MEN-DESIGN KEHIDUPAN MAHASISWA

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Seorang penulis berkebangsaan Perancis yang juga berprofesi sebagai pilot bernama Antoine de Saint terkenal dengan ungkapannya, “A goal without a plan is just a wish” (impian tanpa perencanaan hanyalah khayalan). Penting sekali untuk merencanakan sesuatu yang hendak dicapai.

Begitu juga dengan mahasiswa. Jika seorang mahasiswa tidak pandai merencanakan studinya di perguruan tinggi, maka ia tidak akan pernah mencapai mimpi-mimpi yang diinginkan, atau paling tidak sulit untuk mewujudkannya. Dampaknya jelas, paling kurang menjadi ‘mapala’ alias mahasiswa paling lama.

Apa yang harus direncanakan oleh seorang mahasiswa dalam menjalani kehidupannya di perguruan tinggi. Untuk gampangnya, saya bagi menjadi beberapa fase.

Fase pertama, semester satu dan dua. Pada fase ini mahasiswa masih berstatus sebagai mahasiswa baru (maru). Semua masih serba baru; kawan-kawan baru, dosen baru, lingkungan berlajar baru, kos baru, dan seterusnya. Maka pada fase ini hal utama yang dilakukan oleh seorang mahasiswa adalah membangun percaya diri dan beradaptasi.

Adaptasi atau penyesuaian sangat perlu dilakukan karena merupakan syarat mutlak dalam melakukan hubungan dengan lingkungan yang serba baru tersebut. Sangat yakin bahwa apa yang dimiliki dari kampung halaman pastilah berbeda. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang memiliki budaya juga bahasa yang berbeda. Walaupun serba baru, jangan pula terlalu bimbang dalam menjalankan keseharian di dunia kampus.

Begitu juga pada semester kedua, seharusnya sudah mampu menyesuaikan diri dengan segala situasi dan kondisi yang ada. Maka saatnya di semester ini meraih prestasi dan mengenal oraganisasi. Pada semester dua ini yang ditawarkan oleh kampus biasanya masih mata kuliah-mata uliah umum (MKDU) sehingga masih relatif gampang untuk mencapi nilai yang tinggi.

Fase kedua, semester tiga dan empat. Pada fase ini mahasiswa seharusnya sudah memiliki banyak teman khsusunya untuk menunjuang proses belajar di kampus. Tidak hanya teman dalam satu jurusan atau satu fakultas tapi juga teman-teman di luar lingkungan tersebut. Semakin banyak teman dan semakin luas pergaulan maka akan semakin baik dalam pengembangan diri.

Karena pada fase ini sudah mulai mendalami ilmu sesuai jurusan masing-masing, maka sudah seharusnya mahasiswa menguasai teori-teori yang diajarkan. Tidak hanya yang disampaikan dosen di kelas tapi juga dari berbagai sumber seperti buku dan jurnal. Sehingga pada fase ini mahasiswa juga harus update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya.

Di semester ini mahasiwa sudah boleh serius mengikuti beberapa organisasi, baik intera maupun ekstra kampus. Pilihlah oraganisasi-organisasi yang sekaligus menunjang keilmuan dan dapat menempa diri meningkatkan kemampuan soft-skill.

Namun demikian, tentunya harus diingat bahwa organisasi jangan sampai ‘mengorbankan’ kuliah. Jangan sampai ada istilah ‘kuliah mengganggu rapat’. Artinya, harus betul-betul pandai dalam manajemen waktu. Mampu membagi waktu antara kepentingan organisasi dan kepentingan kuliah. Kuliah tetap nomor satu karena organisasi sifatnya penunjang kesuksesan. Tapi tidak juga boleh diabaikan.

Fase ketiga, semester lima dan enam. Pada fase ini seorang mahasiswa seharusnya sudah memiliki daya analisis dan ‘critical thinking’ yang baik. (bersambung) #BNODOC24907092017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: