PESERTA SAYEMBARA LOGO UIN STS JAMBI

LOGO UIN 1

Selamat kepada pemanang lomba sayembara Logo UIN STS Jambi yang telah ditetapkan oleh Senat pada Hari Minggu, 14 Mei 2017.

Walaupun tidak terpilih, logo yang kami buat ini paling tidak sebagai bukti telah berkontribusi pada sayembara ini. Berikut logonya.

KETERANGAN DAN MAKNA LOGO

 KUBAH MESJID

Kubah masjid melambangkan keagungan Islam. Mesjid adalah pusat aktivitas ummat Islam. Dengan diletakkannya kubah masjid pada logo ini, memberi makna bahwa UIN STS Jambi selalu bernaung di bawah kagungan Allah sekali gus mencerminkan visi UIN STS Jambi yaitu “Menjadi Perguruan Tinggi yang Responsif, Inovatif dan Kompetitif yang ISLAMI” Kubah masjid ini mewakili kata ‘Islami’ pada misi tersebut.

KOIN EMAS:

Titik huruf ‘I’ pada bacaan UIN berbentuk ‘koin emas’ yang merupakan representasi dari nadi perekonomian.  Uang dan emas memiliki nilai dan harga yang tinggi sebagai penggerak perekonomian masyarakat. Maka dari itu koin emas ini akan menjadi distingsi keilmuan yaitu  ‘ISLAMIC ENTREPRENEURSHIP’.

PENA:

Pena melambangkan aktivitas akademik dalam hal tulis menulis (penerbitan). Menulis adalah hal yang sangat mencirikan kaum akademisi. Dengan lambang ini, UIN STS Jambi akan melahirkan ULAMA dan INTELKTUAL tanpa mengabaikan khasanah Budaya (ULIYA). Pentingnya keberadaan pena ini juga terdapat dalam Al-Quran sekali gus nama salah satu surah yaitu Al-Qolam. ‘Nuun, Walqalami Wamaa Yasthuruun ~Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis’

KITAB / BUKU

Terdapat Kitab atau buku yang terbentang luas untuk melambangkan sumber ilmu pengetahuan. Hal ini juga terdapat pada logo IAIN STS Jambi sebelum bertransformasi menjadi UIN. Artinya, loga UIN ini tidak meninggalkan apa yang menjadi penting pada IAIN STS Jambi sebelumnya. Bukan buku kecil tapi bentangan yang sangat luas dibuat untuk menunjukkan betapa UIN STS Jambi akan menjadi sumber ilmu tidak hanya bagi masyarakat Jambi tapi seluruh penduduk dunia (global).

KAPAL BERGERAK

Jika diperhatikan dengan cara saksama, di dalam logo ini terdapat kapal besar yang tampak dari depan. Kapal melambangkan wadah bagi civitas akademika UIN untuk mencapai tujuan bersama. Kapal ini berwarna hitam yang menunjukkan kekokohan dan pantang menyerah. Kapal juga merupakan perhimpunan untuk menjalin persatuan dan kesatuan untuk mencapai tujuan yang sama. Dilihat dari kondisi air di bawah kapal tersebut, jelas menggambarkan kapal tersebut sedang bergerak kencang. Pergerakan itu melambangkan UIN STS Jambi sebagai perguruan tinggi yang RESPONSIF, INOVATIF, DAN KOMPETITIF.

KERIS SIGINJAI

Keris Siginjai adalah pusaka negeri Jambi. Secara historis, Keris Siginjai adalah milik Rangkayo Hitam yang sangat terkenal dengan kehebatan dan keberaniannya melawan ‘penjajahan’. Rangkayo Hitam menolak memberikan upeti kepada raja Mataram. Lambang ini akan memberi semangat juang kepada civitas akademika UIN STS Jambi untuk terus menegakkan kebenaran dan melawan segala bentuk penjajahan. Keris dan Pena adalah dua senjata ampuh untuk melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar’

SUNGAI

Salah satu kebanggaan masyarakat Jambi adalah Sungai Batang Hari. Sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Lebih dari itu, banyak makna yang dapat diamabil dari sungai. 1). Air adalah sumber kehidupan. Mahluk hidup tidak bisa hidup tanpa air, bahkan 70% dari tubuh manusia adalah air. 2). Aliran air sungai akan terus mengalir sampai muara. Ini melambangkan keberlangsungan (kontinuitas). Inilah yang akan melambangkan keberlangsungan ilmu pengetahuan yang akan terus menerus mengalir sehingga membentuk PARADIGMA SUNGAI ILMU.

