SELOKO: PENTINGNYA KOMUNIKASI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Pada tahun 2002, National Association of Colleges and Employers, Amerika Serikat, mengadakan disurvei terhadap 457 pimpinan untuk melihat komponen-komponen pencapaian keberhasilan. Hasilnya sungguh sangat mengejutkan ternyata kecedasan seseorang yang ditandai dengan Indeks Prestasi (IP) tinggi bukan merupakan komponen utama. Mereka menempatkan IP pada urutan ke 17. Itu artinya, menurut survey, orang-orang hebat ini tidak mengandalkan IP tinggi untuk sukses. Lantas apa yang menjadi komponen utama? Kemampuan berkomunikasi.

Saya ingat, beberapa waktu lalu pernah menjadi peserta seminar motivasi di Jakarta, salah seorang narasumber berkata “bahasamu menentukan nasibmu”. Anda tidak percaya? Coba saja, berdiri di hadapan bos anda dan caci makilah beliau. Bagaimana nasib anda selanjutnya? Ehem, minimal menerima surat ‘cinta’ peringatan atau bahkan harus mencari tempat kerja baru.  Begitulah pentingnya komunikasi.

Menariknya, ternyata Seloko adat Jambi sudah sangat lama menempatkan komunikasi dan sikap sebagai rambu-rambu kehidupan masyarakatnya untuk mencapai kesuksesan. Perhatikan Seloko berikut ini:

Bejalan melintang tapak, bekato melintang pesko

Lenggang idak tepapas.Tegak idak ndak tesondak

Tanduk lancip ndak mengeno, Kelaso gedang ndak mendorong

Kecak lengan bak lengan, Kecak betis bak betis

Besutan di mato, berajo di hati.

Seloko ini merupakan peringatan untuk tidak melakukan hal-hal yang disebutkan. Kata ‘melintang’ dapat dimaknai menyalahi atau tidak sesuai dengan kelaziman yang ada. Seseorang berjalan seharusnya dengan telapak kaki lurus kedepan, bukan melintang ke kiri atau ke kanan. Di samping terlihat tidak lazim, juga membuat yang bersangkutan susah berjalan. Orang tidak bisa berlari jika telapak kakinya melintang. Begitu juga halnya dengan ‘melintang pesko’ yang seharusnya menggunakan bahasa yang tidak meninggi, baik dan sopan. Kalimat ‘bekato melintang pesko’ yaitu penggunaan kalimat-kalimat yang menunjukkan kehebatan dan membangga-banggakan diri (sombong).

Dalam berkomunikasi, ternyata masyarakat Jambi telah diatur sejak lama melalui petatah petitih Seloko adatnya. Mereka menyebutnya dengan sebutan ‘sopan santun budi bahasa’. Paling tidak ada tiga unsure penting dalam komunikasi yang membentuk kesopanan dan kesantunan dalam berkomunikasi.

Pertama, pikir. Pikir itu pelata hati. Seloko berkata ‘berfikir idak sekali sudah, berunding idak sekali putus’. Itu artinya, sebelum mengucapkan sesuatu harus dipikir berulang kali. Apa manfaat dan dampak yang ditimbulkan dari kata yang terlontarkan. Jangan pula mengikuti amarah dan hawa nafsu yang kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dilontarkan. Dampaknya bisa kepada orang lain maupun kepada diri sendiri.

Kedua, tutur kata sopan santun. Pemilihan kata yang digunakan juga menjadi pertimbangan penting dalam komunikasi. Baik maksud yang ingin disampaikan, tapi jika dilontarkan dengan menggunakan kata-kata yang negatif, maka pesan kebaikannya tidak akan terutarakan. Hal ini juga dirumuskan dalam sebuah pantun adat “yang kurik itu kundi // yang merah itu sago // yang baik itu budi // yang indah itu bahaso.” Ada satu kesatuan yang utuh antara budi dan bahasa. Maka, orang-orang baik itu terlihat dari bahasa yang mereka gunakan.

Ketiga, mimik dan gaya bahasa atau yang lebih kita kenal dengan gesture. Janganlah menggunakan sikap dan tindakan yang tidak baik saat berkomunikasi. Hal ini dapat juga terlihat dari seloko ‘Kecak lengan bak lengan, Kecak betis bak betis. Besutan di mato, berajo di hati.’ Sikap yang merendahkan orang lain. Merasa dirinyalah yang paling hebat dan paling mulia di atas dunia ini.

Jika ditarik kezaman sekarang, komunikasi itu bisa kita masukkan kedalam dua bagian yaitu komunikasi langsung (direct) dan tidak langsung (indirect) atau verbal dan non-verbal. Komunikasi tidak langsung dapat menggunakan berbagai media, diantaranya komunikasi melalui media social seperti FB, Twitter, Istagram, dll. Jadi, tidak salah jika seseorang dapat dinilai dari apa yang ia tuliskan di media sosial yang ia miliki. Hati-hati.

Akhirnya, di abad ini komunikasi menjadi penentu untuk sukses berhubungan dengan orang lain di tengah masyarakat. Hebatnya lagi, jauh sebelum National Association of Colleges and Employers melakukan penelitian pentingnya komunikasi, Seloko adat Jambi sudah mengaturnya sedemikian rupa. Hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Hebat!

#BNODOC10819042017

 *Akademisi dan Pengamat Sosial Jambi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: