SAATNYA JAMBI MEMILIKI TRANSPORTASI MASSA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada tahun 2010 yang lalu saya telah menulis artikel kecil yang berjudul “Jambi Menuju Kota Macet”. Artikel tersebut berangkat dari realita kehidupan msyarakat Kota Jambi. Pada masa itu kemacetan di belum begitu terasa. Namun tanda-tandanya sudah muncul terutama pada jam-jam sibuk. Kemacetan mulai terjadi pada jam-jam tertentu di pusat-pusat keramaian seperti sekolah, perkantoran, dan mall. Tidak meleset, walaupun tidak separah Jakarta, saat ini kemacetan di Kota Jambi mulai menyumbang penyakit stress penduduk Jambi.

Tidak perlu ditanya penyebabnya apa karena jawabannya sudah sangat klasik. Kendaraan bertambah pesat sementara pembangunan jalan tidak merayap. Tidak seimbangnya antara pertumbuhan kendaraan dan pembangunan infrastruktur membuat kepadatan tidak bisa dielakkan. Usaha Pemkot untuk melebarkan beberapa ruas jalan sudah sangat baik dan perlu diapresiasi. Namun agaknya bukan pula tawaran solusi jangka panjang.

Salah satu solusi jangka panjang itu adalah dengan mengatasi sumber kemacetan tersebut. Sumber utamanya adalah satu orang satu kendaraan (‘one man one vehicle’). Itu artinya, jika ada 100 orang keluar dari rumah maka akan ada 100 kendaraan yang harus ditampung oleh jalan. Maka, cara jitu mengatasi kemacetan adalah dengan menyediakan ‘satu kendaraan untuk 100 orang’. Itulah yang kita sebut dengan transportasi massa (mass transportation).

Dengan kondisi kota Jambi yang semakin padat saat ini, sudah saatnya Pemkot serius menyediakan transfrotasi massa. Ada dua angkutan massal yang mendesak untuk disediakan. Pertama, bis sekolah. Kemacetan yang terjadi khususnya di pagi pagi hari disebabkan oleh anak-anak sekolah yang menggunakan sepeda motor dan banyaknya orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah. Bis sekolah adalah solusi tepat untuk mengatasi hal ini. Jika ada kendaraan masal yang mengangkut 1000 siswa setiap harinya, maka akan dapat mengurangi 1000 kendaraan menuju sekolah.

Ditambah lagi, sebahagian besar para siswa tidak dilengkapi dengan surat izin mengemudi (SIM). Dengan bis sekolah akan menurunkan angka pelanggaran lalu lintas oleh para siswa. Dari sisi keamanan, bis sekolah juga akan mengurangi kecelakaan lalu lintas para siswa yang kerap merenggut nyawa.

Kedua, bis umum. Saat ini angkutan umum di dalam kota masih menggunakan Angkot. Sudah saatnya diganti dengan bis dengan daya angkut yang lebih massif dan representatif. Banyak masyrakat tidak mau menggunakan Angkot karena rendahnya faktor keamanan dan kenyamanan. Angkot yang suka ugal-ugalan sering mengancam nyawa penumpang membuat orang ‘ogah’ naik angkot. Belum lagi kenyamanan yang masih jauh dari kata nyaman.

Jika pemkot menyediakan angkutan Bis Kota yang aman dan nyaman, maka dengan sendirinya masyarakat akan lebih suka menggunakan kendaraan umum ketimbang membawa kendaraan sendiri. Dengan demikian beban jalan akan semakin berkurang dan kepadatan jalan raya dapat diurai.

Akhirnya, Pemkot Jambi tidak perlu basa basi lagi sebelum macet semakin menggila di kota kecil ini.  Sudah saatnya menyediakan angkutan umum yang masif dan kondusif. Yakinlah, tidak hanya macet yang dapat diatasi, namun banyak hal positif lainnya yang bisa diperoleh dengan adanya angkutan masal dalam Kota. Sekarang!

#BNODOC7416032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

Iklan

SELAMAT JALAN PEJUANG; MENGANTAR KEPERGIAN Dr. Rizki Taktriyanti, M.Psi

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Terlahir dan mati adalah dua peristiwa yang teramat sangat biasa dan alamiah (sunatullah). Ketika terlahir semua orang, terutama anggota keluarga yang menyaksikan kelahiran itu, tersenyum bahagia karena kedatangan mahluk hidup baru dalam keluarganya. Sebaliknya, ketika meninggal dunia semua orang tersebut kemudian menangis karena kehilangan. Sekali lagi, peristiwa yang sangat sederhana. Dengan kata lain, lahir sama dengan datang dan mati sama dengan pergi. Datang disambut pergi dilepas.

Akan tetapi, ada yang membuat lahir dan mati itu kemudian menjadi tidak sesederhana itu yaitu isi kehidupan rentang waktu dari lahir hingga mati tersebut. Artinya, apa yang diperbuat selama rentang waktu tersebut sangat memberi dampak baik positif maupun negatif terhadap lahir dan mati itu. Hal ini dapat dibuktikan betapa banyak orang-orang besar yang terkenal di dunia ini yang hari kelahiran dan kematiannya tetap dikenang walaupun mereka telah meninggal dunia ratusan tahun lamanya. Hari lahir dan matinya menjadi sangat penting karena mereka berhasil mengisi rentang waktu dari lahir hingga mati tersbut dengan sangat baik.

Hari ini (Rabu, 15 Maret 2017), keluarga besar IAIN STS Jambi dan masyarakat Provinsi Jambi kehilangan satu puteri terbaiknya yang telah berhasil mengisi rentang waktu hidupnya dengan sangat mulia yaitu Dr. Hj. Rizki Takriyanti, M.Psi. Dengan kepakarannya di bidang psikologi, begitu banyak bakti yang telah ia berikan untuk negeri ini khsusnya negeri Jambi. Pasti tidak cukup artikel singkat ini untuk menggambarkannya. Sedikit apa pun itu, sebagai orang merasa kehilangan beliau, izinkan saya menorehkan satu atau dua kata pengiring langkah mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir.

Nama beliau harum dan tercatat sebagai tokoh wanita Jambi yang sangat fokus dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. Darahnya mendidih hebat ketika ada yang mencoba untuk merendahkan kaumnya dan mengabaikan hak anak-anak. Siang dan malam bukan pembatas untuk terus mengabdikan diri. Jauh dan dekat bukan penghalang untuk ia melangkah. Perhatiannya kepada orang lain begitu besar, bahkan lebih besar daripada perhatiannya pada dirinya sendiri. Sisa-sisa umur yang ada telah dihibahkan sepenuhnya untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan.

Rasa sakit yang ia derita seolah tak lagi  ia hiraukan. Buktinya, penyakit yang dititipkan Allah pada dirinya pun tidak membuat ia berhenti melangkah. Tidak pula menyurutkan tekadnya untuk terus menebar ilmu pengetahuan. Suatu waktu, ketika kondisi fisiknya tidak begitu baik namum harus menyampaikan materi seminar, beliau berkata kepada saya “selagi bisa bergerak, tidak akan pernah Ayuk menolak”. Begitulah gambaran dedikasi yang begitu besar telah ia berikan untuk negeri yang ia cintai. Kecintaannya kepada tanah kelahirannya Jambi sangat besar. Ia tiggalkan Jakarta dengan segala apa yang telah ia miliki untuk mengabdikan diri kepada Jambi.

Berbagai jabatan di dalam dan di luar kampus telah banyak yang beliau emban. Pernah sukses dipercaya sebagai Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan IAIN STS Jambi dan cukup lama mengemban tugas sebagai Ketua Pusat Studi Wanita dan Anak. Dan entah berapa banyak dipercaya pemerintah daerah Provinsi Jambi dan Kota/Kabupaten dalam berbagai kegiatan. Dengan semua jabatan itu pula membuat ia begitu dicintai dan disayangi. Begitu banyak pula nilai-nilai yang telah ia tanamkan kepada siapa pun pernah dikenal. Kesederhanaan, keibuan, kelembutan, kasih sayang, dan saling menghargai selalu ia sampaikan dan ia terapkan dalam hidup.

Semua kehilangan. Semua berduka. Siapa pun yang pernah mengenal beliau pasti akan merasa bersedih berpisah dengan orang yang telah begitu besar pengabdiannya untuk orang lain. Namun itulah kematian yang pasti akan menghampiri siapa saja. Kita pun sesungguhnya sedang menunggu antrian untuk menuju tempat yang sama.

Selamat jalan, pejuang! Beristirahatlah dengan tenang di sisi Allah. semua dosa dan khilafmu telah kami maafkan. Boleh jadi hari ini kami civitas akademi IAIN STS Jambi dan seluruh masyarakat Provinsi Jambi kehilangan senyum dan kebersamaanmu. Namun bakti dan jasa-jasamu tidak akan lekang ditelan waktu. Terima kasih tak terhingga atas jasa dan ilmu yang telah diberikan dengan ikhlas selama ini. Semoga semua itu menjadi amal kebaikan yang akan terus menemanimu di alam barzah. Menjadi penerang dan penyejuk. Amin.

#BNODOC7315032017

*Dosen IAIN STS Jambi

 

SISWA BOLOS: MENYOAL POLA ASUH ORANG TUA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Lagi dan lagi sejumlah siswa ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jambi karena berada di warung internet (warnet) dan penyewaan ‘Play Station’ pada saat jam sekolah alias bolos. Seharusnya mereka sibuk dengan pelajaran di dalam kelas bersama teman-teman, tapi malah keluyuran menghabiskan waktu sia-sia. Padahal, di tangan merekalah nantinya estapet pembangunan bangsa ini akan dilanjutakan. Apa yang salah?

Selama ini penanganan siswa yang bolos selalu berorientasi hukuman. Satpol PP menangkap mereka dan kemudian dikembalikan kepada orang tua. Tidak jarang pula mereka digelandang layaknya kaum kriminal. Diminta buka baju, jongkok (kadang tiduran) di lapangan, dan dipermalukan. Diharapkan dari perlakuan (hukuman) semacam ini akan menimbulkan efek jera. Mereka kapok dan tidak akan mengulanginya lagi.

Benarkah demikian? Perlu dikaji ulang! Seberapa efektifkah hukuman yang diberikan kepada siswa yang suka bolos untuk merubah prilaku mereka menjadi lebih baik? Atau jangan-jangan dengan proses ini pula mereka semakin menjadi-jadi. Maka untuk penanganan siswa yang bolos saya rasa tidak bisa disamakan dengan penangkapan terhadap pelanggar hukum lainnya. Merekalah harapan bangsa ini.

Harus dilihat secara komprehensif. Paling tidak ada tiga komponen besar yang sangat berperan dalam menentukan prilaku siswa yaitu orang tua (keluarga), sekolah dan lingkungan. Ketika ada seroang siswa yang tertangkap bolos maka ketiga komponen ini harus duduk bersama untuk mengkaji secara mendalam di bagian mana yang harus dibenahi. Ingat, terkadang seorang siswa bolos atau melakukan kejahatan lainnya bukan karena kehendaknya tetapi ada faktor-faktor luar yang ‘memaksanya’ melakukan itu.

Sudah saatnya mempertanyakan pola asuh orang tua terhadap anak. Orang tua (keluarga) memiliki peran sentral dan vital dalam membentuk prilaku seorang anak. Dalam berbagai seminar parenting, saya selalu tegaskan, jika ada anak yang suka bolos, coba cek kondisi keluarganya. Coba lihat pola asuh yang ia dapatkan. Coba pelajari hubungan anak dan orang tua juga anggota keluarga lainnya. Coba pastikan apakah ia mendapatkan kasih sayang yang sepantasnya ia terima. Perlu penelusuran lebih komprehensif.

Saya rasa hal ini yang abai dilakukan. Salama ini, jika ada siswa yang bolos maka dosa dan kesalahan itu mutlak dibebankan kepada dirinya tanpa melihat faktor-faktor penyebabnya. Padahal, jangan-jangan ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak harmonis (broken home). Atau ia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya sehingga harus mencari ‘kesenangan’ dengan bermain dan keluyuran.

Jika begitu, seharunya Satpol PP tidak hanya menangkap siswa yang bolos tapi juga ‘menghukum’ orang tua yang ternyata ‘gagal’ memberikan pola asuh yang baik terhadap anak. Maka perlu bagi Satpol PP untuk mendapatkan informasi seluas-luasnya tentang pola asuh keluarga tersebut. “Tangkap’ dan ‘introgasi’ kedua orang tuanya. Jangan-jangan yang bermasalah itu adalah orang tuanya.

Akhirnya, hukuman, apalagi dengan memperlakukan siswa bak kaum kriminal, tidak sepenuhnya akan merubah prilaku mereka menjadi lebih baik. Bahkan bisa-bisa sebaliknya. Dikhawatirkan, jika mereka benar-benar merasa dipojokkan, kehilangan harga diri, harapan, dan  masa depan, maka mereka akan semakin terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang tidak baik. Jangan sampai masa depan bangsa ini jatuh ke tangan generasi yang lemah. Maka diperlukan penanganan yang lebih komprehensif terhadap siswa yang bolos.

#BNODOC72032017

*Akademisi dan Master Hypno-Parenting. Tinggal di Jambi

 

MENYELAMATKAN TOKO TRADISIONAL

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Artikel ini merupakan satu kesatuan dengan tulisan yang sebelumnya telah saya sampaikan melalui beberapa media yang berjudul “Toko Tradisional Semakin Tertinggal”. Harus diakui bahwa keberadaan minimarket waralaba yang semakin menjamur di berbagai kota di Indonesia, telah mengancam keberadaan pedagang kecil yang selama ini hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Dengan kekuatan modal (capital) yang besar, keberadaan toko modern berhasil merubah pola belanja masyarakat. Jika selama ini masyarkat suka bertransaksi di warung-warung kecil di lingkungan tempat tinggal mereka, berubah menjadi lebih suka belanja di toko modern dengan alasan kenyamanan dalam berbelanja. Toko modern menyediakan tempat belanja yang nyaman, bersih, dan pelayanan yang baik. Dan sebaliknya, toko-toko tradisional cenderung ‘seadanya’.

Persoalan ini agakanya harus menjadi perhatian pemerintah agar toko modern tidak serta merta ‘membunuh’ pedagang kecil. Para pelaku usaha kecil juga harus dapat tumbuh sebagai sumber penghidupan bagi keluarga. Memang tidak ada yang boleh melarang orang untuk mencari penghidupan di negeri ini selagi tidak melanggar aturan yang ada. Baik yang modern maupun yang tradisional memiliki hak yang sama untuk mencari keuntungan.

Maka, sebagaimana telah saya tegaskan pada artikel sebelumnya bahwa “sesungguhnya bukan minimarket modern yang harus dihadang tapi toko-toko tradisional yang mesti didorong untuk memiliki kualitas yang sama”. Di sinilah campur tangan pemerintah sangat diperlukan untuk membantu para pedagang kecil tumbuh mengikuti kehendak pasar dan  ‘melawan’ serangan toko-toko modern yang semakin menggurita.

Paling tidak, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai instansi terkait. Pertama, permodalan. Sering kali para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terkendala permodalan. Bagaimana mau membuat warung yang bebas debu, ber-AC, indah, dan barang dagangan yang lengkap seperti toko-toko modern sementara modal ‘pas-pasan’. Disinilah uluratan tangan pemerintah melalui berbagai lembaga keuangan yang ada untuk memberikan para pedagang kecil untuk memiliki modal yang cukup.

Kedua, membuat aturan perundang-undangan (perda) yang mengatur keberadaan toko-toko modern sehingga tercipta persaingan yang sehat antara toko modern dengan toko teradisional. Tidak melarang,  tapi mengatur dan menata. Misalnya, adanya aturan yang jelas jarak antara satu toko modern dengan toko yang lainnya. Begitu juga barang-barang yang diperjual belikan diatur dengan jelas. Melalui peraturan daerah bisa diatur apa saja yang boleh diperjual belikan oleh toko-toko modern dan toko tradisional.

Seperti yang saya temukan di Pekanbaru ada toko modern yang menjual siomay, gorengan, rujak, dan lain-lain. Ini tentu akan membunuh tidak hanya warung tradisional tapi juga pedagang gorengan dan  siomai keliling. Dalam waktu dekat, kita tidak akan mendengar suara tek tek tek kentongan tukang siomay lewat di depan rumah. Anak-anak akan rindu teriakan Mang Udin “Siomaaay…”.

Sekali lagi, bukan melarang toko modern menjual apa yang sesungguhnya bisa menjadi sumber penghidupan bagi pedagang kecil tapi mengaturnya sedemikian rupa sehingga masing-masing memiliki domain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kita yakin bahwa masing-masing usaha ini akan berkontribusi untuk menopang perekonomian negeri ini.

Ketiga, pelatihan dan pembinaan. Saya sering terlibat dalam memberikan pelatihan dan pembinaan kepada pelaku UMKM khususnya dalam hal ‘mind-setting programming’. Dua hal yang sangat mereka butuhkan yaitu pengetahuan tentang manajemen (pengelolaan)  keuangan dan kemampuan non teknis (soft skill).  Sering terjadi di lapangan, modal yang diberikan kepada pelaku usaha kecil tidak terkelola dengan baik yang pada akhirnya merugi dan tutup. Begitu juga halnya dengan kemampuan soft skill. Mereka sangat haus akan ilmu-ilmu non tekhnis seperti kemahiran dalam berkomunikasi dan melayani, menjalin hubungan dengan orang lain, membuat jaringan kerja sama, dan lain sebagainya.

Dengan cara-cara inilah tentunya diharapkan toko-toko tradisional dapat bertahan hidup (survival) di tengah hantaman gelombang kaum pemodal (kapitalis). Para pemodal akan memanfaatkan peluang sekecil apa pun yang mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya. Tidak ada larangan orang untuk berjualan siomay, tapi tidak dapat dibayangkan nasip para pedagang keliling jika masyarakat lebih suka makan siomay sambil beli rinso di minimarket modern.

Akhirnya, semua harus mendapat perhatian serius dari pemerintah (daerah) baik yang modern mau pun yang tradisional. Semua memiliki kontribusi untuk bangsa dan negara ini. Maka, dengan pengelolaan yang baik melalui aturan-aturan hukum yang jelas (perda) masing-masing pengusaha dapat dengan tumbuh dengan baik tanpa harus saling ‘bunuh’. Semoga.

#BNODOC7113032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Provinsi Jambi

 

TOKO TRADISIONAL SEMAKIN TERTINGGAL

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya di Pekanbaru. Untuk kepentingan sesuatu saya singgah di sebuah minimarket modern berinisial “Indo”. Para pengunjung memang agak lebih ramai di toko itu. Kali ini saya dikagetkan dengan pemandangan yang tidak biasa. Baru pertama saya menemukan minimarket waralaba ini menyediakan jualan yang tidak lazim.  Toko ini menjual siomai, ayam goreng (fried chicken), rujak, berbagai minuman panas dan dingin, mi instant siap saji dan buah-buahan segar. Di dalamnya disediakan beberapa meja makan untuk pengunjung menikmati menu yang disediakan.

Saya rasa ini merupakan konsep baru. Mereka menyatukan penjualan ‘kering’ dan ‘basah’. Jika selama ini kasirnya hanya melakukan pemindaian (scanner) terhadap kede barang (barcode) yang konsumen beli, sekarang mereka juga bertindak sebagai pedagang siomai, ayam goreng siap saji, mengiris buah-buahan untuk dijadikan rujak, dan meracik minuman panas dan dingin, dan lain-lain. Konsumen pun dapat menikmati makanan yang dipesan di dalam toko yang dingin dan nyaman.

Konsep pasar modern yang serba ada telah memberi kemudahan kepada pembeli. Mereka seakan menjawab seluruh kebutuhan konsumen dengan mudah, nyaman dan bersih. Mereka berhasil memindahkan isi dompet konsumen ke laci kasir dengan senyuman. Konsumen ‘diperas’ dengan mengucapkan terima kasih. Itulah hebatnya, sudah ‘diperas’ masih ngucapin terima kasih pula.

Bagaimana dengan toko-toko tradisional? Tidak menutup mata, toko-toko tradisional mulai ditinggalkan konsumen alias tertinggal. Banyak faktor sebenarnya yang membuat orang lebih memilih belanja di toko modern ketimbang di toko-toko tradisional.

Pertama, kenyamanan berbelanja. Toko modern menyuguhkan tempat belanja yang nyaman dan bersih. Barang-barang jualan terpelihara dengan baik. Coba bandingkan dengan toko-toto tradisional yang sering kali kita membeli barang yang penuh dengan debu. Sudahlah tokonya berdebu tidak nyaman, barang-brang yang dibeli pun tidak pernah dibersihkan.

Kedua, keterbukaan harga. Saya pernah melakukan percobaan kecil-kecilan. Saya membeli sebotol minuman dingin. Hari pertama saya ‘ngegembel’. Pakaian butut, celana pendek, sandal jepit, naik motor. Harga minum yang dijual Rp. X. Hari berikutnya saya datang ke toko yang sama membeli minuman yang sama dengan sedikit merubah penampilan, saya memakai kemeja rapi, bersepatu dan naik motor. Ternyata harga   harga minuman sudah berubah lebih mahal lima ratus rupiah dari hari sebelumnya. Hari selanjutnya, sepulang dari kampus dengan pakaian kantor dan mengendari mobil ternyata beda harganya lebih mahal seribu rupiah dibanding hari pertama.

Sementara di toko modern tidak berlaku pembedaan harga untuk konsumen. Konsumen diperlakukan sama dengan harga yang sama. Harga sudah dipampang di dekat barang sehingga konsumen pun bisa menghitung sendiri isi dompet dengan barang yang akan dibeli. Keputusan ada sepenuhnya di tangan anda sebagai konsumen. Jika ada duit silakan beli, jika tidak cukup dilihat-lihat saja. Fair!

Ketiga, kualitas barang dan layanan. Sering kali kita dapati barang-barang yang sudah kadaluarsa (expired) yang tersedia di toko-toko tradisional. Boleh jadi tidak disengaja. Di toko modern pun sering terjadi namun relatif lebih terkontrol karena perputaran jual beli  barang yang tinggi. Belum lagi bicara layanan, toko tradisional sering kali melayani konsumen dengan tidak baik. Penjual lebih suka cemberut ketimbang senyum tulus melayani pembelinya. Sementara toko modern menempatkan kualitas pelayanan konsumen di urutan pertama.

Saya sangat setuju dengan himbauan untuk berbelanja di toko-toko tradisional untuk membantu para pedang kecil. Tapi apakah konsumen harus mengabaikan kepuasan berbelanja mereka? Maka, jika demikian sesungguhnya bukan minimarket modern yang harus dihadang tapi toko-toko tradisional yang mesti didorong untuk memiliki kualitas yang sama.  Jika ditanya konsumen, pastilah mereka akan memilih tempat berbelanja yang nyaman, bersih dan perlakuan harga yang terbuka.

Akhirnya, tulisan ini tidak dalam rangka mengagungkan minimarket modern tapi mencoba memberi gambaran kepada toko-toko tradisional untuk berpacu memberi layanan dan kualitas barang yang baik kepada konsumen. Saya sangat yakin para pedagang tradisional pun bisa ‘membunuh’ toko-toko modern itu jika mampu menyediakan layanan yang sama bahkan lebih baik. Maka dari itu, jika tidak berbenah diri, jangan marah kalau  pada akhirnya toko-toko tradisional semakin ditinggalkan. #BNODOC7012032017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

JADI DOSEN CEPAT MATI?

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Akhir-akhir ini beredar di kalangan dosen melalui media sosial artikel yang berjudul ‘Kerja Dosen dan Umur Pendek’. Artikel ini ditulis oleh seorang dosen dan Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Moch. Faried Cahyono. Sebenarnya artikel ini bukan baru ditulis tapi sudah dipublikasikan sejak tahun 2006 melalui blog pribadinya.  Bagi para dosen artikel ini cukup menarik perhatian karena menyangkut dengan keberlangsungan hidup mereka. Faried membangun sebuah hipotesa yang monohok bahwa “bekerja sebagai dosen di UGM di jaman kini, bisa jadi bukan pekerjaan yang sehat”. Jadi dosen (di UGM)  bisa cepat mati.

Hipotesa ini dibangun dengan melihat fakta-fakta yang ada. Tidak perlu melakukan penelitian yang canggih, dengan kasat mata bisa dihitung bahwa 4 tahun terakhir (2006) UGM telah kehilangan lebih dari 60 orang dosennya yang mati muda. Mereka meninggal dunia di bawah umur 60 tahun. Tentu saja, kejadian ini tidak mempertentangkan kehendak Allah. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa kematian itu di tangan Allah. Tapi, sebuah fenomena yang terjadi tidak ada salahnya pula menjadi bahan kajian dan renungan bagi ummat manusia. Fenomena dosen mati muda ini harus menjadi renungan bagi para dosen di tanah air.

Banyaknya dosen yang mati muda tidak hanya di UGM tapi dapat dipastikan juga terjadi di rata-rata perguruan tinggi Indonesia. Di tempat saya mengajar misalnya, IAIN STS Jambi, juga terjadi. Beberapa teman dosen seangkatan saya saja sudah banyak yang meninggal dunia di usia yang sangat produktif. Di saat begitu banyak karya dan pengabdiannya dibutuhkan oleh kampus. Di saat anak-anak masih kecil.

Sebegitu mengerikankah? Jika dilihat keseharian dosen, nampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka bekerja mengajar sebagaimana juga para tenaga pendidik lainnya seperti guru yang berada di kelas atau para ustad/ustazah di pesantren. Jika pun ada yang berbeda, itu pasti  melekatnya Tri Dharma Perguruan Tinggi pada dosen. Selain mengajar di kelas, mereka juga dibebankan untuk meneliti dan mengabdikan diri pada masyarakat. Itu pun nampaknya tidak ada yang sebegitu membahayakan. Lantas apa penyebabnya?

Melalui artikelnya, Faried sudah dengan baik merinci beberapa perkara yang disenyalir sebagai pemicu banyaknya dosen UGM yang mati muda. Dari persoalan ekonomi, gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, hingga dampak globalisasi pendidikan. Namun melalui artikel ini, sebagai dosen, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri (syukur-syukur bermanfaat bagi kawan-kawan dosen lain) akan beberapa hal penting dalam menjalankan profesi sebagai dosen.

Pertama, manajemen waktu. Jika ada dosen yang saking padatnya aktivitas hingga lupa waktu. Kedengarannya klise, namun begitulah faktanya. Hari-hari yang dilewati terkadang cenderung mengabaikan hal-hal penting dalam kehidupan seperti mengabaikan waktu makan, waktu istirahat, waktu bersama keluarga, waktu berolah raga, waktu berlibur, dan lain sebagainya. Yang paling sering terjadi adalah terabaikannya pola makan dan pola istirahat.

Sampai-sampai Faried  menyimpulkan bahwa para dosen ‘mulai memikirkan cara untuk tidak teralalu serius berpikir soal memperbaiki negara. Dosen sudah harus rajin berolah raga dan menjaga kesehatan dengan mengurangi kegiatan mengajar dan proyek yang terlalu banyak’. Kesannya himbauan ini terlalu ekstrim. Tapi memang sepantasnya untuk mulai diperhatikan. Itulah yang saya sebut dengan manajemen waktu. Tidak harus berhenti untuk berkontribusi melalui sumbangan pemikiran kaum intelektual, tapi mengatur waktu sebijak mungkin.

Kedua, manajemen stress. Bahasa awam sering kita mendengar ‘bekerja dengan otak itu lebih berat dari pada bekerja dengan otot’. Banyak faktor yang membuat para dosen ‘stres’ dalam kesehariannya. Tugas-tugas yang terhimpun di dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ditambah dengan berbagai beban administrative seperti membuat laporan penelitian, menulis artikel almiah, laporan kinerja dosen, dan lain sebagainya membuat beberapa dosen cukup berada pada kondisi stress.

Maka dosen juga harus cerdas untuk mengelola semua beban itu sehingga tidak menimbulkan stress. Stres merupakan sikap mental. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk ‘berdamai’ dengan beban pikiran yang ada. Salah satu cara yang paling sering saya sampaikan di berbagai seminar adalah dengan menempa diri dengan merubah mindset. Berpikir positif dan selalu bersemangat. Jauhi diri dari sendera konflik-konflik hubungan kerja. Dengan cara ini pula dapat mengurangi rasa cemas dan khwatir yang membuat pikiran jadi tenang dan strespun berkurang.

Akhirnya, kematian memang hak prerogatif Allah. Tapi ‘cara’ untuk menuju kematian itu sangat tergantung pada manusia itu sendiri. Alih-alih menyalahkan semua sistem yang ada, sistem terdekat yang harus dibenahi; diri sendiri. Jadi dosen cepat mati? Ketahuilah, apa pun profesi kita, kematian akan selalu mengintai. Bersiaplah! #BNODOC6911032017

*Akademisi di Jambi

PARKIR OH PARKIR

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Akhirnya mencuat juga ke permukaan persoalan ‘keruwetan’ pengelolaan parkir di salah satu hotel yang baru saja beroperasi di Kota Jambi setelah salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Jambi angkat suara. Keluhan masyarakat memang sudah tidak dibendung lagi. Saya sendiri secara pribadi mendapatkan pengalaman buruk. Beberapa hari lalu, saya ikut serta dalam sebuah seminar di hotel tersebut dan mendapatkan kesulitan dalam memarkir kendaraan.

Tidak bermaksud membuka ‘aib’, tapi paling tidak melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan kegelisahan masyarakat sehingga diharapkan akan ada perbaikan di masa yang akan datang.   Ketika sampai di hotel tersebut datang 2 orang petugas keamanan (security) yang meminta kunci kendaraan dengan tujuan memarkirkannya di tempat yang jauh dari hotel. Kunci kemudian sepenuhnya dipegang oleh mereka sampai kemudian diminta oleh pemilik. Saya mencoba memastikan beberapa hal kepada petugas tersebut.

Pertama, keamanan mobil. Ketika saya bertanya kepada petugas apa jaminan bahwa mobil aman dan terhindar dari tindak kejahatan selama diparkir? Petugas tidak bisa menjawab dengan tegas dan bertanggungjawab. Ketika kunci mobil dikuasai sepenuhnya oleh mereka, apa jaminan kunci itu tidak digandakan. Begitu juga kemungkinan STNK yang ditinggal di mobil. Belum lagi barang-barang yang ada di dalam mobil.

Saya tidak bermaksud berprasangka buruk terhadap petugas. Tapi kesempatan itu terbuka dengan lebar. Katakanlah petugas tidak akan melakukan itu, bagaimana jika terjadi keteledoran sehingga kunci-kunci mobil pengunjung tersebut tertinggal dan hilang. Jawaban petugas sangat singkat “Insya Allah aman, Pak”.

Kedua, jumlah petugas. Ketika acara seminar selesai maka beberapa peserta pulang secara bersamaan. Bagaimana mungkin menjemput mobil yang sebanyak itu dilakukan oleh dua orang petugas. Ketika datang bisa di-handle karena mereka datang satu persatu dalam waktu yang berbeda. Namun ketika pulang mereka memerlukan kendaraan secara bersamaan. Akibatnya, petugas kalang kabut dan pengunjung dipaksa menunggu begitu lama untuk mendapat giliran mobilnya dikembalikan. Jauh dari makna efektif dan efisien.

Ketiga, keselamatan kendaraan. Dengan tingkat stress yang tinggi dalam memarkir kendaraan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kelalaian (careless). Saya sempat pula memastikan, bagaimana jika mobil konsumen tergores atau penyok yang disebabkan oleh kelalaian petugas? Jawabannya pun singkat “mudah-mudahan tidak, pak”.

Keempat, kemacetan. Karena manajemen parkir hotel ini terkesan tidak dikelola secara profesional, akhirnya mengakibatkan kemacetan di seputaran hotel, lebih-lebih hotel ini berdampingan dengan fasilitas umum berupa rumah sakit. Pertemuan antara pengunjung rumah sakit dan pengunjung hotel dengan tata kelola parkir yang kurang memadai sudah dapat dipastikan akan menimbulkan kekacauan penggunaan jalan. Macet tidak terhindarkan.

Semrawutnya pengelolaan parkir hotel ini tentunya hanyalah dampak dari perizinan yang dikeluarkan. Wajar kemudian jika ada anggota DPRD Kota Jambi menghimbau pihak-pihak terkait untuk meninjau kembali izin yang dikeluarkan. Apakah persoalan parkir ini luput dari perhatian para pengambil kebijakan pengeluaran izin hotel ini? Atau ada ‘pembangkangan’ dari pihak manajemen?

Di era keterbukaan ini sudah selayaknya publik tahu apa penyebabnya. Kemacetan yang terjadi dan bruruknya manajemen parkir yang dimiliki, kemungkinan hanyalah beberapa contoh saja dari sekian banyak masalah yang ada. Masyarakat Kota Jambi tentunya bangga dengan bermunculannya hotel-hotel mewah di ‘Tanah Pilih Peseko Betuah’ ini. Namun demikian, tentunya masyarakat juga tidak ingin diganggu dengan berabagai persoalan yang dimunculkan.

Dengan segala persoalan yang mencuat ke permukaan ini, sudah sepantasnya para pengelola hotel ini menempatkan persoalan ini sebagai sesuatu yang serius untuk ditangani. Jika dibiarkan akan membuat masyarakat Kota Jambi merasa terganggu dan menimbulkan kemarahan. Kepada pemerintah Kota Jambi melalui berbagai dinas terkait untuk tidak ‘bermain mata’ menegakkan aturan yang berlaku. Jika memang ada hal-hal yang dilanggar oleh para pengusaha, jangan segan-segan untuk mengambil tindakan hukum yang semestinya.

persoalan parkir di hotel ini tentunya bukan pula yang pertama dan satu-satunya. Coba pelajari dan cek kembali pengelolaan parkir dan fasiltas-fasilitas umum lainnya. Tidak jarang kita menemukan hotel, supermarket, mall, pom bensin, dan lain-lain abaikan falitas umum seperti mushalla, tempat khusus untuk menyusui, akses bagi penyandang cacat, ruang bagi perokok, dan lain sebagainya.

Akhirnya, kenyamanan sebuah hotel tentunya tidak hanya yang terdapat di dalam bangunan hotel tapi juga fasilitas penunjang seperti pengelolaan parkir yang apik. Dengan berbaik sangka, kita meyakini bahwa ketika sebuah hotel sudah berdiri megah itu berarti semua izin sudah diberikan.

#BNODOC670310032017

*Masyarakat Kota Jambi