hati rakyat. Paslon yang berpegang teguh pada komponen-komponen ini, boleh jadi dia tidak menang kertas suara, namun menang di hati rakyat. Selamat. #BNODOC48022017

*AkademisidanKetuaKomunitasPemiludanDemokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: