MELATIH BUAYA MEMANJAT

Oleh: Bahren Nurdin, MA

 Saya pernah mendapat broadcast melalui media social sebuah artikel menarik tentang salah satu produk smartphone (HP) yang memiliki spesifikasi ‘payah’ tapi melejit di pasaran. Sayang artikel yang sampai kesaya ini tidak ada nama penulisnya, jadi saya tidak berani mengutip langsung dan tidak juga boleh menyebutkan nama HP itu karena menyangkut merek dagang. Saya intisarikan saja ceritanya.

Ada sebuah merek HP yang sekarang sedang ‘booming’ ternyata memiliki spesifikasi mesin yang ‘rendah’ dalam segala hal. Boleh dikatakan kemampuan mesinnya dibawah kawan-kawan sebayanya. Ram, OS, Prosesor, Navigasi, dll dipastikan tidak begitu bagus. Namun ia memiliki satu kelebihan yaitu kehebatan kameranya yang luar biasa. Satu itu saja. Dengan menggunakan kamera HP ini, wajah anda berubah menjadi ‘cling’ seketika. Flek hitam hilang, jerawat sirna. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke salon untuk merias wajah demi mendapatkan foto yang keren.

Kelebihan ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga orang lupa kelemahan-kelemahan yang begitu banyak. Orang bahkan tidak pernah melihat kemampuan operasionalnya yang rendah itu karena tergoda dengan kehebatan kamera yang dimiliki. Hanya dengan bermodalkan satu keunggulan itu kini HP tersebut jadi primadona di tengah masyarakat. Luar biasa!

Apa pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini? Fokuslah pada kelebihan yang anda miliki!

Maka, apakah anda akan mengatakan buaya bodoh karena ia tidak mahir memanjat pohon kelapa? Monyet tolol karena ia tidak mampu menyelam? Burung ‘oon’ karena tidak sanggup berenang? Ikan ‘bengak’ karena tidak bisa terbang? Itu artinya, di atas dunia ini tidak ada apa pun atau orang yang menguasai segala hal secara sempurna. Itulah yang disebut potensi diri.

Mungkinkah mengarjari buaya memanjat pohon kelapa sampai mahir seperti monyet? Atau melatih monyet menyelam berjam-jam seperti buaya? Mungkin saja, kenapa tidak. Namun, coba bayangkan berapa lama waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai itu? Boleh jadi seumur hidup!

Akan tetapi, jika potensi masing-masing tersebut dikembangkan sesuai yang dimiliki, hasilnya pasti luar biasa. Monyet dilatih intensif dan dikembangkan kemampuannya memanjat pohon kelapa, dapat dipastikan ia akan menjadi sangat ahli. Kecepatan, ketepatan, dan kemahirannya dalam memanjat pasti akan melejit. Diyakini akan menjadi pemanjat yang professional tingkat internasional. Begitu juga dengan buaya, ikan dan burung yang telah memiliki ‘spesifikasi’ diri masing-masing.

Dalam keseharian juga demikian. Pada beberapa training kepenulisan, misalnya, saya selalu menyampaikan bahwa tidak semua orang harus bisa menulis semua hal. Masing-masing anda pasti memiliki keahlian atau potensi yang berbeda. Ada orang yang pintar menulis karya ilmiah berupa buku atau artikel jurnal, ada juga yang hebat dalam menulis opini, ada pula yang hobi menulis novel atau cerpen, ada yang suka menulis puisi, dan lain sebagainya.

Lantas, apakah penulis hebat itu hanya orang yang bisa menulis artikel ilmiah kemudian dimuat pada jurnal internsional? Selebihnya digolongkan penulis ecek-ecek? Terlalu dangkal! Itu sama halnya memaksa buaya mahir memanjat kelapa.

Intinya, setiap kita memiliki potensi masing-masing. Hebat di suatu bidang belum tentu mahir di bidang lain. Maka dari itu, yang harus kita lakukan adalah mengenali dan menggali potensi diri yang dimiliki sehingga bisa dikembangkan menjadi suatu kelebihan. Tidak perlu berkecil hati jika kita tidak bisa di bidang tertentu yang memang kita tidak mampu. Tapi maksimalkan usaha untuk menempa kelebihan yang ada.

Akhirnya, tidak ada orang yang serba hebat, kecuali merasa hebat dengan kesombongan dan keangkuhan. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka, fokuslah pada kelebihan dan jangan habiskan waktu untuk menyesali segala kekuarangan. Kata Michael Josephson dalam puisinya “what will matter is not your success but your significance. (Bukan suksesmu yang penting, tapi seberapa penting dirimu bagi orang lain).

#BNODOC10516042017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan Jambi

SELOKO: KETIKA NEGERI HIRUK

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Seloko adat Jambi mengatakan;

Hiruk di ulu, dikeulukan

Hiruk di ilir, dikeilirkan

Hiruk di tengah, dikampungkan

Elok kampung karno yang tuo

Rame kampung karno yang mudo

Tuah kampung karno mupakat

Celako kampung sebab musakat

Sebagaimana pernah saya ulas pada artikel-artikel sebelumnya bahwa Seloko Adat Jambi tidak hanya memiliki kekayaan khasanah kebahasaan tetapi juga sarat akan nilai-nilai (pendididan, hukum, lingkungan/alam, keluarga, perkawinan, kepemimpinan, dll) dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Setiap kata atau kalimat yang digunakan dapat dipastikan memiliki makna dan tujuan yang jelas untuk menyampaikan pesan-pesan atau aturan yang harus dilakukan oleh anggota masyarakat.

Seloko Adat Jambi harusnya hidup dan menjadi acuan bagi setiap orang yang menyebut dirinya orang Jambi. Acuan ini sangat jelas karena sumber hukum adat Jambi itu adalah Wahyu Allah (Al-Quran) yang termaktub dalam Seloko ‘Adat bersendi syara’, Syara’ bersendi kitabullah’ (adat berlandaskan agama (Islam), agama berlandaskan Al-Quran).

Pada konteks ini, saya ingin menggali Seloko di atas dengan mengambil studi kasus terjadinya ‘hiruk-pikuk’ pergantian enam ratusan pejabat eselon III dan IV di Provinsi Jambi baru-baru ini. Seloko ini sesungguhnya sangat baik untuk didalami bagi semua pihak untuk menempatkan persoalan ini secara porposional dan profesional. Ketahuilah bahwa Seloko Adat Jambi itu juga memiliki nilai-nilai objektivitas yang tinggi. Bebas kepentingan. Satu-satunya kepentingan yang terkandung di dalamnya adalah kemaslahatan setiap orang (ummat).

Seloko di atas memiliki tiga bahasan penting. Pertama, ‘Hiruk di ulu, dikeulukan. Hiruk di ilir, dikeirilkan. Hiruk ditengah, dikampungkan. ’Makna yang terkandung dalam kalimat ini adalah menempatkan persoalan pada tempat dan porsinya. Kata ‘hiruk’ mengacu pada persoalan atau masalah. Jika terjadi masalah ‘di hulu’ ya harus diselesaikan ‘di hulu’. Kata ‘di hulu’ tidak juga secara harfiah mengacu pada tempat atau lokasi (space), tapi adalah menempatkan sesuatu pada tempat dan takarannya. Jika tempatnya ‘di hulu’ ya tempatkanlah ‘di hulu’. Jangan di tempat lain.

Itu Artinya, jika terjadi ‘kasak-kusuk’ pada penempatan para pejabat eleson III dan IV yang lalu, masing-masing orang harus berani menempatkannya pada porsi yang baik. Maksudnya, sama-sama melihat dalil-dalil hukum dan perundang-undangan tentang aturan dan cara pengangkatan pejabat di lingkungan pemerintahan. Jika ternyata di dalamnya terjadi cacat hukum, maka harus diperkarakan secara hukum. Jika cacat administrasi, maka harus dibenahi dan ambil langkah-langkah adminstratif.

Kedua, ‘Elok kampung karno yang tuo. Rame kampung karno yang mudo’. Seloko ini mengajarkan kolaborasi antara kaum muda dan kaum tua. Kata ‘elok’ dalam kalimat ini mengacu pada tegaknya aturan-aturan yang berlaku di tengah masyarakat sehingga seluruh aspek kehidupan berjalan dengan baik tanpa kegaduhan. Dengan ini pula maka akan tercipta ketertiban, keunggulan, kenyamanan, ketangguhan, keadialan dan kesejahteraan.

Bagaimana pun para orang tua telah terlebih dahulu makan ‘asam garam’ kehidupan ini. Saya hanya khawatir, terjadinya kegaduhan dalam pemerintahan saat ini, karena para pemimpin negeri mulai meninggalkan peran orang tua. Memang secara aturan, pengangkatan dan pemberhentian pejabat adalah haknya Gubernur sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan (eksekutif) dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun demikian, seyogyanyalah adat gubernur mudo meminta pertimbangan dan masukan dari para tetua yang ada di Jambi ini. Jika ini dilakukan, saya yakin sesepuh Jambi seperti Datuk Zoerman Manaf tidak akan sampai ‘ibo ati’ di halaman Facebooknya.

Ketiga, ‘Tuah kampung karno mufakat. Celako kampung sebab musakat’. Perhatikan baik-baik pesan yang ada pada kalimat ini. Sangat dalam. ‘Tuah’ itu artinya keberuntungan, kemajuan, kehebatan, dan lain sebagainya. ‘Tuah’ itu ternyata hanya bisa dicapai dengan mufakat. Inilah nilai-nilai demokrasi yang hakiki. Jauh sebelum kata ‘demokrasi’ diperkenalkan kepada orang Indonesia, orang Jambi telah menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kata ‘celako’ memiliki makna kerugian atau mala petaka. ‘Celako’ terjadi jika hilangnya permusyawaratan dan keputusan diambil oleh orang-orang tertentu dengan niat jahat (musakat).

Pada konteks ini, sesungguhnya dalam pengangkatan dan penempatan pejabat telah dibentuk kelembagaannya yaitu Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Pertanyaanya, sudahkah badan ini difungsikan dengan maksimal sesuai dengan aturan-aturan yang ada? Badan inilah sesungguhnya yang akan membentengi terjadinya musakat dan saling sikat.

Akhirnya, ketika negeri Jambi ini hiruk, tidak ada salahnya kembali melihat dengan teliti petatah petitih yang telah ada sejak lama. Disana akan ditemukan ajaran dan kebijaksanaan. Majulah Negeri Jambi!

#BN10617042017

*AkademisidanPengamatSosialJambi

MERANCANG MASA DEPAN DUKU

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Kemarin saya dapat kiriman duku dari kampung. Mau? Dah habis! Hayoo… dosa loh bilang saya pelit, hehe.

Anda tahu buah duku, kan? Orang Indonesia secara umum pasti tahu buah yang satu ini. Kecil tapi ‘maknyos’. Buah ini sebenarnya tidak hanya milik orang Indonesia, tapi ternyata merupakan buah orang Asia Tenggara, apalagi jika diakui hanya milik ‘Wong Palembang’. Salah. Duku juga ada di Malaysia, Myanmar, Vietnam, bahkan India. Kata Pak ‘Wikipedia’, “Duku adalah jenis buah-buahan dari anggota suku Meliaceae. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara sebelah barat ini memiliki kemiripan dengan buah langsat, kokosan, pisitan, celoring dan lain-lain dengan pelbagai variasinya”.

Sudahlah, tidak usah diperdebatkan lagi, ini duku Palembang, Duku Padang, Duku Jambi, Duku Kumpeh, Duku Tebo, Duku Sengeti, dan lain-lain. Yang jelas masing-masing daerah memiliki duku. Mana yang manis, mana yang asam, mana yang ‘sepet’, mana yang besar, mana yang kecil, tinggal cek langsung di lapangan. Yakinlah setiap duku memiliki kekhasannya masing-masing. Itulah kekayaan Allah melalui bentuk dan rasa buah duku. Nikmati, syukuri dan jangan lupa bagi-bagi, hehe.

Saya tidak resah dengan perdebatan ‘Duku Palembang asal Tebo’ karena menurut saya itu hanya murni strategi marketing saja. Orang Tebo kalah cepat memasarkan kenikmatan buah dukunya dibanding Wong Palembang. Jadi wajar saja jika saat ini anda membawa duku dari Dusun Sago (Tebo) ke Jakarta, pasti pertanyaan pertama “Ini duku Palembang ya, Pak?”. Itu karena orang Sago belum berani jualan duku ke Jakarta, hehe. Bukan itu poin tulisan ini, yang menjadi keresahan saya adalah Pertama, mengapa duku kita tidak berbuah sepanjang tahun. Kedua, bagaimana mengatasi duku yang cepat busuk. Ketiga, mengapa belum ada turunan atau olahan buah duku.

Tiga poin penting ini patut menjadi keresahan kita semua. Itulah yang saya sebut masa depan duku. Kita bahas singkat sajas atu per satu. Masalah pertama, belum ada kita temukan duku yang berbuah sepanjang tahun seperti jeruk, semangka, melon, dan buah-buahan lainnya. Selama ini kita menunggu musim setahun sekali, itu pun kalau berbuah. Adakalanya tidak berbuah sama sekali. Sekian banyak doctor ahli pertanian di Jambi ini, tidak adakah yang mencoba mencari formula budidaya perkebunan duku yang bisa berbuah sepanjang tahun?

Harusnya sudah mulai dilakukan. Mengapa saya sebut ini masa depan duku. Jika tidak dibudidayakan dengan serius, pohon duku yang berbuah saat ini sebagian besar adalah tanaman tua dengan umur lanjut. Tidak lama lagi akan mati atau ditebang untuk dijadikan bahan bangunan. Jika tidak dilakukan, yakinlah anak cucu kita nanti cuma bisa melihat gambar duku di internet sambil ngences. Punah!

Masalah kedua, berapa lama duku yang sudah dipetik dapat bertahan? Ini juga sudah harus kita pikirkan bersama, terutama kawan-kawan yang memiliki ilmu di bidang pertanian. Bagaimana caranya agar duku yang sudah dipetik itu dapat bertahan lebih lama. Saya ingat sekira tahun 2001 membawa duku ke Yogyakarta menggunakan bis dan sesampai di sana busuk semua. Hiks. Saya berkeyakinan pasti ada cara untuk membuat buah duku bertahan lebih lama dari yang sekarang.

Ini juga termasuk memikirkan masa depan duku. Coba bayangkan jika duku dapat bertahan lebih lama sejak dipetik dari batangnya, pasti banyak sekali yang diuntungkan. Petani dan pedagang tidak merugi jika lama tidak terjual. Bisa dibawa sebagai oleh-oleh ke negara-negara yang jauh. Bisa disimpan di rumah lebih lama, dan lain sebagainya. Belajar dari buah kurma, bisa gak ya?

Masalah ketiga, belum kita temukan di swalayan duku kemasan dalam kaleng. Sale duku. Sirup duku. Keripik duku. Dodol duku, dll. Maksud saya, apa memang tidak bisa buah duku diolah sedemikian rupa? Ayo, para penggiat UMKM atau BUMDes di desa-desa, mumpung ada dana desa 60 triliun, manfaatin untuk membuat olahan duku. Sekarang!

Akhrinya, musim duku tidak lama lagi pasti berlalu. Nunggu lagi 11 bulan mendatang, ‘kalo pulak bebuah, kalo idak, ngango’. Mari bersama-sama merancang masa depan duku. Saatnya para pakar pertanian di kampus dihimbau untuk turun dari ‘menara gading’ dan membantu masyarakat.

#BNODOC10415042017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

CARA TEPAT KULIAH CEPAT

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Beberapa waktu lalu, saya ‘ditodong’ beberapa mahasiswa di tengah jalan ketika berjalan dari kelas menuju ruang dosen. “Kami ingin masukan dari Bapak, bagaimana cara cepat lulus kuliah?”. Dihentikan di tengah jalan seperti ini memang sudah sering saya alami. Saya tahu mereka adalah anak-anak muda yang antusias untuk menggapai cita-cita mereka. Banyak diantara mereka yang lebih suka diskusi-diskusi kecil secara informal. Begitu juga saya, tidak pernah melihat tempat untuk sekedar berbagi semangat kepada siapa saja. Sering pula ‘seminar motivasi’ di kantin, di tangga kampus, di jalan, di depan kelas, di lobby, dan sebagainya. Selagi mendatangkan manfaat, kenapa tidak. Toh, memang hidup harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya bermanfaat bagi orang lain.

Mungkin saya juga tidak terlalu fantastis dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Biasa saja, tapi paling tidak, masih dalam batas-batas kewajaran. On time! Saya menyelesaikan S1 di Univeristas Gadjah Mada selama 4 tahun 4 bulan. S2 di Univeristi Kebangsaan Malaysia 2 tahun (ada kisah unik. Dilihat tahunnya 2008-2011. Saya seharusnya ujian Jumat, 30 Des 2010. Tapi tanggal 29 Malaysia memenangkan piala AFF dan hari berikutnya dinyatakan libur nasional untuk merayakannya. Jadilah ujian saya tertunda hingga awal Januari 2011). Kisah ini tak terlupakan, bagaimana mungkin tendangan Mas Firman Utina berpengaruh pada ujian tesis saya, hehe.

Apa jawaban pertanyaan di atas? Ada banyak cara yang dapat ditempuh. Tapi jika ditanya apa yang pernah saya lewati, saya mencatatat beberapa hal. Pertama, kerjakan shalat lima waktu. Sekali saja jangan pernah ditinggalkan. Menuntut ilmu itu jalan Allah maka jangan pernah tinggalkan Allah. Menuntut ilmu itu jalan menuju surge sebagaimana Rasulullah bersabda “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Jika jalan menuju surge saja dimudahkan, apalagi jalan menuju wisuda. Mudah bagi Allah untuk memudahkan apa pun.

Kedua, kerjakan shalat sunnah tahajjud dan duha. Adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa jika kita menyediakan waktu untuk ‘curhat’ kepada Nya dalam tahajjut dan duha. Apa korelasi nyata tahajjut dan duha terhadap masa studi? Dengan mengerjakan shalat sunnah ini, pikiran jadi tenang dan hati jadi tenteram. Jika sudah demikian, pelajaran akan dapat diserap dengan baik. Tugas-tugas dari dosen serasa mudah untuk dikerjakan. Bahkan, menulis skripsi dapat dilakukan dengan tenang dan rileks. Pasti cepat selesai!

Ketiga, muliakan kedua orang tua. Di kelas, sebelum memulai pelajaran tidak jarang saya bertanya kondisi orang tua mahasiswa. Adakah orang tuanya yang sedang sakit? Sudahkah anda minta izin kuliah dengan orang tua anda sebelum kekampus, walau hanya sekedar telfon, sms, atau melalui medsos? Mengapa ini penting? Bukankah ridha Allah ada pada ridha orang tua? Yang tinggal dengan orang tua, sebelum berangkat kuliah peluk erat orang tuanya sembari meminta didoakan agar dimudah kan segala urusan kampus. Yakinlah, semua rintangan akan menyingkir!

Keempat, jauhi maksiat. ‘walaa taqrabu zinaa’. Jangan dekati zina dengan segala bentuk dan aksinya. Jika coba-coba ‘serempet-menyerempet’ akan berdampak pada pikiran dan hati. Pikiran jadi tidak jernih, hati jadi kelabu. Baawaanya suntuk dan ‘galau’. Bagaimana tidak, karena kegiatan-kegiatan ini adalah gaweannya syaitan. Iblis akan selalu menggoda untuk mengajak umat manusia kepada jalan kesesatan. Jika sudah tersesat, kapan mau sampai keujung jalan? Gak selesai-selesai. Jadilah mahasiswa abadi.

Kelima, kerja keras. Berusaha semaksimal mungkin dengan niat dan tekad yang kuat. Semua tugas yang diberikan dosen dikerjakan dengan baik. Tidak pernah absen di kelas. Investasikan sebagian besar waktu untuk belajar baik di kampus maupun di luar. Ikuti oranganiasi-organisasi yang dapat menambah pengalaman dan memperkaya pengembangan diri. Tidak mengenal kata mengeluh dan mengalah. Semua tantangan dihadapi dengan cerdas dan ikhlas.

Ingat, orang-orang bijak selalu berkata, dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu. Jalan menuju sukses itu tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang percaya akan adanya kebesaran Allah dan siap bekerja keras.

#BNODOC10314042017

*Akademisi dan Motivator Pendidikan (Hypno-Motivation).

SELOKO ITU KEREN, LOH…

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Seloko (Adat) Jambi, dalam Bahasa Indonesia juga dikenal dengan sebutan Seloka, adalah ungkapan-ungkapan bahasa adat yang padat dengan nilai-nilai, pesan etika, moral dan norma-norma yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Seloko boleh juga berupa petatah petitih, pantun, atau pribahasa. Namun yang perlu diingat, bahwa Seloko tidak hanya sekedar susunan kata yang enak didengar, ritme yang apik, atau sajak-sajak yang tersusun rapi, tapi yang lebih penting adalah pesan yang ada di dalamnya.

Berat samo dipikul. Ringan samo dijinjing. Ke bukit samo mendaki. Ke lurah samo menurun. Ado samo dimakan, idak samo dicari. Seciap bak ayam, sedencing bak besi, sedekat bak batu, seletus bak bedil, sealun sorak, serentak bak ragam. Kok malang samo merugi, kok belabo samo mendapat. Terendam samo basah, terampai samo kering. Mudik serentak galah, hilir serengkuh dayung”. Seloko ini sangat syarat makna kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Inilah nilai persatuan dan kesatuan yang kokoh sejak lama diajarkan dan hidup ditengah masyarakat Jambi. Luar biasa!

Itulah mengapa Seloko itu keren. Ternyata seloko itu memiliki nilai-nilai edukasi yang kaya. Ungkapan-ungkapan pengajaran yang penuh makna jika kita mampu menggali, mempelajari, dan menerapkan arti yang terkandung dalamnya. Lebih keren lagi, ungkapan-ungkapan itu tetep berlaku sepanjang zaman, ‘tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas’.

Tapi mengapa Seloko tidak akrab dengan kekinian? Kesan yang timbul ketika berbicara Seloko itu adalah jadul (jaman dulu). Jika ada anak muda berbicara tentang Seloko, itu seolah terlalu ‘dewasa’. Agaknya pada poin ini saya sejak lama ingin sekali ‘meng-anak mudakan’ apa-apa yang ada pada adat dan budaya kita, khususnya Jambi. Banyak sebenarnya sumber kekayaan adat budaya yang hamper punah atau menuju kepunahan dari tahun ketahun. Ditengarai anak-anak muda tidak lagi peduli dan tidak ada yang mau mempelajarinya, sementara yang tua gugur satu per satu. Mereka gugur bersama terkuburnya adat budaya yang mereka miliki.

Terlepas dari pro dan kontra di awal kemunculannya, Ketoprak Humor dapat dijadikan contoh nyata bagaimana seni budaya harus bergerak menyesuaikan zaman. Saya yakin, jika tidak ada Ketoprak Humor, orang sudah tidak lagi mengenal kata ‘Ketoprak’. Ketoprak (Kethoprak) yang tadinya sangat ‘Jawa’, merupakan pementasan drama tradisional yang bertemakan legenda atau sejarah Jawa, menjadi begitu ‘cair’ dan disukai banyak orang (tidak hanya orang Jawa) ketika menjadi Ketoprak Humor.

Pemikiran semacam ini tidak salahnya kita pasangkan pada adat dan budaya di berbagai daerah. Maksud saya, bagaimana khasanah budaya yang kesannya ‘jadul’ dan ‘serius’ diubah sedemikian rupa menyesuaikan zaman sehingga tetap hidup dan berkembang khususnya dikalangan generasi muda. Tentu saja, perubahan itu tidak serta merta menghilangkan unsur-unsur utama dan nilai-nilai budaya yang ada.Dia tetap pada akarnya, tapi daun dan dahannya dibentuk sedemikian rupa.

Maka dari itu, diperlukan pemikiran yang mendalam bagaimana ‘memasarkan’ Seloko di kalangan generasi muda saat ini. Saya kira, Budak Jambi bukan tidak cinta dengan budaya Jambi tapi mereka tidak diperkenalkan. Mereka tidak mengenalnya karena mereka tidak suka karena kesannya ‘milik orang tua’. Jadi kalau begitu, agar mereka mengenal kekayaan budaya mereka sendiri, format dan kemasannya harus menarik dan menyesuaikan kehendak zaman. Itulah ‘adat bumbun menyelaro, adat padang kepanasan’. Setiap zaman ada adatnya!

Akhirnya, ‘api-api terbang malam // inggap di ujung jagung mudo // biar tujuh kali dunio karam // balik ke dusun jugo akhirnyo//. Bagaimana pun perkembangan zaman, secanggih apa pun teknologi yang datang, kemana pun budak Jambi terbang, namun adat budaya juga yang harus dia dipegang. Itulah ‘dusun’ terbaiknya. Anak muda Jambi, kito belajar Seloko yuk. Seloko itu keren, loh.

#BNODOC10213042017

 *Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN STS Jambi.

MENCINTAI PARA PEMBENCI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Dalam pergaulan sehari-hari, dapat dipastikan kita hidup di antara orang-orang yang memiliki rasa suka dan benci. Istilah populernya ‘lover’ dan ‘hater’. Dua kelompok manusia ini sesungguhnya sangat bermanfaat dalam kehidupan kita baik langsung maupun tidak langsung. Maka kita tidak boleh pula meletakkan sikap cinta hanya kepada para pecinta (lover) atau bengis kepada para pembenci (hater), tetapi harus mampu mengelola kedua kelompok ini menjadi energi positif untuk kemajuan diri.

Belumlah seseorang itu disebut berjiwa besar sebelum ia mampu mencintai para pembenci seperti ia mencintai para pecintanya. Hayo, bisakan?

Maka, hal yang perlu dihindari adalah mencoba mengubah sikap mereka sesuai yang diinginkan. Tidak perlu. Kita akan menguras tenaga dan rasa jika mencoba mengubah sikap para pembenci menjadi pecinta. Salah-salah bersikap dan bertindak kitalah yang akan menjadi pembenci. Harus diingat, sikap mereka terhadap kita adalah hak dan pilihan mereka. Artinya, merekalah yang memutuskan apakah mereka akan menjadi pecinta atau pembenci. Maka fokusnya bukan kepada mereka, tapi pada diri kita sendiri. Kita menentukan sikap kita sendiri dan biarkan mereka menentukan sikap terhadap kita. Adilkan?

Para pembenci datang dari berbagai kalangan, dari awam hingga intelektual. Jangan dikira para intelektual yang notabenenya kaum terdidik tidak bisa menjadi pembenci. Bisa. Sekedar contoh (tidak bermaksud pula membenci), ada seorang dosen di sebuah perguruan tinggi yang memiliki pendidikan tinggi, menyebut dirinya aktivis perempuan, aktivis lingkungan, pejabat kampus, penulis, peneliti dan sebagainya. Tapi kalimat-kalimat yang tertulis di FB nya selalu saja bernuansa kebencian. Setiap hari kerjanya menyalahkan dan menyerang orang lain. Semua status orang lain di FB dikomentari dengan nada sinis medan antipati. Untuk menyampaikan informasi baik pun menggunakan kata-kata negatif. Bahkan, tidak jarang kemarahan dan caci maki itu dia berikan pada dirinya sendiri. Kasihan.

Ada apa? Maka harus dipahami pula, orang yang belum selesai dengan dirinya, pasti bermasalah dengan orang lain. Ada ‘ketidak beresan’ hubungan dengan dirinya sendiri. Konflik internal (kejiwaan) sangat berdampak terhadap hubungannya dengan orang lain.

Biasanya,Pertama, mahal kata ‘maaf’. Orang seperti ini sangat susah untuk memaafkan. Tidak hanya pada orang lain, termasuk pada dirinya sendiri. Yang diinginkannya, orang lain harus ‘sengsara’ di tangannya jika melakukan kesalahan. Kedua, merasa paling benar. Dia merasa paling benar dan paling sempurna di muka bumi ini. Atas rasa kebenaran itulah dia merasa punya hak untuk menyalahkan orang lain. Ketiga, iri melihat keberhasilan orang lain. Rasa ini muncul ketika melihat dirinya hebat maka orang lain tidak boleh melebihi dirinya. Keempat, selalu ingin menarik perhatian orang lain (eksis). Sedapat mungkin dialah yang berhak diperhatikan. Untuk mendapatkan itu, ia harus ‘tampil beda’ dengan membenci semua orang. Kasihan.

Atas semua sikap itu, jangan tunjukkan perlawanan. Semakin dilawan semakin menjadi. Dipastikan dia tidak mau kalah. Maka cara terbaik adalah dengan belajar memahami dan mencintainya. Tata hati untuk bergaul dengan orang-orang seperti ini. Hati kita, bukan hati mereka.

Apakah para pembenci ini diperlukan dalam hidup kita? Sangat diperlukan. Sama perlunya kita terhadap para pecinta. Jika para pecinta akan memberikan energi postif yang selalu mendukung dan memuji, maka para pembenci akan bertindak sebagai pengontrol dan pembasmi rasa sombong dalam diri kita. Tidak mudah memang mencintai orang yang membenci. Tapi paling tidak janganlah ikut membenci karena mereka juga berkontribusi pada kesuksesan kita. Maka cintailah para pembenci.

#BNODOC10112042017

*Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi