UIN STS JAMBI MILIK BERSAMA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Perjalanan panjang alih status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) akhirnya menemukan muara dengan diterbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2017.  Perpres ini tentu menjadi sejarah baru bagi civitas akademika perguruan tinggi Islam tertua di Provinsi Jambi ini. Begitu pula masyarakat Provinsi Jambi, boleh berbangga hati karena saat ini telah memiliki universitas Islam seperti halnya provinsi-provinsi lain di tanah air. Sejarah bermula.

Keberadaan UIN ini tentunya harus mendapat dukungan seluruh elemen masyarakat Jambi sehingga tercipta rasa kepemilikan (‘sense of belonging’) dan menjadi kebanggaan semua. Mampu merasakan bahwa UIN ini adalah milik bersama. Dengan cara ini tentunya akan dapat mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan institusi pendidikan ini kedepannya. Masing-masing elemen masyarakat dapat dipastikan memiliki peran dan kontribusi sesuai kadarnya masing-masing.

 Civitas Akademika UIN

Para penghuni kampus ini harus terus berbenah diri untuk meningkatkan kapasitas dalam segala lini. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul “UIN STS Jambi; Sudah Siapkah?”. Catatan yang ingin saya sampaikan melalui artikel tersebut adalah bagaimana orang-orang yang berada di dalam lembaga ini benar-benar mampu merubah mindset yang ada. Sekali lagi, merubah mindset (pola pikir). Jangan sampai status berubah menjadi UIN tetapi mindset yang terbangun tetap IAIN. Itu namanya UIN rasa IAIN. Inilah tugas yang tidak kalah berat disbanding mempersiapkan segala persyaratan administrasi yang telah ditetapkan negara.

Mindset semacam apa yang harus dibangun? Hal yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah dengan meningkatkan kinerja dan menyatukan visi dari setiap insan yang ada. Seluruh kegiatan kampus ini harus berorientasi akademis. Apa pun yang  direncanakan dan dilakukan harus dalam kerangka menunjang kegiatan akademis. Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat) harus betul-betul menjadi rujukan utama dalam melaksanakan segala akativitas kampus.

Kebersamaan dan kekeluargaan juga konsilidasi semua ‘blok’ sudah harus dilakukan. Politik kampus yang cenderung memecah belah sudah harus ditinggalkan. Hanya persatuan dan kesatuanlah yang akan dapat membantu institusi ini dapat bertumbuh dengan baik. Tidak ada pula ada yang boleh merasa paling berjasa dalam alih status ini. Ingatlah, alih status ini telah melalui jalan panjang. Pasti sudah banyak para pejuang yang berbuat. Saling berangkulan satu sama lain adalah jalan terbaik.

Pemerintah Daerah

‘Sense of belonging’ akan UIN ini harus juga dimiliki oleh pemerintah daerah. Paling tidak dalam hal ini Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dan Pemerintah Daerah Kabupaten Muaro Jambi. Secara geografis, UIN STS Jambi berada di wilayah Pemda Kabupaten Muaro Jambi. Sungguh ada begitu banyak hal yang dapat dilakukan dan saling menguntungkan jika kerja sama antara pemdadan UIN dapat berjalan dengan baik. Kampus merupakan ‘gudang’ cendikiawan yang siap berkontribusi kepada pembangunan daerah. Daerah juga memiliki kebijakan-kebijakan yang dapat memajukan bidang pendidikan.

Selama ini, kerja sama antara Pemda Kabupaten Ma.Jambi sudah terjalin namun belum maksimal. Masih banyak bidang-bidang kerjasama yang belum tergarap dengan baik. Duduk bersama merumuskan kerja sama agaknya jalan terbaik. Lebih-lebih saat ini, Kabupaten Ma.Jambi baru saja memilih bupati baru. Saatnya berkolaborasi.

Masyarakat Jambi

Mulai saat ini masyarakat Jambi harus benar-benar menjadi bagian dari kampus Islam terbesar di negari ‘Sepucuk Jambi Sembilan Lurah’ ini. Salah satu bentuk ‘sense of belonging’ masyarakat terhadap kampus ini adalah dengan tidak ragu-ragu mengirim anaknya untuk menuntut ilmu di sini. Dalam waktu dekat, beberapa fakultas baru akan terbentuk untuk memenuhi kehendak masyarakat. Artinya, masyarakat tidak perlu lagi berpikir untuk menyekolahkan anaknya jauh-jauh keluar daerah, karena segala fakultas dan jurusan yang dibutuhkan insya Allah akan terpenuhi.

Masyarakat adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan kampus itu sendiri. Kedepannya, hubungan antara masyarakat dan kampus akan menjadi satu kesatuan yang erat. Kampus tidak lagi berada di menara gading dengan segala aktivitasnya. Kegiatan-kegiatan kampus telah diarahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Kampus harus mampu menjadi ‘bapak angkat’ bagi masyarakat dalam membantu segala persoalan yang ada di tengah masyarakat. Desa-desa yang ada di seputaran kampus harus merasakan manfaatnya baik langsung mau pun tidak langsung. Pola desa binaan misalnya, dapat diterapkan untuk pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki desa. Dengan ini, akan tercipta rasa saling membutuhkan satu sama lainnya.

Akhirnya, selamat dan kita berikan apresiasi yang sebesar-besar kepada siapa saja yang telah berjuang keras untuk tercapainya alih status ini. Saatnya berjibaku dengan segala kekuatan yang ada. Jangan sampai pula UIN STS Jambi tertinggal dari ‘saudara kandungnya’; UIN Imam Bonjol Padang, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, UIN Mataram,dan UIN Raden Intan Lampung. UIN STS Jambi milik kita semua.

#BNODOC9506042017

*Akademisi UIN STS Jambi

 

KABINET ‘GADUH’

Oleh: Bahen Nurdin, MA

 Pada tanggal 25 Maret 2017 lalu Wakil Gubernur Jambi melantik 622 pejabat eselon III dan IV di lingkungan pemerintahan Provinsi Jambi. Mereka diambil sumpah jabatan di halaman Kantor Gubernur secara masif. Agaknya ini adalah salah satu perhelatan pelantikan yang cukup besar di masa pemerintahan Zumi Zola dan Fachrori Umar untuk Jambi TUNTAS.Ternyata, tidak hanya jumlahnya yang besar, tapi ‘gonjang-ganjing’ yang ditimbulkan cukup mengguncang. Inilah ‘Kabinet Gaduh’.

‘Kegaduhan’ itu terjadi seantero Provinsi Jambi. Buktinya, perombakan para pejabat dalam jumlah yang tidak kecil ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak, dari kalangan elit hingga masyarakat awam. Di level elit politik, yang paling santer terdengar adalah suara keras dari pentolan Partai Golkar Zeorman Manaf (ZM).

Politisi senior ini member peringatan keras di media sosial. “Saya menilai pergantian pejabatan eselon III dan IV pada Sabtu yang lalu bukan berdasarkan The Right Man on the Right Place. Ini sangat berbahaya karena akan menghambat roda pemerintahan menuju Jambi Tuntas 2021. … pengangkatan hanya berdasarkan kepentingan segelintir timses yang hanya mementingkan dirinya pribadi saja. Ini peringatan bagi pemerintahan ZZ dan jika masih saja berlanjut, tunggu saja kehancurannya,” tulis ZM di akun resmi FBnya.

Begitu juga tanggapan-tanggapan dari kaum elit lainnya yang tidak sedikit. Sampai-sampai penggawa Ombudsman pun ikut ‘berkicau’. Di dunia maya tidak kalah hiruk pikuk pula. Warganegara pengguna internet (‘netizen’) saling saut bertalu-talu. Saling puji hinga caci maki. Silahkan pantau sendiri betapa ‘bisingnya’ pergantian pejabat kali ini.

Kritikan ZM ini rasanya sudah cukup menggambarkan ‘ketidak beresan’ atas pergantian ratusan pejabat eselon ini. Jika dirumuskan, paling tidak ada tiga catatan penting yang perlu digaris bawahi yaitu, pertama, pelantikan pejabat ini tidak memenuhi kaidah ‘the right man on the right place’; kedua, berdasarkan kepentingan timses, dan; ketiga, menghambat roda pemerintahan. Terlepas dugaan ini benar atau tidak, ketiga catatan ini memang harus menjadi perhatian penuh Gubernur Jambi ZZ. Dapat diyakini inilah yang menjadi biang kerok kegaduhan tersebut.

Tidak ada asap jika ada tidak api. Munculnya pernyataan ZM yang notabenenya merupakan ketua partai pendukung pemerintah, menguatkan opini masyarakat bahwa pergantian para pejabat ini memang ‘bermasalah’. Ada orang-orang yang mencoba mengambil keuntungan pribadi dan kelompoknya dari momentum ini.

Namun demikian, kita harus berpikiran positif dan terus melihat kedepan. Gubernur ZZ sudah menyampaikan pembelaannya bahwa semua proses pengangkatan pejabat tersebut sudah sesuai mekanisme yang ada dan sudah pula melalui Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Kalau demikian, jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, tidak ada salahnya menggunakan jalur-jalur yang telah diatur oleh undang-undang seperti jalur Pengadilan Tata Usaha Negara(PTUN), dan lain-lain. Ramai-ramai PTUN-kan SK yang telah dikeluarkan!

Alih-alih meributkan pro dan kontra pejabat yang ‘dapat jabatan’ dan pejabat yang ‘kehilangan jabatan’, ada baiknya kita melihat sesuatu yang lebih besar yaitu masa depan Provinsi Jambi. Maksud saya, janganlah berlama-lama dalam polemik ini. Harus diingat, waktu terus berjalan. Jika persoalan ini berlarut-larut dipermasalahkan maka yang menjadi korbannya adalah masyarakat Jambi. Roda pemerintahan terhambat, maka pembangunan akan ngadat.

Mari kita melihat sesuatu yang lebih besar dari hanya sekedar ‘bagi-bagi kue’. Sekali lagi, bagi yang masih merasa belum puas dan meyakini telah terjadi kecurangan dan ketidakadilan, secepatnya tempuh jalur hukum yang tersedia untuk membuktikannya. Bagi yang sudah ‘in’ langsung kerjakan tugas-tugas yang semestinya dilakukan untuk kepentingan kemajuan negeri ini.

Akhirnya, kegaduhan yang tercipta sekaligus akan merupakan ‘ujinyali’ Gubernur Jambi untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa perombakan cabinet ini adalah salah satu ikhtiar untuk mewujudkan Jambi yang Tertib, Unggul, Nyaman, Tangguh, Adil dan Sejahtera. Buktikan dan TUNTAS-kan!

#BNODOC9405042017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi.

KONSEP DAN STANDARISASI POLA ASUH ANAK (2)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Jangan-jangan, banyaknya tindak kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini disebabkan oleh minimnya pemahaman orang tua terhadap konsep anak. Bagian pertama dari arti kelini telah kita bahas bahwa konsep utama anak itu adalah bahwa anak bukan milik kita. Tidak ada hak kepemilikan atas anak, yang ada adalah hak titipan.Pemilik mereka adalah Allah.

Agar lebih sederhana, kita buat analogi. Katakanlah, anda akan menitipkan suatu barang yang anda sayangi kepada orang lain. Saya yakin anda akan mencari orang yang dapat dipercaya, yang bisa menjaga dan memelihara barang tersebut, yang tidak merusaknya, dan seterusnya. Dan yang lebih penting lagi, anda yakin ketika barang itu diminta kembali, masih dalam keadaan baik dan tidak rusak. Apa yang akan anda lakukan terhadap orang yang anda titipkan ternyata tidak amanah? Barang tersebut rusak bahkan hilang? Pasti marah!

Tujuan utama Allah menitipkan anak-anak itu sesungguhnya erat kaitannya dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran, Surah Dzariyaat [51]: 56, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”. Jadi anak-anak itu dititipkan untuk dibesarkan, diberi kasih sayang, dipelihara, dididik, dan seterusnya agar mereka menjadi penyembah Allah. Menjadikan anak sebagai penyembah Allah itu tidak mudah, lebih-lebih hidup di zaman sekarang ini dimana orang telah menjadikan banyak hal sebagai sesembahan.

Itulah mengapa kemudian Rosulullah Muhammad saw menyampaikan sabdanya “Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang member manfaat, dan anak yang soleh yang berdoa untuknya.”  (Hadith Sahih – Riwayat Muslim dan lain-lainnya).  Jadi, amal yang mengalir dari anak yang shaleh ini sebenarnya adalah bentuk ‘passive income’ atas keberhasilan seseorang menjadikan seorang manusia (dibaca: anak) sebagai penyembah Allah. Ditegaskan, anak yang SHALEH bukan anak yang SALAH.

Dengan pemahaman ini, jelas sudah bagaimana sikap kita terhadap anak.Karena anak bukan ‘milik’ kita, maka tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap mereka apalagi melakukan kekerasan. Jika kita melakukan kekerasan kepada mereka, maka dapat dipastikan pemiliknya, Allah, akan marah.

Jika begitu, kekerasan yang dilakukan kepada anak tidak hanya melawan hokum dunia, tapi juga melawan hukum Allah. Itulah konsep dasar pola asuh anak.

Perlu Standarisasi Pola Asuh

Berbagai upaya dari banyak pihak tentunya sudah dilakukan. Baik instansi yang dibentuk oleh pemerintah maupun berupa organisasi bentukan masyarakat telah menawarkan banyak cara kepada orang tua agar dapat menghindari kekerasan terhadap anak. Berbagai teori dan strategi telah ditawarkan.Di level dunia, kita mengenal UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund) sebagai organisasi internasional yang focus memeberikan perhatian terhadap persoalan anak-anak di dunia.Di level nasional ada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komisoner KPAI bidang pengasuhan, Rita Pranawati, menambahkan bahwa dalam konteks pengasuhan ada tiga jenis pola asuh, yaitu otoriter, demokratis, dan permisif. Orang tua yang otoriter akan menjadikan dirinya sebagai pusat dalam relasinya dengan anak. Sedangkan orang tua yang permisif cenderung mengiyakan semua keinginan anak padahal anak masih membutuhkan panduan menilai suatu hal, butuh dipandu diarahkan dan diingatkan jika ada hal yang menyimpang. Adapun orang tua yang demokratis akan memberikan kesempatan anak bereksperimen, didengarkan pendapatnya, dan tetap mendapatkan arahan dan pengawasan sehingga anak akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang baik (www.kpai.org)

Melalui artikel ini, saya mencoba mendorong berbagai pihak, terutama badan standar nasional Indonesia bekerja sama dengan berbagai pihak lainnya, menentukan standar pola asuh orang tua terhadap anak-anak mereka. Standarisasi ini akan memudahkan bagi orang tua mengukur apakah pola asuh yang mereka lakukan sudah memenuhi standar atau belum. Target akhirnya tentunya adalah terpeliharanya anak-anak Indonesia dengan baik dan terhindar dari segala macam kekerasan baik fisik maupun psikis.

Akhirnya, kualitas bangsa ini kelak sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda yang tumbuh. Jika hari ini anak-anak negeri ini tumbuh dalam bingkai kekerasan, maka tidak menutup kemungkinan bangsa ini akan menjadi negeri barbarian. Maka itulah, diperlukan pemahaman yang baik dan standar yang pas dalam pola asuh anak-anak Indonesia.

#BNODOC9304042017

 *Akademisi dan Praktisi Hypno-Parenting.

KONSEP DAN STANDAR POLA ASUH ANAK (1)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan terhadap anak seolah tidak ada hentinya. Mari kita cermati apa yang telah dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Setiap tahunnya kekerasan pada anak selalu meningkat. Data yang dihimpun KPAI dari 2011 sampai 2014, menunjukkan peningkatan yang sigfnifikan. “Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus,” kata Wakil Ketua KPAI, Maria Advianti. Ternyata terjadi lonjakan setiap tahunnya lebih dari seribu kasus. (www.kpai.go.id). Wow!

Lebih ‘wow’ lagi data yang disampaikan oleh UNICEF. Disampaikan oleh Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia Gunilla Olsson bahwa 40% anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun. 26% melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah. 50% anak melaporkan di-bully di sekolah. 45% perempuan dan anak perempuan di Indonesia percaya bahwa suami/pasangan boleh memukul istri/pasangannya dalam situasi-situasi tertentu.(www.unicef.org).

Jika ditanya penyebab terjadinya kekerasan ini, dapat dipastikan bukan disebabkan oleh satu faktor, tapi multi faktor. Pada artikel singkat ini saya mencoba mengajak kita semua melihat dua hal yaitu konsep anak dan standar pola asuh anak. Menyangkut konsep anak, saya sering menyampaikan materi ini pada seminar-seminar motivasi hypno-parenting di berbagai tempat.

Pertanyaan dasarnya adalah “apakah anak yang lahir dari rahim ibu itu adalah milik ibu dan bapak?” “Yaaaa…” jawab mereka penuh percaya diri. Saya yakin jika pertanyaan ini diajukan kepada anda yang sudah punya anak akan memberikan jawaban yang sama. Konsep ini yang ingin saya diskusikan.

Catat baik-baik, anak itu BUKAN MILIK BAPAK dan IBU!

Jangan marah dulu, baca artikel ini dengan teliti agar tidak terjadi salah paham. Biar tidak terlalu berat, coba perhatikan apa yang disampaikan Khalil Gibran berikut ini:

Anakmu bukan milikmu

Mereka adalah putra-putri yang sang hidup.

Yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka lahir lewat engkau,

Tapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tapi bukan milikmu.

Coba garis bawahi baik-baik penegasan kata-kata di atas, ‘anakmu bukan milikmu’, ‘mereka lahir lewat engkau, tapi bukan dari engkau’. Cermati dan pahami, maka anda akan benar-benar menemui makna keberadaan anak-anak yang ada di rumah anda saat ini. Sebenarnya konsep ini sudah kita pahami sejak lama dengan kalimat yang sering kita ucapkan “Anak itu Titipan”. Namun sering kali, kita baru sampai pada ‘kelatahan’ belum menjadi ‘pemahaman’.

Jadi anak kita milik siapa? Jawabannya ‘Allah’. Ternyata kita tidak punya ‘hak kepemilikan’, yang kita dapat hanya ‘hak penitipan’. Dengan konsep dan pemahaman ini, maka kita akan tahu diri apa saja hak-hak yang kita miliki atas sesuatu yang dititipkan kepada kita. Yang jelas kita tidak akan bisa berlaku sewenang-wenang terhadap sesuatu yang dititipkan kepada kita karena akan diminta pertanggung jawaban oleh yang memiliki. Artinya, yang memiliki pasti memiliki hak lebih atas sesuatu yang dimiliki tersebut. Sedangkan yang dititipin memilik hak yang terbatas. (bersambung)

#BNODOC9203042017

*Akademisi dan Praktisi Hypno-Parenting (Info Seminar: 085266859000)

MENJEMPUT IMPIAN ANAK-ANAK DESA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Beberapa tahun silam, ketika sedang ‘terbenam’ di depan layar komputer di ruang dosen, saya kedatangan dua orang mahasiswi. “Apakah bapak masih ingat dengan kami?”. Tentu saja saya tidak ingat dan tidak tahu karena memang mereka bukan mahasiswa saya. Walaupun terkadang kesulitan menghafal nama, tapi saya masih bisa mengenali begitu banyak mahasiswa saya. Kemudian mereka memperkenalkan diri dan menceritakan panjang lebar kisah ‘pertempuran’ yang sedang mereka jalani dalam menempuh pendidikan. Saya menikmati cerita mereka.

Kedatangan mereka kemudian memaksa saya me-refresh ingatan pada masa yang telah berlalu. Suatu hari saya diundang untuk mengisi seminar di sebuah sekolah yang jauh dari hiruk pikuk kota. Untuk mencapai sekolah itu saya menempuh perjalanan panjang. Dari Kota Jambi saya naik kendaraan umum. Sesampai di ibu kota kabupaten, saya kemudian dijemput oleh dua orang panitia dengan menggunakan sepeda motor. Tantangan dimulai saat kami harus melintas anak sungai dengan menggunakan kendaran air tradisional bermesin. Tidak terlalu menakutkan tapi cukup mendebarkan karena perahu mesin yang kecil itu harus dimuat beberapa motor dan pengendaranya. Tentu tidak ada standarisasi atau pun manipes-nya. Jika karam dan tenggelam, itu berarti ajal menjemput.

Kemudian perjalanan ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dengan medan ‘adventure’ yang menantang. Jalan kecil dan berlumpur dilewati dengan penuh ekstra hati-hati. Ceroboh sedikit saja, dipastikan hidung bertemu lumpur. Bersyukur panitia yang menjemput saya cukup mahir dan nampaknya terbiasa menjadi ‘penakluk’ medan seperti ini. Beberapa perkampungan dilewati. Kebun pinang dan hamparan perkebunan kelapa dilintasi. Kanal-kanal kecil sebagai akses pengangkutan hasil tani dan kebun penduduk kami sebrangi dengan jembatan seadanya. Perjalanan panjang itu berakhir dengan disambut oleh wajah-wajah ceria anak-anak desa.

Ternyata, dua mahasiswi tersebut adalah bagian dari anak-anak desa itu. Impian yang saya jemput beberapa tahun silam itu. “Kami tahu, ini berat pak. Tapi kami sedang berjuang. Kami juga ingin membuktikan apa yang dulu bapak sampaikan. Jangan jadikan kemiskinan untuk tidak kuliah”. Ungkap mereka bersemangat dan sesekali menahan air mata haru. Saya tahu persis apa yang mereka rasakan, seperti dulu halnya apa yang pernah saya lewati. Itulah indahnya perjuangan untuk menggapai impian.

Itulah bagian terindah dari berbagai seminar motivasi yang saya datangi di berbagai pelosok negari ini. Pesan yang selalu saya sampaikan sesungguhnya sangat sederhana. Saya hanya ingin meyakin anak-anak negeri ini untuk tidak bertekuk lutut dihadapan kemiskinan harta dan keadaanyang serba kekurangan. Saya tanayakan pada setiap seminar, siapa sebenarnya orang miskin itu? Orang yang tidak ada uang untuk sekolah? Salah!

Ternyata orang miskin itu bukan yang kekurangan harta tapi yang memiliki mental miskin berikut ini; malas, lemah, letih, letoy, loyo, negative thinking, tidak disiplin, mudah tersinggung, emosional, takut tantangan, mengeluh, bimbang/ragu, tidak punya dedikasi, pesimis, apatis, takut perubahan, dan lainnya. Sebanyak apa pun uang yang dimiliki, tapi jika masih memiliki mental-mental ini, dialah si miskin itu. Artinya, jika berhasil menyingkirkan tabi’at ini, anda orang kaya.

Ketika pesan ini disampaikan kepada mereka, alangkah bahagianya melihat mereka bersemangat menghadapi masa depan. Harapan dan impian mereka membubung tinggi ke angkasa. Semangat berkobar membara. Daya juang menyala-nyala. Tidak jarang mereka tersedu-haru untuk meyakinkan diri melangkah maju.

Perjalanan menjemput harapan-harapan itu memang masih terlalu panjang. Belum sebesar biji zarah pun yang telah saya perbuat untuk menjemput jutaan impian mereka dari segala penjuru negeri ini. Tapi saya berkeyakinan, dari desa-desa inilah akan lahir pemimpin-pemimpin hebat yang menjunjug tinggi harkat dan martabat bangsa. Mari bersama-sama menjemput impian dari desa. Semoga.

#BNODOC9102042017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan

UKG: JALAN MENUJU GURU BERKUALITAS

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Beberapa tahun silam saya menulis sebuah artikel dengan judul “Dimulai Dari Guru”. Saya ingin menegaskan bahwa salah satu cara terbaik untuk memperbaiki curat marut persoalan bangsa ini dimulai dari memperbaiki kualitas guru. Sekali lagi, salah satu. Artinya, masih banyak ‘salah’ lainnya. Namun keberadaan guru menjadi sangat berarti karena dia adalah ‘cetakan’ pembentuk kualitas generasi bangsa ini. Guru berkualitas, bangsa cerdas.

Saya memakai analogi membuat kue. Guru itu cetakan. Bagaimanapun mahirnya membuat kue, jika cetakannya rusak, maka rusaklah hasil kuenya. Maka usaha untuk mendapatkan kue yang bagus terlebih dahulu harus menyediakan cetakan yang baik. Begitu juga dengan ‘rasanya’. Kue yang enak harus diramu dari bahan-bahan berkualitas dan cara meraciknya yang pas.

Jika analogi ini dipasangkan kepada guru, maka guru kita harus memiliki performa dan kompentsi. Performa artinya memiliki penampilan dan kredibilitas luaran yang baik,  dan kompetensi menyangkut kemampuan keilmuan yang dimiliki dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Ini juga dimaknai bahwa guru harus tampil maksimal lahir dan batin sehingga mampu digugu dan ditiru (guru). Mereka harus mampu menjadi role model bagi generasi bangsa ini.

Ujian Kompetensi Guru (UKG) adalah salah satu mekanisme yang dibuat pemerintah untuk menjaring guru-guru yang berkualitas. Ujian ini harus dimaknai sebagai cara pemerintah untuk mendorong para guru meningkatkan kualitas dirinya dari berbagai aspek sehingga betul-betul mampu mendongkrak kemampuan yang dimiliki. Pemerintah kemudian menetapkan angka standar kelulusan (passing grade) bagi guru seluruh Indonesia. Angka yang ditetapkan adalah 80. Siapa yang tidak mencapai angka tersebut maka dianggap belum memiliki kompetensi.

Ada yang menarik perhatian kita semua melihat hasil capaian guru pada UKG tahun 2016. Ternyata guru  seluruh Indonesia masih jauh dari pencapaian maksimal. Secara nasional nilai rata-rata yang baru berhasil diperoleh 56,69. Di tingkat nasional, Provinsi Jambi menempati peringkat ke 22 dengan nilai rata-rata 52,25. Mengerucut di tingkat Provinsi, dari 527 peserta yang ikut ujian, ternyata sebanyak 330 orang tidak lulus dan harus mengulang. Hanya 190 orang yang kemudian berhak mendapatkan sertifikat pendidik dan diberi bonus bulanan berupa tunjuangan sertifikasi guru (TPG) (Jambi Ekspres, 31/03/2017).

Jika dilihat capaian ini, angkanya memang masih rendah. Data ini juga dapat diartikan guru-guru di Provinsi Jambi masih bayak yang belum memenuhi kompetensi yang diharapkan. Maka saya sangat menyayangkan salah seorang pengamat pendidikan Jambi, Prof. Damris Muhammad, M.Sc., Ph.D yang menyatakan bahwa passing grade harus diturunkan untuk memperbanyak angka kelulusan bagi guru. “saya khawatir, jika passing grade tetap pada ankga 80 akan sangat susah bagi guru-gru di Provinsi Jambi memenuhi hal tersebut, sehingga perlu ditinjau kembali passing grade itu” (Jambi Ekspres, 31/3/2017).

Saya rasa cara berpikirnya yang harus ‘ditinjau’ kembali. Maksud saya, seharusnya kita sama-sama berpikir bahwa bukan nilai passing grade-nya yang harus di turunkan, tapi kemampuan dan kompetensi guru yang harus ditingkatkan untuk mencapai angka tersebut. Kita tidak boleh lupa bahwa tujuan ditetapkannya angka tersebut untuk mendorong peningkatan kualitas guru bukan untuk lomba siapa yang banyak lulus. UKG ini juga harus dijadikan data bagi Diknas Provinsi Jambi untuk mengambil langkah-langkah pembenahan kualitas guru.

Jika UKG ini hanya dijadikan ‘pencitraan’ antar provinsi, saya rasa merupakan pemikiran yang ‘sesat’. Hanya karena tidak ingin dianggap provinsi yang memiliki sedikit guru yang lulus UKG, lalu meminta pemerintah pusat untuk menurunkan angka passing grade. Mari bersama-sama berpikiran positif atas ini. Begitu juga Bapak dan Ibu guru, mari kita terus membenahi diri dengan selalu meningkatkan kompetensi diri sehingga menjadi guru yang professional.

Akhirnya, UKG adalah salah satu jalan menuju guru yang professional. Bukan passing grade-nya yang harus diturunkan, tapi melakukan segala upaya untuk meng-upgrading profesionalitas guru kita. Jangan pula ‘buruk muka, cermin dibelah’.

#BNODOC900142017

 *Akademisi dan Praktisi Hypno-Teaching Jambi.

PADANG LAMO; RIWAYATMU KINI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Dari arah Kota Jambi, anda akan melewati jembatan panjang melintasi Sungai Batang Hari. Hanya beberapa puluh meter saja, anda disambut dengan tulisan yang begitu indah dan artistik “SELAMAT DATANG DI KOTA TEBO”. Kurangi kecepatan kendaraan anda karena banyak tamu dari luar daerah yang berhenti hanya sekedar untuk mengabadikan kehadiran mereka dengan ber-swafoto ria di ‘tugu selamat datang’ tersebut. Tepat di sampingnya terdapat persimpangan dan ‘traffic light’, ambil jalan ke arah kanan, dan itulah yang disebut ‘Jalan Padang Lamo’.

Saatnya anda merasakan kenyamanan berkendaraan melintas di jalan ini. Lebar jalan lebih dari 12 meter dan memiliki kualitas yang sangat baik. Inilah jalan raya yang telah mematuhi perintah Undang-Undang No. 22 Tahun 2009. Jalan ini diklasifikasikan sebagai Jalan provinsi. Menurut undang-undang ini, Jalan Provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota, atau antar ibu kota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.

