MINDSET: GIVE MORE, ASK LESS

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Salah satu sifat dasar manusia secara umum adalah lebih suka menerima dari pada memberi. Senang sekali jika menerima sesuatu dari orang lain, tapi mulai hitung-hitungan ketika harus memberi. Ya, kan? hehe.

Bagaimana jika pola pikir (mindset) umum ini coba dibalik. Mulai hitung-hitungan jika diberi orang lain, tapi senang sekali jika bisa memberikan sesuatu lebih. Memberi tidak hanya persoalan uang atau barang. Banyak hal yang dapat diberikan. Itulah konsep yang coba dibangun melalui ‘Give More, Ask Less’ (memberi lebih banyak, menuntut lebih sedikit). Hasilnya, prestasi.

Sebelum memutuskan secara total bergelut di dunia kampus, saya cukup lama juga berkecimpung di perusahaan swasta dalam berbagai bidang, dari perkebunan hingga pariwisata. Saya pernah menempati kedudukan dari level anak buah hingga berada di peringkat top manajemen. Di dunia professional seperti ini, teranyata konsep ‘give more ask less’ ini sangat diperlukan jika kita ingin menjadi pribadi yang hebat dan berprestasi dalam menapak karir.

Ada pegalaman yang menarik tentang ini. Suatu ketika pimpinan saya meminta untuk didampingi rapat dengan stakeholder. Saya kebetulan ditempatkan sebagai karyawan rendahan di bidang humas. Tugas utama tentunya adalah mendampingi pimpinan dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Saya menyiapkan data-data yang diminta.

Ketika rapat sedang berlangsung, saya tentunya menunggu di luar ruang rapat dan menanti perintah. Tiba-tiba Sang Bos keluar sedikit terburu-buru dan cemas. Jika tidak silap waktu itu rapat antara pimpinan perusahaan dan pemerintah. Bos saya setengah menyesal berkata, “Waduh, saya lupa meminta kamu menyiapkan data itu. Sekarang saya sangat membutuhkannya. Gimana ya?”. Saya kemudian pamit ke mobil dan mengambil data yang diinginkan. “Apa data ini yang bapak maksud?”.

Apa reaksi Sang Bos saat itu? Entah sengaja atau tidak, setelah sedikit membaca dokumen yang saya berikan, beliau melompat dan memeluk saya kemudian berkata, ‘Good Job”.

Sehari sebelum rapat itu dilaksanakan, saya sudah diberi tahu tentang bahasan rapat tersebut. Saya kemudian mengira-ngira dokumen apa saja yang dibutuhkan, walaupun tidak diminta. Itu kebiasaan saya sejak lama. Data-data yang memungkinkan diperlukan saya siapkan diam-diam. Resikonya, jika tidak dibutuhkan, ya tidak dikeluarkan. Intinya, nambah pekerjaan.

Nambah pekerjaan inilah sebenarnya konsep ‘give more’. Saya bisa saja mengatakan, “Itulah, mengapa Bapak tidak bilang?”. Dan, saya tidak akan disanksi karena tidak memiliki data yang diperlukan tersebut. Jika itu yang terjadi, saya tidak memiliki nilai tambah. Nilai tambah inilah sebenarnya yang disebut prestasi. Jika seorang pegawai hanya menyelesaikan tugas yang diperintahkan, itu bukan prestasi. Itu namanya melepas kewajiban. Prestasi itu ketika mampu menyelesaikan sesuatu lebih dari yang ditugaskan.

Jadi siapa orang-orang yang berprestasi itu? Adalah mereka yang mempu mengorbankan dirinya untuk berbuat lebih dari tugas yang diberikan. Dan, tidak terlalu menuntut terhadap apa yang ia dapatkan. Mereka sangat yakin bahwa apa yang didapat itu pasti hasil dari apa yang dilakukan. Tidak perlu dipinta, lakukan yang terbaik pasti akan mendapatkan yang terbaik pula.

Akrhirnya, sesungguh tidak perlu menuntut lebih jika ingin mendapat lebih. Tapi lakukanlah lebih maka akan mendapat lebih. Kuncinya, ‘give more’ tanpa mengkhawatirkan apa yang didapat. Yakinlah! #BNODOC28210102017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: