MENAKAR REASILISASI JANJI POLITIK

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Politicians are the same all over. They promise to build a bridge even where there is no river.” Jika anda peminat politik, anda pasti sudah sangat hapal dengan kutipan Nikita Khrushchev ini. Terjemahanya lebih kurang begini, “Politisi itu sama saja. Mereka berjanji akan membangun jembatan walalupun tidak terdapat sungai”. Walaupun bukan orang yang berlatar belakang ilmu politik, saya bersyukur karena sejak lama bisa banyak belajar dari buku-buku, seminar-seminar dan kegiatan-kegiatan yang berbau politik. Tentang janji-janji politik sebenarnya sejak lama telah menyita perhatian saya.

Janji politik adalah salah satu daya tarik seorang politisi dalam berkompetisi. Dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) misalnya, janji politik adalah kata lain dari ‘jualan’ yang ditawarkan kepada masyarakat luas sebagai calon ‘pembeli’. Artinya, janji-janji politik yang dikemas sedemikian rupa akan mempu mempengaruhi para calon pemilih. Yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa banyak janji-janji itu akan tertunaikan? Jangan-jangan sebagian besar janji-janji itu adalah pepesan kosong.

Katakanlah ada 10 (biasanya lebih banyak lagi) janji yang diumbar ke publik saat kampanye, berapa yang akan terealisasi jika meraka benar-benar terpilih? Dari pengalaman yang sudah-sudah tentu anda sudah memiliki angka sendiri. Saya juga punya. Tapi sebenarnya, bukan angkanya yang menarik untuk dibahas, tapi apa yang mempengaruhi janji-janji itu bisa terlaksana atau tidak terlaksana?

Menurut saya, ada hal yang paling mendasar luput dari perhatian masyarakat selama ini. Masyarakat alfa untuk memisahkan mana yang ‘janji politik’ dan mana yang ‘fantasi politik’. Banyak yang mengira Paslon sedang berjanji, tapi sebenarnya mereka sedang ‘berfantasi’.

Dua hal ini sekilas sama, tapi sesungguhnya sangat berbeda. Persamaannya, sama-sama ‘diobral’ ke tengah masyarakat, sama-sama mempengaruhi calon pemilih, sama-sama ‘untuk’ kepentingan orang banyak bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan, dan seterusnya. Apa bedanya?

Penelasan sederhanyanya, janji politik itu dapat dirumuskan dalam visi, misi dan program kerja. Tiga hal ini menjadi rumusan mutlak yang dapat ditakar reaslisainya. Visi merupakan rumusan ‘puncak’ cita-cita terbesar yang ingin dicapai dalam masa waktu tertentu. Visi bisa dicapai dengan melancarkan beberapa aksi yang terhimpun dalam misi. Misi kemudian di-‘breakdown’ ke dalam program kerja yang terencana, terukur, dan terlaksana.

Untuk mencapai itu, paling tidak harus memenuhi teori dasar manajemen yaitu Perencanaan (planning), Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating), dan Pengontrolan (Controlling). Jika dibuatkan lagi turunannya, maka akan lebih banyak lagi unsur-unsur yang perlu diperhatikan seperti pembiayaan, sumber daya, dan seterusnya.

Dengan demikian, sebenarnya janji politik yang yang diucapkan itu tidak sesederhana yang selama ini dipahami. Mudah untuk diucapkan tapi sesungguhnya tidak gampang untuk direalisasikan. Dampaknya, politisi dan masyarakat terjebak dalam ‘fantasi politik’.

Apa itu fantasi politik? Ya, seperti apa yang disampaikan oleh Nikita Khrushchev di atas. Berjanji membangun jembatan padahal di sana tidak terdapat sungai sama sekali. Janjinya nampak aneh. Lebih aneh lagi, orang yang dijanjiin pun ikut bahagia dengan janji tersebut, hehehe.

Jadi, dapat dirumuskan fantasi politik itu adalah janji-janji yang sesungguhnya tidak mungkin untuk dilaksanakan dengan kaedah-kaedah manajemen yang baik. Tidak ada takaran untuk mengukur realisasinya. Janji-janji yang kedengarannya hebat dan membahagiakan. Janji-janji yang muluk dan membubung.  Mungkin itu yang sekarang tren disebut dengan ‘jambu’ alias ‘janji busuk’.

Jika sekarang masyarakat akan segera menagih janji-janji politik para Paslon yang terpilih, coba lihat sekali lagi. Dulu waktu kampanye mereka sebenarnya ‘berjanji’ atau ‘berfantasi’?

Tapi ingat, bisa saja kemasannya janji-janji politik yang dipenuhi program-program kerja yang ‘wah’ tapi sesungguhnya tidak lebih dari sebuah ‘khayalan’ tingkat dewa. Atau sebaliknya, bisa saja nampaknya membubung tinggi dan tidak mungkin, tapi sesungguhnya dapat direalisasikan dengan nyata.

Jadi, mana yang akan terlaksana? Kita lihat saja, mana Paslon yang berporgram dan mana yang berfantasi. Berita baiknya, mereka adalah hasil pilihan ‘kita’! #BNODOC50022017

*Akademisi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi [KOPIPEDE] Provinsi Jambi