TULISAN ‘UIN’ dan WARNA

Tulisan ‘UIN’ dan dominasi  warna hijau keseluruhan logo  identic dengan Islam sebagaimana juga warna yang tedapat pada logo Kemeterian Agama (Ikhlas Beramal).

Iklan

E-KTP; MALAPETAKA KECURANGAN PILKADA

 

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya berpikir positif bahwa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017 yang baru saja kita lalui di berbagai daerah tanpa kecurangan dan kejahatan. Berjalan lancar, aman, dan damai.

Namun tentunya bukan pula tanpa cela. Melalui artikel singkat ini, tidak salah pula saya mencoba sedikit memberi gambaran betapa lemahnya sistem yang kita bangun sehingga celah untuk melakukan kecurangan itu ternyata belum tertutup rapat. Bahkan, celah itu menganga lebar. Apakah kemudian celah itu dimanfaatkan atau tidak, tentu kita serahkan pada pihak-pihak yang berwenang untuk menanganinya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, “ada celah”.

Salah satu celah besar yang terbuka lebar itu menurut pengamatan saya adalah penggunaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) sebagai salah satu alat sah untuk melakukan  pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Penggunaan E-KTP ini dijadikan ‘pengganti’ C6 bagi mayarakat yang tidak memilikinya. Sekilas nampak sangat akomodatif terhadap pemenuhan hak pilih masyarakat. Dengan penggunaan E-KTP masyarakat masih bisa menyalurkan hak konstitusinya walaupun tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT), atau tidak mendapatkan undangan dari penyelenggara (C6).

Namun demikian, disadari atau tanpa disadari, ternyata kesempatan ini sangat mudah untuk disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kecurangan dan mencederai demokrasi bangsa ini.

Begini, salah satu keunggulan KTP elektronik adalah dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi. Pada konteks Pilkada ini, ternyata keunggulan ini adalah kelemahan terbesar yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan kecurangan oleh oknum-oknum tertentu.

Karena sifatnya ‘elekronik’, maka E-KTP hanya bisa diketahui keaslian dan validasi data yang tersimpan harus dilakukan secara elektronik (komputerisasi). Artinya, kasat mata orang tidak akan bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. E-KTP dilengkapi dengan biometrik dan chip.

Celakanya, adakah setiap TPS disediakan alat pengindai (scan) atau komputer yang tersambung dengan jaringan internet untuk pengecekan atau validasi E-KTP yang dimiliki oleh calon pemilih? Itu artinya, KPU harus menyediakan komputer sebanyak TPS yang ada. Bagaimana dengan TPS yang tidak memiliki jaringan internet? Fakta yang ada, jangankan jaringan internet, beberapa daerah bahkan belum memiliki kabel listrik.

Bisakah E-KTP dipalsukan? Di negeri ini apa yang tidak bisa digandakan? Semua bisa ditiru! Dengan kecanggihan teknologi di bidang percetakan, rasanya tidak akan kesulitan jika hanya membuat tiruan KTP Elektronik yang ada. Sudah dapat dipastikan mata manusia memiliki keterbatasan untuk menentukan mana yang asli dan mana yang palsu. Jangankan KTP, uang saja yang sehari-hari diraba pun masih banyak yang tertipu oleh yang ‘aspal’ (asli tapi palsu).

Dampaknya? Karena banyaknya yang menggunakan KTP Elektronik tanpa terdaftar di DPT, surat suara yang disediakan tidak mencukupi. Apakah mereka menggunakan E-KTP palsu? Itu bukan tugas saya. Kita serahkan saja kepada pihak-pihak yang berwenang untuk mengurusnya. Pada poin ini, saya ingin mengatakan bahwa habisnya surat suara di TPS belum bisa dijadikan indikator naiknya partisipasi masyarakat. Ini sebuah hipotesa yang masih dangkal dan perlu diuji kebenarannya.

Akhirnya, saatnya kita kembali mengevaluasi diri untuk melakukan perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang.  Kita menyadari bahwa demokrasi kita sedang berproses. Tapi jangan biarkan ia berproses menuju kehancuran. Kecurangan itu bisa saja terjadi kapan saja, dimana saja, oleh siapa saja, dan untuk tujuan apa saja. Namun adalah sebuah kenaifan jika kecurangan itu dibiarkan terjadi begitu saja. Apalagi, jika kecurangan itu memang disengaja! Bongkar! #BNODOC49022017

*Akademisi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi Provinsi Jambi