MEMPERKECIL PENJARA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Ketika pecah kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi beberapa hari lalu, semua orang sibuk membicarakan kapasitas penjara tersebut. Lucunya, semua orang seakan sepakat bahwa penjara tersebut harus ‘dimekarkan’ karena sudah over-capacity (kelebihan muatan). Saya katakan, ini pemikiran sesat!

Semestinya, bukan penjara yang harus kita perbesar, tapi jumlah orang masuk penjara yang harus dikurangi!

Saya tidak habis piker mengapa orang-orang sampai berpikir memperbesar penjara. Saya tidak tahu, atau saya yang sesat? Atau saya terlalu anti-mind stream? Beginilah, ada seloko adat Jambi yang berbunyi, “Keruh aek dihilir perikso ke ulunyo. Sena kaek di ulu perikso ke muaro.”Artinya, kita harus mencari akar masalahnya. Jika air sungai itu keruh di hilir, dapat dipastikan telah terjadi sesuatu di hulu yang menyebabkan air itu keruh. Maka, yang dicari adalah penyebabnya bukan menjernihkan air keruh. Karena, bagaimana pun cara menjernihkan air tersebut, jika sumbernya belum diatasi maka akan tetap keruh.

Dengan analogi inilah saya ingin mengajak kita semua untuk kembali berpikir ‘benar’ tentang penjara. Saya katakan, kita perbesar pun kapasitas penjara saat ini, dia akan tetap penuh dan kurang karena orang yang masuk penjara akan terus bertambah. Perbesar lagi, kurang lagi, dan begitulah seterusnya.

Maka dari itu, memperbesar penjara bukan solusi. Sekali lagi, bukan solusi. Bahkan hal ini boleh jadi sebagai indicator negeri ini ‘sarang’ penjahat. Saya berani mengatakan, semakin banyak isi penjara, semakin tidak aman suatu negara. Ada yang salah urus. Ada yang tidak beres.

Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa mereka melakukan kejahatan? Tanya satu per satu warga binaan di dalam lapas tersebut. Berapa orang yang menyatakan dengan sadar bercita-cita ingin menjadi penghuni jeruji besi tersebut? Kalau pun ada pasti sedikit sekali. Selebihnya? Dampak dari kelalaian Negara menjadikan mereka rakyat yang baik.

Bagaimana bisa begitu? Yang paling kasat mata, lihat saja oknum-oknum penegak hukum ‘bersandiwara’. Mafia hokum merajalela. Petugas lapas ‘nyambi’ jualan narkoba. Jaksa jadi makelar perkara. Polisi pandai ‘bermain’ mata. Pemimpin sibuk tebar citra. ASN malas dalam bekerja. Tidak semua, tapi ada. Maka rakyat lebih suka murka dan mencari jalan kepenjara; juga neraka! Harapan hidup mereka terjarah penguasa!

Perhatikan data berikut ini.Pada tahun 2016 silam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis daftar nama-nama negara paling bahagia di dunia dan menempatkan Denmark sebagai sang juara. Denmark-lah Negara terbahagia, terlayak hidup, dan ternyaman di dunia. Lalu, di mana posisi Indonesia? Dalam daftar ini, Indonesia menduduki peringkat ke-79, di bawah Malaysia (49), Thailand (33), dan Singapura (22) (www.kompas.com). Mengapa? Karena Negara kita masih sibuk memperbesar penjara ketimbang mempertinggi harapan hidup masyarakatnya.

Akhirnya, bolehkah kita bermimpi menjadikan Lapas Kelas IIA Jambi menjadi hotel berbintang seperti Hotel Den Gamle Arrest di Kota Ribe, Denmark? Sebuah hotel mewah bekas penjara. Bukan relokasi, tapi karena memang sudah tidak ada yang suka penjara. Rubah pola piker kita sekarang. Sekali lagi, bukan memperluas penjara tapi memperkecil, bahkan menghilangkan penjara di negeri ini. Harus jadi mimpi kita bersama. Amin.

#BNODOC6204032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

 

Iklan

BEGINI CARA KULIAH GRATIS (2)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada artikel sebelumnya sudah saya jelaskan jurus pertama untuk kuliah gratis yaitu dengan mencari Bapak Angkat alias tinggal dengan orang yang mau membiayai kuliah dengan menjadi asisten rumah tangga di rumah tersebut. Bapak Angkat sebenarnya tidak hanya keluarga tapi bisa juga masjid atau musholla yaitu dengan menjadi marbot/garin. Tidak sedikit juga orang-orang sukses di negeri ini yang ‘ngekos’ di masjid dan mushalla. Sekali lagi, dimana ada kemauan di sana ada jalan.

Jurus kedua, kuliah sambil kerja. Kuliah sambil kerja artinya menyediakan waktu antara kuliah dan kerja (Part-time) atau lebih disebut kerja paruh waktu. Ada dua tipe kuliah sambil kerja yaitu, kerja di tempat orang lain sebagai karyawan dan memiliki usaha sendiri.

Di seputaran kampus ada begitu banyak usaha-usaha yang membutuhkan karyawan paruh waktu (part-timer). Kerja setelah pulang kuliah. Usaha-usaha kecil seperti rumah makan, restaurant, kaunter hp, took foto kopi, laundry dan lain-lain bisa dimanfaatkan untuk kerja tanpa harus meninggalkan kuliah.

Atau buka usaha sendiri. Bisa juga membuka usaha patungan bersama teman-teman dengan tetap memanfaatkan waktu luang setelah jam kuliah. Ada begitu banyak peluang usaha yang bisa dibuka di seputaran kampus. Pada malam hari misalnya bisa dengan berjualan minuman ringan seperti kedai bandrek. Bisa dengan membuka usaha jasa reparasi computer, jasa pengetikan, jual pulsa (kuota) internet, dan lain sebagainya.

Beberapa tips yang dapat dilakukan pada jurus ini adalah susun jadwal harian dengan baik. Pembagian waktu sangat penting untuk menyeimbangkan antara kerja dengan kuliah. Masing-masing harus memiliki porsi yang pas. Kurangi waktu keluyuran dengan kawan-kawan di kampus atau di luar kampus. Jam kerja sedapat mungkin tidak mengganggu jam kuliah. Kuliah tetap menjadi prioritas utama. Kuncinya, kreatif dan kerja keras.

Jurus ketiga, berburu beasiswa. Syarat mutlak untuk mengambil jurus ini adalah nilai yang tinggi dan biasanya baru bisa dilakukan pada semester dua atau tiga setelah IP (indek prestasi) dikeluarkan kampus. Secara geografis setidaknya ada 3 tampat untuk berburu beasiswa. Lokal, saat ini hamper semua daerah kabupaten, kota, dan provinsi memberikan beasiswa kepada putra daerahnya.

Nasional, di tingkat nasional tersedia banyak beasiswa baik yang diberikan olehpemerintah mau pun swasta. Saat ini pihak swasta atau perusahaan-perusahaan multi nasional banyak yang menyediakan beasiswa. Internasional, beberapa Negara khususnya Negara maju banyak menyediakan beasiswa kepada seluruh mahasiswa di dunia. Dengan adanya jaringan internet, beasiswa internasional akan mudah ditemui. Syarat mutlaknya adalah kemampuan berbahasa terutama Bahasa Inggris.

Bagaimana cara berburu beasiswa? Cari informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber, baik yang bersifat pengumuman terbuka maupun melalui kontak personal. Siapkan bahan-bahan persyaratan pengajuan beasiswa sebanyak mungkin. Begitu diperlukan langsung bisa dikirim saat itu juga. Jangan pernah bosan mengirim proposal atau pengajuan beasiswa kemanapun. Sekecil apapun peluangnya, ‘sikat’!

Untuk kuliah gratis tanpa biaya orang tua dapat mengambil salah satu jurus ini (Bapak Angkat, Kerja Part-time dan Berburu Beasiswa), atau bahkan ketiga-tiganya. Masing-masing jurus memiliki tantangan tersendiri. Tapi harus diingat, hanya orang-orang yang memiliki keyakinan dan kemauan yang kuat akan mampu menjalankannya dengan penuh optimisme.

Alhamdulillah, saya bangga telah melewati pahit dan manisnya masa perjuangan itu, walaupun perjuangan itu belum berakhir, hehehe. Manis? Ya, untuk merasakan manisnya perjuangan itu kita hanya butuh pikiran (mindset) positif untuk mengambil hikmah yang tersembunyi. Sewaktu SMA, dengan menjadi ‘office boy’, saya bisa membaca koran gratis, tahu banyak tentang birokrasi, mengerti tabi’at kaum petinggi, dan banyak lagi ilmu lainnya. Dengan jadi kacung tennis lapangan, saya tanpa membayar mahal pelatih untuk menjadi juara tennis. Paling tidak saya masih punya ilmu untuk mengajari anak saya bermain tennis sekarang.

Begitu juga waktu kuliah, dengan tinggal bersama Bapak Angkat, saya tahu arti terima kasih dan banyak belajar tentang ‘Mikul Duwur, Mendhem Jero’. Dengan berjualan, saya dapat ilmu pemasaran yang kemudian membuat saya dipercaya sebagai Manajer Marketing sebuah perusahaan besar. Dengan jualan koran, saya bisa membaca Koran gratis  yang membuat saya suka menulis. Saya juga pernah merasakan manisnya kiriman bulanan dari Australia Indonesia Institute – AusAID Scholarship.

Akhirnya, ternyata ada begitu banyak jalan yang terbuka lebar. Dekatlah dengan Allah, kuatkan tekad, dan kerjakeras. Tidak ada kata bersedih hati menjalani dan menghadapi ‘kesulitan’ waktu menuntut ilmu. Optimis! Ingat, pelaut yang tangguh bukan yang dibesarkan di tepi pantai tapi mereka yang mampu melewati ombak dan badai di tengah samudera. Berlayarlah, Sobat!

#BNODOC6103032017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan tinggal di Jambi

 

BEGINI CARA KULIAH GRATIS (1)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya ingin sedikit mengulang apa yang telah saya sampaikan pada artikel “Karena Miskin Saya Harus Kuliah” bahwa kuliah itu bukan persoalan kaya atau miskin. Kunci utamanya adalah keyakinan diri yang kemudian menimbulkan semangat membara. Semangat inilah kemudian disebut tekad yang akan menjadi senjata untuk menghadapi segala halangan dan rintangan.

Ya, saya menyebut dunia perkuliahan itu ibarat ‘medan juang’. Bertempur melawan segala ‘lawan’baik yang Nampak maupun yang tidak nampak. Di medan ‘perang’ inilah segala ketangguhan dan ketahanan diuji. Kekuatan fisik dan non fisik dipertarungkan. Strategi dan taktik diperlukan. Kerja keras, keringat, dan air mata dihibahkan. Itulah mengapa ada yang pulang membawa kemenangan dengan medali selembar ijazah plus air mata bahagia kedua orang tua, sanak saudara. Dan, tidak sedikit pula yang pulang dengan tangan kosong alias gagal (drop out) plus air mata kecewa seisi dunia.

Untuk menghadapi semua aral yang melintang dibutuhkan motivasi untuk mencapai kesuksesan itu. Motivasi berprestasi (achievement Motivation) diartikan sebagai kesuksesan setelah didahului oleh suatu usaha. Prestasi merupakan dorongan untuk mengatasi kendala, melaksanakan kekuatan, dan berjuang untuk melakukan sesuatu yang sulit sebaik dan secepat mungkin (Alhadza, 2003).Kerja keras!

Kuliah dalam kondisi kemampuan ekonomi orang tua yang tidak begitu baik adalah tantangan tersendiri. Namun demikian, harus disepakati, minimal dengan diri sendiri, bahwa ‘kemiskinan tidak boleh dijadikan kambing hitam untuk tidak kuliah’. Maka, bukan ‘kambing hitamnya’ yang dicari tapi solusinya yang harus ditemukan.

Berikut ini saya tawarkan paling tidak tiga jurus kuliah ‘gratis’ tanpa biaya orang tua. Dalam beberapa seminar motivasi pendidikan tips ini saya beri judul “KuliahTuntas, Orang Tua Tidak Diperas”. Tips ini juga berlaku tidak hanya untuk mahasiswa yang tidak dapat kiriman dari orang tua tapi juga bagi yang tidak mau ‘memeras’ orang tuanya setiap bulan. Bahasa lainnya ‘pengemis intelektual’. Mengaku intelektual tapi tiap bulan ‘ngemis’ (minta duit) ke orang tua. Bahkan lebih sadis lagi ‘memeras’ dengan ancaman. Bahasa lainnya lagi ‘teroris intelektual’. Mengaku intelektual tapi tiap bulan membuat orang tuanya merasa ‘terancam’. Siapalagi yang bisa membuat orang lain merasa terancam selain teroris? Hehe.

Jurus pertama, Bapak Angkat. Bapak Angkat itu adalah bahasa lain dari majikan. Tinggal dengan orang yang bersedia membiayai kuliah kita sambil menjadi asisten rumah tangga di rumahnya. Artinya, kita menempatkan diri sebagai pembantu di rumah tersebut. Harus bersedia mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang dibebankan kepada kita seperti mencuci mobil setiap pagi, mengantar dan jemput anak sekolah, mengantar anak les, menyapu halaman, dll.

Ada pantun Melayu yang berbunyi, Kalau pandai berkain panjang // Lebih elok dari kain sarung // Kalau pandai berinduk semang // Lebih elok dari ibu kandung. Maka almarhum ayah saya berpesan: “Nak, jika suatu saat hidup berinduk semang, tidur paling belakang, bangun paling dulu, makan paling akhir”. Pesan ini saya pegang erat.

Bagaimana cara mendapatkan Bapak Angkat? Datanglah kepada orang-orang yang dipercaya di lingkungan tempat tinggal atau kampus untuk mendapatkan referensi  orang-orang yang bersedia menjadi bapak angkat. Usahakan tempat tinggal Bapak Angkat tidak begitu jauh dari kampus. Carilah bapak angkat yang kaya tapi ‘low profile’. Si kaya yang memiliki nurani untuk membantu orang lain dengan tulus. Gali informasi tentang calon Bapak Angkat sebanyak mungkin dari orang-orang yang dapat dipercaya.

Syarat mutlak tinggal menumpang dengan orang lain adalah sopan, ringan tangan, dan rendah hati. Kerjakan sesuatu sebelum diminta (disuruh). Tidur malam paling belakang (setelah memastikan semua pintu sudah terkunci) dan bangun pagi sebelum anggota keluarga bangun (membuka pintu dan jendela dan mengerjakan pekerjaan lain seperti mencuci mobil, membersihkan garasi, dll). Berkomunikasi dengan baik kepada seluruh anggota keluarga termasuk keluarga besar yang tidak tinggal di rumah tersebut. Jangan pernah meminta imbalan terhadap apa pun yang dikerjakan. Ikhlas dan selalu ceria. Jangan pernah mengeluh.

Akhirnya, mudahkah tinggal dengan orang? Tidak mudah. Tapi ingat, ini akan terasa mudah jika kita tahu pasti tujuan yang hendak dicapai. Itulah perjuangan. Pilihannya sederhana, mau sakit empat tahun selama kuliah, atau sakit sepanjang hidup? Bersambung… (2 jurus lainnya).

#BNODOC6002032017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan tinggal di Jambi

 

KARENA MISKIN SAYA HARUS KULIAH

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Sering kita mendengar ungkapan, “saya tidak bisa kuliah karena orang tua saya miskin”. Cara berpikir semacam ini yang harus dirubah! Di berbagai seminar motivasi pendidikan, saya selalu tegaskan “Justru karena orang tua saya miskin, maka saya harus kuliah”.Jangan dibalik! Sudah lah miskin, gak mau kuliah, ya susah.

Sampai detik ini, sepulangnya dari ‘medan tempur’ bernama Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2003 silam, saya telah memberikan ratusan seminar motivasi pendidikan hanya untuk menyampaikan pesan ini. Target dari seminar-seminar itu sangat sederhana; “Jangan jadikan kemiskinan sebagai kambing hitam untuk tidak kuliah!”. Itu artinya lebih kurang 13 tahun sudah saya berjuang (dan akan terus) meyakinkan anak-anak negeri ini, khususnya bagi mereka yang terlahir di tengah keluarga kurang mampu seperti saya, untuk tidak pernah sedikit pun patah semangat dalam menggapai cita-cita melalui pendidikan.

Pendidikan adalah salah satu alat terhebat untuk mencapai kesuksesan. Ya, salah satu. Karena masih banyak alat-alat yang lain. Namun, orang sukses selalu mengikuti sistem yang sudah teruji keberhasilan nya dan yang sederhana. Itulah pendidikan. Di dalam Al-Quran pun Allah menegaskan hal ini pada surah Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Persoalannya adalah “bagaimana mau kuliah jika tidak ada uang?”. Saya kembali tegaskan bahwa “uang bukan modal utama untuk kuliah”. Buktikan saja orang-orang di seputaran kita. Banyak diantara mereka yang memiliki uang berlimpah, tapi gagal kuliah. Tidak sedikit (maaf) anak orang kaya yang putus kuliah. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa kuliah itu bukan persoalan miskin atau kaya!

Saya sudah membuktikannya. Saya bangga terlahir di tengah keluarga yang hebat. Memiliki orang tua yang luar biasa. Kami tidak menjadikan kemiskinan sebagai bencana kehidupan. Kemiskinan adalah nikmat Allah yang harus dimanfaatkan menjadi medan juang. Kami berjuang melawati semua tantangan. Almarhum ayah selalu berpesan “sekolahlah, Nak, setinggi yang kau bisa. Pendidikanlah yang akan merubah nasibmu nanti”.I love you, ayah. Insya Allah ‘rekening’ ayah sudah dikirimi paling kurang di setiap lima waktuku.“Allahummaghfirliwaliwalidayya warhamhumakamarabbayanishaghira”. Amin.

Bagaimana mungkin kuliah tanpa biaya? Saya kembali bertanya, “seberapa yakin anda dengan keberadaan Allah?” Jika anda yakin bahwa Allah itu ada bersama anda, maka jangan pernah khawatir dengan biaya kuliah. Semua jalan akan terbuka jika Allah menghendaki. Secara pribadi, saya tidak pernah bosan untuk mengucapkan ribuan terimakasih kepada banyak orang yang telah dikirim Allah untuk menjadi bagian dari proses perjuangan saya. Saya menyebutnya ‘the God’s Men’. Merekalah orang-orang yang sengaja dikirim oleh Allah untuk membantu saya. Semoga Allah selalu mencurahkan RahmatNya dan menjadi amal kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Jalan menuju sukses itu tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang percaya akan adanya kebesaran Allah dan siap bekerja keras. Jalan itu selalu terbuka bagi orang-orang yang tidak mengenal kata ‘putus asa’ dan tidak pernah menyerahkan hidupnya pada ‘nasib’. Dunia ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang optimis dan penuh semangat untuk mencapai cita-citanya; dunia dan akhirat.

Jadi, apa modal utama kuliah? Keyakinan. Orang-orang pesimis akan membantah ini dengan ucapan, ‘modal yakin dak cukup, bro!’. Saya tegaskan, “sudah lebih dari cukup!”. Keyakinan yang besar akan membentuk pola pikir (mindset) yang positif dan optimisme yang membubung. Mindset yang benar akan menciptakan nilai juang yang tinggi, semangat yang membara. Semangat yang ‘on fire’ akan mampu menghadapi segala rintangan yang menghadang. Pada akhirnya, semua jalan akan terbuka untuk terus terbang menggapai ‘bintang’ di langit.

Akhirnya, saya selalu merumuskannya dengan satu kalimat “SUKSES ITU BUKAN BAKAT, TAPI TEKAD”. Ingat, dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu. Selamat Berjuang!

#BNODOC5901032017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan. Tinggal di Jambi.