MENGGAET PARTAI, MENGAMBIL HATI RAKYAT

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Tahun 2018 semakin mendekat. Pesta demokrasi di Kota Jambi sedang melewati berbagai persiapan. Dari penyelenggara hingga para peserta yang akan ikut ‘naik panggung’ tengah berjibaku. Tahapan demi tahapan telah pula dipersiapkan dengan baik oleh para penyelenggara yang telah ditunjuk oleh negara. Stakeholder yang terlibat pun ikut mendukung dengan segala upaya yang dimiliki dengan satu asa bersama terpilihnya pemimpin yang memiliki komitmen dan amanah. Deal!

Kasat mata, saat ini yang nampak sedang sibuk adalah para calon peserta (bakal calon). Berbagai ‘kesibukan’ dilakukan. Ada yang sibuk ‘pedekate’ (pendekatan) dengan partai politik. Ada yang ‘gila’ memasang baliho. Ada yang hilir mudik mencari dukungan. Ada pula yang ‘door to door’ menjual visi dan misi. Tidak sedikit pula yang tebar karangan bunga di setiap pesta pernikahan atau di rumah duka orang meninggal dunia. Tidak kalah ramai di dunia maya (media sosial).

Begitulah kesibukan politik di Kota Jambi saat ini. Para bakal calon dan tim sedang menyusun berbagai strategi dan aksi untuk mencapai kemenangan. Sah-sah saja tentunya selagi berjalan di atas rel yang benar.

Untuk mencapai tujuan tersebut, paling tidak ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu, satu, menggaet partai dan, kedua, mengambil hati rakyat. Dua hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh siapa saja yang hendak mencalonkan diri menjadi Wali Kota Jambi mendatang. Masing-masing memiliki tantangan sendiri.

Untuk menggaet partai politik, tentu masing-masing partai sudah memiliki kriteria sendiri dalam menentukan calon yang akan mereka usung. Ada aturan main partai yang jelas. Saat ini pun beberapa parpol telah membuka pintu seluas-luasnya bagi para bakal calon untuk mengajukan ‘lamaran’. Isi formulir yang disediakan dan kembalikan. Ups…jangan lupa siapkan ‘mahar’ bagi yang mengharuskan, hehe.

Jika dilihat dari kebutuhan persyaratan yang ditetapkan oleh KPU Kota Jambi, seorang calon yang maju melalui jalur partai politik baru bisa mencalonkan diri jika didukung paling kurang 9 kursi di DPRD Kota Jambi. Sayangnya dari 45 kursi yang ada, tidak ada satu partai pun yang memiliki jumlah tersebut.

Sebagaimana Laporan Penyelenggaraan Pemilu DPR, DPD, DPRD Tahun 2014 – KPU Kota Jambi, berikut kursi yang tersedia. Nasdem (5,09%) 1, PKB (7,81%) 4, PKS (11%) 1, PDIP (13,63%) 6, Golkar (7,67%) 4, Gerindra (11,67%) 5, Demokrat (16,34%) 8, PAN (9,74%) 5, PPP (7,56%) 4, Hanura (8,28%) 5, PBB (4,16%) 1, PKPI (2,93%) 1, Total 45 kursi.

Itu artinya, seorang kandidat baru bisa mendaftarkan dirinya jika didukung minimal dua partai politik. Itu pun parpol dengan jumlah kursi yang gemuk. Jika hanya mendapat uluran tangan dari parpol ‘gurem’, dibutuhkan beberapa tentunya. Implikasinya jelas, makin banyak partai dipastikan semakin ‘seru’ lobi-lobi yang terjadi.

Namun harus diingat, partai politik belum bisa dipercaya sepenuhnya menjadi mesin politik untuk memenangkan pertarungan politik saat ini. Lebih-lebih, jika calon yang diusung bukan berasal dari kader murni. Para kader atau simpatisan partai belum bisa dijadikan tolak ukur kemenangan seorang kandidat. Bisa saja keputusan partai berbeda dengan coblosan para kader di dalam bilik suara.

Saya hanya ingin mengatakan, diusung oleh banyak partai belum menjadi jaminan keluar sebagai pemenang. Artinya, mendapat dukungan partai baru memenuhi syarat administratif. Lantas apa yang menentukan kemenangan itu? Mengambil hati rakyat!

Ini poin intinya. Pemilihan kepala daerah langsung sangat ditentukan oleh pilihan rakyat masing-masing. Hanya calon-calon yang mampu memenangkan hati rakyatlah yang nantinya akan keluar sebagai pemenang.

Khusus untuk Kota Jambi yang merupakan penduduk urban yang heterogen dan melek politik, politik pencitraan tentunya sudah tidak lagi efektif untuk ‘mengelabui’ masyarakat. Masyarakat kota pasti sudah sangat faham mana yang pencitraan dan mana yang benar-benar berbuat untuk rakyat. Maka dari itu, ada tugas besar para kandidat, selain mendapat dukungan parpol juga harus bekerja keras mendapatkan hati masyarakat. Selamat berjuang! #BNODOC25412092017

*Akademisi UIN STS dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi [KOPIPEDE) Provinsi Jambi.

Iklan

SEMANGAT PERKAWINAN [2]

Oleh: Bahren Nurdin, MA

[KESATU; mari saling memberikan semangat dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Lebih-lebih kepada penganten baru, mereka sangat perlu diberikan motivasi positif agar rumah yang hendak dibangun itu memiliki kontsruksi yang baik dan kokoh. Bermula dari membangun fondasi yang kuat. Maka jangan jadikan hal-hal yang rapuh sebagai bahan bakunya. Fondasi yang ringkih itu diantaranya, nafsu syahwat, kecantikan/kegantengan (fisik), dan harta kekayaan]

Ketiga, harta dan kekayaan. Harta adalah salah satu titipan yang Allah berikan. Namanya juga titipan, bisa diambil oleh sang pemilik kapan saja, di mana saja. Maka jika bangunan pernikahan hanya berdiri di atas fondasi harta dan kekayaan, ketika jatuh miskin atau melewati hari-hari sulit mereka dipastikan akan memilih untuk ‘balik kanan’. Itulah yang kita kenal dengan istilah, ‘ada uang abang di sayang, tak ada uang abang ditendang’. Tendangan pojok, tung..!

Lebih lagi kita hidup di dunia yang sudah sangat materialistik dan hedonis saat ni. Semua dinilai dari uang. Kekayaan dijadikan barometer utama kesuksesan seseorang. Sungguh, sudah saatnya suami isteri menyatukan visi dan misi rumah tangga yang jelas agar nantinya tidak terombang ambing oleh pengaruh zaman yang menggila. Makanyalah, kekayaan harta benda tidak boleh dijadikan fondasi rumah tangga.

Apa lagi jika, yang dijadikan fondasi itu adalah harta orang tua atau mertua. Lebih rapuh lagi. Belum tentu orang tua atau mertua memberikan harta mereka untuk kehidupan anak-anaknya selama berumah tangga. Kalau pun iya, tentu juga bukan sesuatu yang baik. Seyogyanyalah, ketika berumah tangga tidak terlalu bergantung dengan orang tua atau mertua. Ayo semangat mandiri! Gak perlu tersinggung, keles..!

Keempat, pangkat dan jabatan. Seperti juga harta dan kekayaan, pangkat dan jabatan yang dimiliki adalah titipan yang bisa dengan sangat cepat berlalu. Jika ada pernikahan yang dilakukan hanya karena melihat pasangan hidupnya memiliki pangkat dan jabatan yang tinggi, yakinlah pada masanya nanti itu semua akan hilang dengan berbagai alasan dan menimbulkan kekecewaan yang luar biasa.

Kekecewaan inilah nantinya yang akan menimbulkan berbagai benih konflik di tengah rumah tangga. Terbiasa pakai mobil dinas, terbiasa dilayani, terbiasa dihormati, namun ketika amanah itu diambil Allah, semua kembali ke titik nol. Kasih sayang pun kemudian mulai mengalami degradasi bersamaan dengan uang belanja yang semakin menipis. Hiks. Rumah tangga pun retak, pecah berantakan!

Kelima, karena kesolehan dan keimanan. “saya menikah dengan dia karena dia rajin shalat”. Upss.. berarti ketika pasangan hidup kita tidak mau shalat, diceraikan atau minta cerai saja. Atau, karena imannya ‘keren’. Iman itu naik turun. Apakah ketika pasangan hidup kita sedang ‘down’ kita langsung membencinya?

Justru disinilah fungsi membangun rumah tanga itu yaitu untuk yang saling menguatkan satu sama lain. Ketika isteri lagi malas shalat, ada suami yang akan membimbing dan mengingatkan. Ketika suami lagi bermasalah, istri hadir menjadi motivasi keimanannya, dan seterusnya. Bukan saling meninggalkan!

Lantas apa fondasi yang kuat dan kokoh itu? Jawabannya ‘karena Allah’. Menikahlah karena mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Satu-satunya alasan hebat itu adalah karena Allah; karena takut kepada Allah, karena mengikuti bimbingan Rasulullah. Jika sudah ini fondasinya, yakinlah apa pun kondisi kehidupan rumah tangga kita, akan dijalani bersama. Jika sudah menempatkan Al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai ‘undang-undang’ rumah tangga, pasti selamat sampai ditujuan yang diinginkan; Surga Allah. Amin. #BNODOC252311092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

SEMANGAT PERKAWINAN

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya beberapa kali diminta untuk memberikan nasehat perkawinan. Saya agaknya belum patut memberikan nasehat kepada siapa pun. ‘Umur belum setahun jagung, darah belum stampuk pinang’. Belum pantas. Umur perkawinan saya pun masih sangat muda. Dari pada menasehati perkawinan orang lain, rasanya jauh lebih baik mengoreksi perjalanan perkawinan saya sendiri.

Maka saya menolak untuk memberikan nasehat perkainan, tapi saya lebih suka memberikan motivasi perkawinan. Tidak menasehati atau menggurui sang mempelai atau para undangan yang hadir, tapi lebih pada konteks saling menyemangati dan mengingatkan satu sama lain.

Pesta penikahan atau resepsi perkawinan itu adalah ‘starting point’ untuk memulai membangun rumah tangga. Catat, rumah dan tangga. Oleh karena itu, karena baru hendak membangun rumah, hal terpenting adalah memperhatikan ketahanan fondasinya. Fondasi adalah salah satu bagian penting dari sebuah bangunan (rumah). Jika fondasinya kuat, in sya Allah bangunan yang beridiri di atasnya juga akan kokoh.

Maka tugas kita terhadap penganten baru adalah memberi semangat untuk mendirikan fondasi yang ‘anti badai’ dan ‘ramah gempa’. Saya biasa mengingatkan, ada beberapa hal yang tidak boleh dijadikan fondasi rumah tangga karena ia rapuh dan ringkih (fragile). Mudah hancur!

Pertama, hawa nafsu. Membulatkan tekat untuk membangun rumah tangga hanya dengan alasan menyalurkan nafsu syahwat adalah sebuah kerugian yang amat sangat besar. Lebih-lebih jika pernikahan itu diletakkan fondasinya di atas hal ini. Ini adalah serapuh-rapunya fondasi tempat meletakkan bangunan rumah tangga. Sama-sama diketahui bahwa hawa nafsu itu sangat singkat dan berlalu begitu saja.

Tidak percaya? Tanya saja kepada yang sudah lama berumah tangga. Masih samakah gejolak syahwat mereka dengan waktu ketika penganten baru? Kalau pun ada, satu dua dan itu keistimewaan, hehehe. Apakah dengan berlalunya gejolak syahwat terhadap pasangan, bangunan pernikahan itu akan berlalu pula? Ya, jika fondasinya cuma itu.

Kedua, kegantengan dan kecantikan. Jika pernikahan itu hanya dilandasi kemolekan fisik belaka, maka itulah juga fondasi yang mudah lapuk. Sesungguhnya kecantikan dan kegantengan itu bila Allah berkehendak bisa hilang dalam sekejap. Kemaren masih cantik dan ganteng, bisa saja hari ini jatuh dari motor dan hilang tangannya satu. Bisa saja. Apakah masih bertahan dengan kondisi itu?

Tidak pun hilang dalam sekejap, secara alamiah pun gagah dan cantik itu akan dimakan usia. Lihat saja sekeliling kita saat ini. Dulu dia adalah gadis ‘aduhai’ sekarang ‘aduh susah berdiri’ karena dibebani lemak. Perkawinan yang diletakkan di atas fondasi ini akan cepat bubar bersamaan hilangnya pesona yang ada.

Bahkan tidak jarang ada yang rela mengakhiri bangunan perkawinan hanya karena melihat ada yang lebih ‘cling’ dari pasangan hidupnya. Pindah ke lain hati juga ke lain body!

Ketiga, harta dan kekayaan. Harta adalah salah satu titipan yang Allah berikan. Namanya juga titipan, bisa diambil oleh sang pemiliki kapan saja, di mana saja. Maka jika bangunan penikahan hanya berdiri di atas fondasi harta dan kekayaan, ketika jatuh miskin atau melewati hari-hari sulit mereka dipasikan akan memilih untuk ‘balik kanan’. Itulah yang kita kenal dengan istilah, ‘ada uang abang di sayang, tak ada uang abang ditendang’. (Bersambung). #BNODOC25210092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

PARKIR: ANTARA FAKTA DAN PERDA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Sebagai warga Jambi, pernahkah anda membaca atau paling tidak tahu Peraturan Daerah No. 04 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan? Saya yakin sebagian besar masyarakat Jambi belum mengetahuinya. Sebagai masyarakat awam, kita yakin dan percaya bahwa hadirnya Perda ini adalah ikhtiar dari pemerintah daerah untuk memberikan kenyamanan bagi warganya. Berpikir positif!

Namun demikian, tentu saja tidak pula tabu untuk mendiskusikannya. Salah satu bagian penting dari perda ini dan menarik untuk diangkat sebagai diskursus adalah aturan pengelolaan parkir. Sesungguhnya banyak hal yang dapat dicermati dari Perda ini. Paling tidak kita bisa melihat dengan nyata antara apa yang diharapkan perda ini dan fakta-fakta di lapangan. Mari kita lihat dengan memakai kaca mata ‘bening’; objektif.

Pada Bagian Kelima, Paragraf 1 Pasal 106 telah diatur tentang Fasilitas Parkir Umum dan Bongkar Muat Barang, yaitu ayat 3 berbunyi “Lokasi titik parkir di tepi jalan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditentukan/ditetapkan dengan Surat Keputusan Walikota”. Apa fakta di lapangan?

Sudah menjadi pengetahuan umum kita semua bahwa ada begitu banyak titik-titik parkir yang ‘melawan’ peraturan ini. Silahkan cek penyelenggaraan parkir di sepanjang jalan di dalam kota Jambi ini dan diyakini sebagian besar tanpa izin dari Wali Kota sebagaimana yang diwajibkan oleh aturan ini. Artinya, masih sangat banyak parkir-parkir illegal. Jadi wajar saja jika retribusi parkir ‘meleleh’ ke mana-mana. Tidak pernah masuk ke dalam dompet pemda. Kok rebut?

‘Kura-kura dalam perahu’. Parkir-parkir liar ini terkesan sengaja dibiarkan karena dianggap sebagai ‘lokak’ sekelompok orang. Tapi masalahnya bukan itu. Sering sekali parkir semacam ini terjadi ‘premanisme’. Mereka memungut ‘retribusi’ sesuai ‘perpri’ alias peraturan pribadi alias ‘saenak udale dewe’. Jelas, yang menjadi korban adalah masyarakat.

Jangankan juru parkir yang tidak resmi, mereka yang sudah betul-betul berseragam dari pemerintah pun kadang tidak mematuhi ketentuan yang ada. Mari mencermati pasal 102 yang mengatur tentang peran dan fungsi juru parkir. Ditegaskan bahwa “Juru parkir adalah petugas parkir yang bertanggung jawab untuk pengaturan keluar dan masuk kendaraan ke tempat parkir”. Jika ‘diadu’ antara perda dan fakta menyangkut hal ini, pasti anda akan senyam-senyum. Layanan yang diberikan oleh juru parkir masih jauh dari harapan.

Sekali-kali, masuklah ke pasar Jambi yang anda membayar secara resmi retribusi di pintunya. Adakah tukang parkir di sana yang siap siaga memandu anda parkir? Sulit! Kalau pun ada, satu dua yang kadang acuh tak acuh. Di tengah sempitnya lokasi parkir yang tersedia, para pengunjung berjibaku sendiri. Begitu juga ketika hendak keluar dari tempat parkir tersebut, ‘lantak lah’!

Padahal, amanat perda ini sangat jelas, jangankan yang di tengah pasar, di pinggir jalan pun harus mengikuti ketentuan yang ada, bahwa “Terhadap juru parkir di tepi jalan umum dilakukan pendidikan atau pelatihan yang meliputi keterampilan, disiplin dan sopan santun”. Mmm…jangankan sopan santun, memandu parkir saja mereka ‘ogah-ogahan’. Pertanyaannya, sudahkah mereka diberikan pelatihan dan bimbingan? Jika belum, itu berarti kesalahan ada pada Pemda. Jika sudah, berarti oknum juru parkirnya yang harus dibina lagi.

Masih sangat banyak hal-hal yang sesungguhnya apa yang menjadi amanat perda ini belum terlaksana dengan baik. Pemerintah daerah Kota Jambi agaknya masih harus bekerja lebih keras untuk membenahi manajemen dan sumber daya manusia pengelolaan parkir di kota ini. Jangan marah jika target pendapatan dari retribusi parkir blum maksimal. Benahi dulu, baru ambil hasilnya!

Akhirnya, pengelolaan parkir adalah salah satu persoalan rumit di perkotaan, lebih-lebih jika tidak dikelola dengan baik dan bijaksana. Sudah seharusnya aturan-aturan (perda dan sejenisnya) ditegakkan sebagaimana mestinya. Ingat, untuk membuat sebuah perda telah dikeluarkan uang negara begitu banyak. Jangan biarkan terbuang sia-sia. Tegakkanlah! #BNODOC25109092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

MEN-DESIGN KEHIDUPAN MAHASISWA (2)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

[Kesatu, “A goal without a plan is just a wish”, maka jika seorang mahasiswa ingin sukses dalam menempuh pendidikannya, semua harus dirancang dan direncanakan dengan baik. Beberapa fase penting harus dilewati sesuai situasi yang ada. Fase pertama merupakan tahun awal untuk penyesuaian. Fase kedua merupakan waktu yang baik untuk memulai meraih prestasi setinggi langit dan mulai mengenal organisasi sebagai penunjang kehidupan seorang mahasiswa].

Fase ketiga, semester lima dan enam. Pada fase ini seorang mahasiswa seharusnya sudah memiliki daya analisis dan ‘critical thinking’ yang baik. Apa yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan (Scriven & Paul, 1992).

Ciri intelektualitas seorang mahasiwa pada fase ini sudah harus benar-benar menuju kematangan. Berpikiri kritis akan menggiring dan membentuk pola tingkah dan tutur baik di tengah mayarakat kampus maupun masyarakat luas. Segala persoalan-persoalan yang dihadapi akan ‘digoreng’ dengan baik sehingga matang dan ‘gurih’. Pada fase inilah seorang mahasiswa dapat tampil sebagai sumber daya manusia yang aktif ‘memikirkan’ persoalan-persoalan kebangsaan.

Dengan kemampuan berpikir kritis inilah mereka muncul dengan label ‘agent of change’. Boleh jadi, label agen perubahan itu berangkat dari ‘perlawanan’ yang dilakukan oleh kaum intelektual terhadap apa yang telah menjadi ‘pakem’ di tengah masyarakat. Kesannya, semua yang ada di tengah masyarakat dianggap salah. Dibantah!

Untuk memenuhi naluri intelektual dan berpikir kritis tersebut, pada fase ini seorang mahasiswa mau tidak mau atau suka tidak suka memperkaya diri dengan berbagai bacaan sehingga memperoleh informasi yang memadai. Lebih-lebih di zaman ini, perkembangan media sosial (medsos) memberikan kemudahan memperoleh informasi apa pun. Buku kemudian menjadi teman akrab.

Namun harus hati-hati pada semeseter enam. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah manajemen waktu. Aktif berorganisasi tidak boleh mengabaikan kuliah. Pada semeseter enam ini, ibarat novel, sudah mulai masuk pada ‘resolusi’ yaitu menujutu ke ‘ending’ cerita. Tidak boleh lagi terlalu asyik berorganisasi. Jika dipresentasekan, pembagian waktu sudah harus lebih banyak untuk penyelesaian studi yaitu 70%:30%.

Fase terakhir, semester tujuh dan delapan. Pada fase ini mahasiswa berada pada ujung perjuang. Tapi jika tidak hati-hati, malah sebaliknya, akan berlarut-berlarut. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sudah lebih pada aktivitas ilmiah yang dapat menunjang penelitian dan penulisan tugas akhir (skripsi). Memang pada semester ini, mahasiswa sudah harus disibukkan dengan kegiatan kampus seperti Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta).

Maka yang harus diperhatikan pada fase ini adalah penyelesaian tugas akhir kuliah. Inilah masanya seorang mahasiswa mulai menakar masa depannya. Tenaga dan pikiran sebesar-besarnya dikerahkan pada penelitian dan penulisan. Energi yang digunakan untuk urusan selain peneyelesaian kulaih adalah energi-energi yang tersisa; paling 10%.

Akhirnya, fase demi fase yang dilewati merupakan tahapan kehidupan yang harus dilalui oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa hebat adalah yang mampu merencanakan studinya dengan baik. Kuncinya Cuma satu, plan your work and work your plan. Selamat berjuang! #BNODOC25008092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

MEN-DESIGN KEHIDUPAN MAHASISWA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Seorang penulis berkebangsaan Perancis yang juga berprofesi sebagai pilot bernama Antoine de Saint terkenal dengan ungkapannya, “A goal without a plan is just a wish” (impian tanpa perencanaan hanyalah khayalan). Penting sekali untuk merencanakan sesuatu yang hendak dicapai.

Begitu juga dengan mahasiswa. Jika seorang mahasiswa tidak pandai merencanakan studinya di perguruan tinggi, maka ia tidak akan pernah mencapai mimpi-mimpi yang diinginkan, atau paling tidak sulit untuk mewujudkannya. Dampaknya jelas, paling kurang menjadi ‘mapala’ alias mahasiswa paling lama.

Apa yang harus direncanakan oleh seorang mahasiswa dalam menjalani kehidupannya di perguruan tinggi. Untuk gampangnya, saya bagi menjadi beberapa fase.

Fase pertama, semester satu dan dua. Pada fase ini mahasiswa masih berstatus sebagai mahasiswa baru (maru). Semua masih serba baru; kawan-kawan baru, dosen baru, lingkungan berlajar baru, kos baru, dan seterusnya. Maka pada fase ini hal utama yang dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah membangun percaya diri dan beradaptasi.

Adaptasi atau penyesuaian sangat perlu dilakukan karena merupakan syarat mutlak dalam melakukan hubungan dengan lingkungan yang serba baru tersebut. Sangat yakin bahwa apa yang dimiliki dari kampung halaman pastilah berbeda. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang memiliki budaya juga bahasa yang berbeda. Walaupun serba baru, jangan pula terlalu bimbang dalam menjalankan keseharian di dunia kampus.

Begitu juga pada semester kedua, seharusnya sudah mampu menyesuaikan diri dengan segala situasi dan kondisi yang ada. Maka saatnya di semester ini meraih prestasi dan mengenal oraganisasi. Pada semester dua ini yang ditawarkan oleh kampus biasanya masih mata kuliah-mata uliah umum (MKDU) sehingga masih relatif gampang untuk mencapi nilai yang tinggi.

Fase kedua, semester tiga dan empat. Pada fase ini mahasiswa seharusnya sudah memiliki banyak teman khsusunya untuk menunjuang proses belajar di kampus. Tidak hanya teman dalam satu jurusan atau satu fakultas tapi juga teman-teman di luar lingkungan tersebut. Semakin banyak teman dan semakin luas pergaulan maka akan semakin baik dalam pengembangan diri.

Karena pada fase ini sudah mulai mendalami ilmu sesuai jurusan masing-masing, maka sudah seharusnya mahasiswa menguasai teori-teori yang diajarkan. Tidak hanya yang disampaikan dosen di kelas tapi juga dari berbagai sumber seperti buku dan jurnal. Sehingga pada fase ini mahasiswa juga harus update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya.

Di semester ini mahasiwa sudah boleh serius mengikuti beberapa organisasi, baik intera maupun ekstra kampus. Pilihlah oraganisasi-organisasi yang sekaligus menunjang keilmuan dan dapat menempa diri meningkatkan kemampuan soft-skill.

Namun demikian, tentunya harus diingat bahwa organisasi jangan sampai ‘mengorbankan’ kuliah. Jangan sampai ada istilah ‘kuliah mengganggu rapat’. Artinya, harus betul-betul pandai dalam manajemen waktu. Mampu membagi waktu antara kepentingan organisasi dan kepentingan kuliah. Kuliah tetap nomor satu karena organisasi sifatnya penunjang kesuksesan. Tapi tidak juga boleh diabaikan.

Fase ketiga, semester lima dan enam. Pada fase ini seorang mahasiswa seharusnya sudah memiliki daya analisis dan ‘critical thinking’ yang baik. (bersambung) #BNODOC24907092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

MENJADI MAHASISWA HEBAT (2)

Oleh: Bahren Nurdin, MA

[Kesatu, Seperti apa mahasiswa hebat itu? Mahasiswa hebat itu adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara prestasi akademis dan non akademis. Ada beberapa skill yang ‘wajib’ digali dan kembangkan diantaranya, basic skill yang merupakan kemampuan dasar keahlian di bidang ilmu yang ia dalami, dan communication skill, Kemampuan komunikasi kemudian menjadi penentu sangat kuat dalam mencapai kesuksesan di berbagai bidang]

Ketiga, critical and creative thinking. Berpikir kritis dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional, yang meliputi kemampuan untuk berpikir reflektif dan independen. Kata kuncinya adalah jernih, rasional, reflektif dan independen. Berpikir jernih artinya mampu memberikan analisa dan pandangan yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bersifat emosional (baper).

Jernih juga dapat dipahami sesuatu yang bersih dan tidak terkontaminasi oleh apa pun. Air yang jernih akan terlihat bening dan menyejukkan. Berpikir yang jernih juga demikian. Orang-orang yang mampu berpikir jernih akan mampu menempatkan suatu persoalan pada tempatnya yang pas. Semua ‘kotoran’ yang mengganggu akan disingkirkan.

Pemikiran yang jernih inilah kemudian akan menghasilkan rasionalitas yang baik dalam melihat segala persoalan. Itu berarti bukan pula tidak melibatkan hati dan perasaan sama sekali, namun mampu mengelola dan menempatkannya secara proporsional. Dengan cara ini pula, dapat mengasah sensitivitas terhadap keadaan dan lingkungan sekitar (reflektif).

Orang tidak akan bisa berpikir kiritis jika ia masih di dalam sebuah tekanan atau sistem yang membelenggu dirinya. Maka independensi sangat penting pula untuk membangun sebuah pola pikir yang kritis dan kreatif. Kebebasan dalam menyampaikan ide-ide sangat dipengaruhi oleh independensi yang dimiliki. Independent berarti pula tidak memihak dan objektif.

Orang-orang yang memiliki daya kritis dan berpikir kreatif akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang kehidupan. Maka Mahasiswa hebat itu salah satu cirinya adalah mereka yang terus mengasah diri untuk berpikir kritis dan kreatif.

Keempat, problem solving skill (kemampuan menyelesaikan masalah). Semua aspek kehidupan di dunia ini memiliki masalah. Bahkan masalah itu sudah ada jauh sebelum manusia dilahirkan. Maka, konsekuensi logisnya, tidak ada satu orang pun di atas dunia ini yang lepas dari masalah karena memang masalah tidak untuk dihindari. Masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan.

Menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah sebuah kemahiran (skill) yang bisa dipelajari dan diasah. Mahasiswa hebat adalah mereka yang terus menerus belajar menyelesaikan masalah demi masalah yang dihadapinya, dari yang terkecil hingga yang terberat. Seorang mahasiswa yang hebat tidak boleh pula larut dalam persoalan yang dihadapi, apa lagi sampai putus asa.

Maka kemahiran menyelesaikan masalah di era ini menjadi salah satu unsur penting dalam menjawab tantangan zaman yang ada. Skill ini pun sesungguhnya bisa didapat oleh mahasiswa pada kegiatan-kegiatan ekstra kampus seperti aktif berorganisasi.

Akhirnya, kemampuan berpikir kritis dan kreatif sangat dipentingkan dalam membentuk mental dan masa depan seorang mahasiswa hebat. Begitu juga dengan problem solving skill yang akan menjauhkan diri seorang mahasiswa dari keputusasaan. Segala masalah dapat dihadapi dan diselesaikan dengan baik dan bijaksana. Jadilah mahasiswa hebat! #BNODOC24806092017

*Akademisi UIN STS Jambi dan Motivator Pendidikan Nasional. Tinggal di Jambi