Sekali lagi, standar dan kualitas jalan ini terjamin. Jenis aspal hotmix yang digunakan pun adalah yang terbaik yaitu jenis ATB (Asphalt Traeted Base) dengan tebal minimum 5 cm yang biasa digunakan sebagai lapis permukaan konstruksi jalan dengan lalu lintas berat atau tinggi. Persis terasa melintas di landasan pacu pesawat terbang. Mulus.

Melintasi jalan yang bagus seperti ini, jangan pula anda khawatir mengantuk karena di sebelah kanan jalan, mata anda akan dimanjakan oleh Sungai Batang hari yang ‘meliuk-liuk’ menakjubkan. Lebih-lebih jika anda melintas di malam hari, lampu-lampu di desa seberang sungai bagai gemintang gemerlip indah.

Jika anda lelah, di sepanjang jalan ini telah disediakan tempat-tempat peristirahatan (rest area) yang dilengkapi berbagai fasilitas, dari pom bensin hingga restoran dan hotel berbintang. Masyarakat desanya makmur karena hasil tani dan perkebunan dapat langsung dijual dengan harga tinggi. Pabrik-pabrik pun sudah bermunculan. Dengan infrasturktur jalan yang bagus ini pula, investor dari seluruh dunia berlomba menanamkan modal.

Begitu juga angkutan barang antar provinsi, seperti dari Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara melintas di jalan ini. Jalan yang bagus dan jarak tempuh yang singkat menjadi alasan utama bagi mereka. Jangan khawatir ada kendaraan melebihi muatan karena di beberapa titik sudah ada pos timbangan yang sangat ketat. Satu kilo gram saja melebihi tonase yang telah ditentukan, maka sopir akan mendapat sanksi tegas dari petugas. Tidak ada pungli disepanjang jalan ini. Petugas jalan raya pun siaga 24 jam dan siap memberi bantuan kepada pengguna jalan jika terjadi kerusakan dan kecelakaan.

Semenjak jalan ini menemukan ‘takdirnya’, perekonomian dan kehidupan masyarakat desa mengalami kemajuan drastis. Lebih-lebih beberapa pabrik turunan CPO dan Karet telah banyak berdiri. Harga hasil pertanian dan perkebunan mereka meroket berkali lipat karena langsung bisa dijual ke pabrik ‘di sebelah rumah’. Minyak sayur, mentega, alat kosmetik, ban mobil, dan lain-lain dibeli sangat murah. Itulah salah satu keuntungan berdirinya pabrik-pabrik tersebut. Tidak ada pengangguran di kabupaten ini kerena semua tenaga kerja terserap dengan baik. Masyarakat sejahtera.

Ternyata memang kuncinya adalah infrastruktur jalan. Jika pemerintah serius membenahi infrastruktur jalan, maka perekonomian masyarakat akan berkembang dengan sendirinya. Ekonomi tumbuh, masyarakat makmur.

Upss.., tunggu dulu, ternyata itu semua baru impian dan cita-cita.

Untuk saat ini, masyarakat Tebo, khususnya yang berada di sepanjang Jalan Padang Lamo masihlah tetap termarjinalkan, terpinggirkan, dan terabaikan. Merasa menumpang di negeri sendiri. Mereka ‘dipaksa’ menikmati kondisi jalan yang jauh dari apa yang tergambarkan di atas. Merintih mereka melewati tanah leluhur mereka sendiri.

Menangis mereka mengarungi lobang-lobang besar menganga di sepanjang jalan itu. Entah berapa banyak nyawa yang melayang. Busuk dan tak berharga hasil tani yang dinanti berbulan-bulan sebelum sampai pada pembeli. Menetes air mata melihat perjuangan anak-anak sekolah melewati lumpur-lumpur bagai bubur. Teriak mereka sampai ke langit meminta perhatian pemerintah, tapi pemimpin mereka bungkam!

Itulah riwayatmu kini, wahai Padang Lamo! Entah sampai kapan kau akan bangkit dan berbenah. Mudah-mudahan tidak sampai bertemu ‘lebaran kuda’. Peringatan, jangan sampai masyarakat marah dan murka kepada pemimpin yang obral janji tanpa ditepati!

#BNODOC8931032017

*Budak Tebo.