MINDSET; ORANG TUA ADALAH ‘INVESTASI KEHIDUPAN’

Oleh: Bahren Nurdin

Selama ini kita menyakini bahwa investasi jangka panjang itu salah satunya adalah anak. Agaknya ada yang sedikit terlupakan bahwa orang tua adalah juga investasi yang tidak kalah pentingnya dibanding dengan anak.

Baru-baru ini saya mendapatkan kiriman melalui media sosial sebuah video singkat tentang ‘curhatan’ seorang ayah. Dari bahasa yang digunakan, video ini berasal dari negeri tetangga Malaysia karena menggunakan Bahasa Melayu. Saya tidak kenal persis siapa namanya, tapi dari performa yang ditampilkan ia seorang ayah yang terdidik dan juga berada.

Ceritanya sederhana. Dia memiliki 11 orang anak (5 perempuan dan 6 laki-laki). Ia telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya dengan sukses. “semuanya hebat-hebat, semua sudah mendapat ijazah dan memiliki harta kekayaan masing-masing”, kata Sang Ayah. Tapi sungguh menyesakkan dada, dibalik kesuksesan anak-anak itu, sang ayah menyimpan sedih dan iba karena ternyata anak-anaknya abai akan dirinya. Anak-anaknya tidak pernah telfon, mengunjungi, apa lagi membelikan sesuatu untuk dirinya. Sedih!

Menahan isak tangis Sang Ayah menceritakan perlakuan anak-anak kepada dirinya. Namun ada sebuah pesan mendalam yang hendak ia sampaikan melalui video ini yaitu apa yang berlaku atas dirinya saat ini, itu pulalah yang pernah ia perbuat kepada kedua orang tuanya. Dia menyadari bahwa dirinya tidak juga pernah mengistimewakan orang tuanya. Berlakulah ‘hukum karma’ dan itulah yang kita sebut ‘what you give what you get’. Apa yang diberi, itupulalah yang didapat (investasi).

Sungguh kisah semacam ini bukan cerita baru. Ajaran agama pun sudah sangat banyak memberikan peringatan akan hal ini. Lebih-lebih ajaran Islam, bahwa Al-Quran dan Hadits sangat banyak memberikan perhatian bagaimana anak harus memperlakukan orang tua. Banyak sekali, namun sebagian besar dari kita masih abai.

Melalui artikel singkat ini, saya tidak ingin bertausiah tapi ingin sedikit menawarkan perubahan minset bahwa meperlakukan orang tua dengan baik bukan merupakan beban tapi sebagai investasi. Kehidupan modern saat ini pasti suka dengan yang namanya investasi dan menghindari sedapat mungkin apa pun yang tergolong dalam kategori beban atau biaya.

Diakui atau tidak, mengapa kasus di atas terjadi, karena masing-masing dari pelaku merasa semua adalah beban dan pengorbanan sehingga berat untuk dilakukan. Maka mulai hari ini saya ingin mengajak kita semua untuk mengubah pola pikir (melakukan sesuatu kebaikan untuk orang tua itu) dari beban menjadi investasi.

Pertama, investasi waktu. Saya yakin, sebagian besar dari kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehari-hari sehingga tidak ada waktu untuk sekedar berkomunikasi dengan kedua orang tua (yang orang tuanya masih hidup), atau sekedar mendoakan mereka sehabis shalat lima waktu (bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia). Waktu terlalu berharga, apa lagi untuk berkunjung dan menghabiskan waktu bersama mereka hanya sekedar berbagi cerita atau mendengarkan keluh kesah mereka. Time is money.

Sekarang kita ubah pola pandang ini. Mulai sekarang kita harus melihat waktu yang dihabiskan untuk orang tua itu adalah investasi. Investasi untuk diri kita sendiri. Artinya, semakin banyak dan berkualitas waktu yang dihabiskan bersama orang tua kita, maka nantinya itu pula yang akan kita dapatkan dari anak-anak kita. Secara alamiah, semakin banyak yang diinvestasikan maka akan semakin banyak keuntungan yang ‘dipanen’ pada masanya nanti.

Kedua, investasi materi. Yakinlah bahwa orang tua kita tidak meminta balas budi terhadap apa yang telah mereka berikan. Jikapun mereka meminta balas pastilah seorang anak tidak akan mampu membalasnya. Terlalu besar yang diberikan orang tua terhadap anak. Maka, pola pikir ini juga harus diubah. Ketika kita memberi materi (uang atau harta benda) kepada orang tua, itu bukan dalam rangka balas budi tapi adalah investasi untuk kita sendiri.

Sekali lagi, semakin besar yang kita investasikan di jalan ini, maka itu pulalah yang nanti akan didapat. Bukan pula meminta balas dari anak-anak kita, tetapi yakinlah Allah-lah yang akan memberikannya melalui anak-anak kita sesuai apa yang telah kita investasikan.

Akhirnya, sudah saatnya kita mengubah mindset yang selama ini kita anggap beban untuk memberikan yang terbaik kepada orang tua, menjadi sebuah investasi yang menjanjikan. Dengan pola pikir semacam ini, kita akan ‘memaksa’ diri sendiri untuk menggapai ridhonya orang tua dengan berinvestasi. Siapa yang tidak mau berinvestasi, jangan berharap akan mendapatkan bagian di masa yang akan datang. Ingat, ”Ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.” (Riwayat Ath Thabarani). Semoga bermanfaat. Amin. #BN30418012018

*Akademisi UIN STS Jambi dan Praktisi Mind-Setting Programmer

Iklan

‘KUE TART’ DARI KPK UNTUK ULTAH PROVINSI JAMBI KE-61

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Hari ini, 6 Januari 2018 Provinsi Jambi memasuki usia 61 tahun. Selamat Ulang Tahun, wahai Bumi Sulthan Thaha! Tapi sungguh, ulang tahun kali ini merupakan tahun yang ‘istimewa’ karena beberapa waktu lalu sejumlah pejabat pemerintah ditangkap tangan oleh Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) karena tengah melakukan tindak pidana korupsi (suap-menyuap). Beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka, dan yang lainnya sedang diperiksa sebagai saksi, termasuk kepala pemerintahan; Gubernur Jambi.

Tragis dan memalukan! Saya berani mengatakan bahwa hal ini tragis dan memalukan karena sangat kontra produktif dengan apa yang telah dijanjikan oleh Pasangan Zumi Zola dan Fachrori Umar dalam janji politik mereka pada saat kampanye dulu. Masyarakat pasti belum lupa bahwa mereka pernah memberikan 14 janji politik kepada masyarakat. Pada butir ke 5 jelas sekali tertera ‘TIDAK KKN’.

Betul, yang ditangkap secara langsung bukan ZZ dan FU, tetapi bagaimana pun mereka yang sekarang mengenakan rompi orange itu adalah orang-orang ‘ring satu’ pemerintah ini. Itu artinya, tetap saja merupakan kegagalan pemerintah ini dalam mengawal apa yang telah dijanjikan. ‘Kau yang berjanji, kau yang mengingkari’, lirik lagu Rhoma Irama dalam kisah Kegagalan Cinta.

Apa makna semua ini? Partama, paling tidak lebih kurang dua tahun perjalanan pemerintahan Jambi Tuntas telah gagal mengawal janji politiknya sendiri, khususnya untuk tidak korupsi. Padahal dulu, masyarakat juga pasti masih ingat bagaimana ‘perang opini’ yang dilakukan pasangan ini untuk menyerang ‘lawan politik’ mereka pada saat kampanye dengan isu anti KKN. Kini yang kepercik muka sendiri!

Kedua, agaknya sampai hari ini, pemerintah masih sangat sibuk dengan dirinya sendiri. Dari awal dilantik hingga hari ini berita tentang pemerintahan yang ‘hot’ masih berputar-putar menyangkut ‘cucuk-cabut’ pejabat. Masih ingat rame-rame pelantikan 600an pejabat yang menghebohkan itu? Pasti belum lupa karena baru saja usai! Lantas kapan bekerjanya? Kapan memikirkan rakyatnya?

Pertanyaan ini tentu sangat penting karena masih terlalu banyak janji politik yang harus ditunaikan. Waktu terus berjalan. Jika dua tahun pemerintahan belum mampu maksimal melaksanakan janji politik, maka dipastikan hanya tersisa paling satu tahun ke depan yang memungkinkan pemerintah ini bisa fokus bekerja karena diyakini pada dua tahun terakhir masa pemerintahan sudah akan disibukkan lagi oleh persiapan pilkada selanjutnya. Lagi-lagi untuk diri mereka sendiri.

Ketiga, suara rakyat dikibiri. Terpilihnya pasangan ZZ dan FU tentunya adalah atas kepercayaan masyarakat Jambi yang telah memberikan suara mereka pada saat pilkada yang lalu. Tentu saja, rakyat Jambi menginginkan yang terbaik sebagai mana juga slogan yang telah mereka usung ‘Jambi Lebih Baik’. Kini, hampir dua tahun pemerintahan berjalan, apanya yang lebih baik? Atau paling tidak, adakah tanda-tanda akan menuju ‘lebih baik’ itu? Ditangkapnya para pejabat teras oleh KPK beberapa lalu, seolah memeberi tanda suara rakyat yang diberikan kepada pemerintah ini telah dikibiri. Kepercayaan masyarakat dikhianati!

Baiklah, masih ada waktu. Belum terlambat! Apa yang dapat dilakukan dengan sisa waktu yang ada? Tidak ada kata lain kecuali fokuslah bekerja untuk rakyat. Sudahi ‘bongkar-pasang’ pejabat. Maksimalkan semua sumberdaya yang ada untuk merealisasikan janji-janji politik yang telah dibuat. ‘Paksa’ para pejabat dan seluruh aparatur negara di provinsi ini untuk berjibaku menggapai impian yang bernama ‘Jambi TUNTAS’ (Tertib, Unggul, Nyaman, Tangguh, Adil dan Sejahtera). Tuntaskan! ‘Jangan sampai idak’, kato orang Jambi.

Hanya dengan cara itulah paling tidak dapat mengobati kekecewaan masyarakat saat ini. Jangan biarkan masyarakat pesimis. Bangun optimisme mereka. Masyarakat tidak akan pernah berhenti beharap dan berharap. Mereka memang tidak bisa berbuat banyak selain memberikan kepercayaan dan menanti janji-janji pemerintah yang telah diumbar. Selebihnya, diserahkan pada para penguasa yang sedang memimpin.

Akhirnya, hadiah ulang tahun Provinsi Jambi kali ini sangat ‘istimewa’ dari KPK. ‘Kue tart’ itu bernama OTT. Hal ini telah membuktikan bahwa pemerintah gagal menunaikan janji politiknya untuk TIDAK KKN. Namun demikian, masyakarat tidak akan habis harap dan akan selalu mendoakan yang terbaik. Semoga di sisa waktu yang masih ada, kedepannya pemerintah ini mampu maksimal menggapai impian ‘Jambi Tuntas’. Amin.

*Akademisi UIN STS Jambi dan Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi [KOPIPEDE] Provinsi Jambi.

PARE; MURAH DAN MUDAHNYA ILMU

Oleh: Bahren Nurdin

Nampaknya sulit bagi saya untuk tidak membandingkan Jogja di era sebelum tahun 2000 dengan apa yang saya temukan di Pare saat ini. Setiap hal seakan terulang kembali apa yang telah menjadi memori puluhan tahun di sana. Hal terkecil masalah makan misalnya, saya masih merasakan makan siang dengan harga delapan ratus rupiah sudah lengkap dengan lauk telur dan sayur mayur. Harga yang sangat bersahabat dengan kantong anak petani seperti saya.

Hal itu pulalah yang dapat digambarkan saat ini terhadap Pare. Saya menjamin di sini masih serba murah dan mudah. Makan murah. Nasi Padang yang notabenenya makan ‘mewah’ bagi anak kost, di sini masih dapat disantap dengan harga 6000 perak. Sebuah harga yang dapat dipastikan tidak dapat diperoleh di tempat lain. Itu artinya makan dan minuman yang lain pun juga masih sangat terjangkau. Temasuk tempat kost-kosan yang masih bisa disewa dengan harga seratus atau dua ratus ribu perbulan.

Selain hal-hal yang bersifat domistik di atas, salah satu syarat mutlah kota ilmu itu adalah mudah dan murahnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Paling tidak dilihat dari murahnya harga buku dan mudahnya mendapatkan proses belajar mengajar baik formal maupun informal seperti seminar dan pelatihan.

Bagi kawan-kawan alumni Mesir dan pernah berkuliah di universitas tertua di dunia, Al-Azhar University, dapat dipastikan sudah sangat hafal dengan toko buku – toko buku murah yang disediakan. Sebut saja maktabah Iqro’ atau maktabah Dar Es Salam yang merupakan salah satu surga buku bekas dari ribuan yang lainnya. Di Jogja, dulu kita sangat mengenal ‘Shopping Center’ yang menyediakan berbagai sumber ilmu, dari makalah bekas hingga kamus palsu. Semua demi ilmu.

Begitulah yang saat ini sedang terjadi di Pare ini. Beberapa tokoh buku murah bermunculan. Harganya sangat terjangkau. Buku-buku yang di luar dijual ratusan ribu, di sini cukup dengan puluhan ribu atau bahkan ribuan saja. Bahkan uniknya, ada beberapa buku yang hanya di jual di sini dengan label ‘Khusus Pare’. Anda tidak bisa memperoleh buku-buku itu jika tidak di langsung beli di sini.

Begitu juga dengan fasilitas-fasilitas keilmuan seperti seminar dan pelatihan. Beberapa seminar disediakan gratis atau jika pun bayar cukup dengan cap ‘harga mahasiswa’. Pelatihan-pelatihan bahasa juga ada yang mulai menyediakan dengan harga murah dan bahkan gratis. Tentunya, seminar-seminar di sini tidak seperti diadakan di hotel berbintang, tapi cukup duduk lesehan sambil nyeruput kopi hitam. Semua mudah dan murah. Fasilitasnya boleh mudah dan murah, tapi Ilmunya tetap mahal dan tak ternilai. Begitulah seharusnya!

Inilah ciri-ciri ilmu pengetahuan itu akan berkembang pesat di Pare ini. Seluruh aspek pendukung orang-orang pencari ilmu itu didapat dengan murah lagi mudah. Nilai-nilai ekonimis atau komersilnya tentu tidak dapat dinafikan karena semua memerlukan biaya. Tapi, nilai-nilai itu tidak boleh membunuh nilai ilmu pengetahuan yang lebih besar. Nilai ekonomis yang muncul harus dijadikan nilai tambahan bukan merupakan tujuan utama agar tidak tumbuh kapitalisme.

Akhirnya, para pecinta ilmu (khususnya ilmu bahasa), Pare sudah dapat dijadikan angin segar. Mudah dan murahnya memperoleh ilmu pengetahuan di sini, mudah-mudahan menjadi ‘pupuk’ nan subur untuk tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan bagi semua orang. Berharap kedepannya juga akan tumbuh sekolah tinggi atau universitas-universitas yang jauh dari nilai-nilai komersialisme dan kapitalisme. Semoga. #BN29820122017

*Akademisi UIN STS Jambi

PARE ‘REINKARNASI’ JOGJA

Oleh: Bahren Nurdin

Sudah matikah Jogja sehingga saya menggunakan kata ‘reinkarnasi’? Memang, kata ‘reinkarnasi’ digambarkan oleh KBBI sebagai ‘penjelmaan (penitisan) kembali makhluk yang telah mati’. Saya hanya meminjam istilah ini paling tidak untuk memberikan gambaran bagaimana Jogja ketika saya pertama menginjakkan kaki di sana pada tahun 1998 dengan Jogja yang beberapa minggu lalu saya kunjungi. Berbeda!

Saya ‘kehilangan’ Jogja. Saya sempat menapak tilas menelusuri jalan-jalan dulu yang pernah ditempuh. Semua berubah. Tentu, tidak bermaksud pula menyalahkan perubahan karena memang yang hakiki itu sesungguhnya adalah perubahan itu sendiri. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjalanan waktu akan selalu membawa perubahan demi perubahan.

Dulu, di sepanjang Jalan Kali Urang, dari kampus UGM hingga perempatan Kentungan, berjejer penjual gudeg di pagi hari untuk menyambut perut-perut mahasiswa yang kelaparan di subuh buta. Menyediakan sarapan pagi bagi mereka agar penuh energi dan semangat menuju kampus. Kini, bangunan pencakar langit berjejer menjulang tinggi. Boleh jadi para Si Mbok pedagang gudeg itu telah terusir dari tanah mereka sendiri. Hotel, restoran, dan café mewah menjadi warna ‘baru’ kehidupan kota ini. Sepeda ontel yang dulu berkeliaran kian kemari kini telah terjajah oleh ojek online. Berubah!

Itulah yang saya sebut ‘kematian’. Bukan Jogja secara fisik yang telah sirna, tapi rasa dan nilai yang telah pupus. Semua tergerus dimakan arus zaman nan rakus.

Kerinduan mendalam akan Jogja seakan terobati saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung kecil bernama Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Label yang melekat padanya adalah ‘Kampoeng Inggris’. Hampir dua bulan menghabiskan waktu di desa ini, saya menemukan roh Jogja yang begitu kuat dan mengakar. Itulah mengapa saya berani mengatakan bahwa pada masanya Pare akan menjadi jelmaan Jogja; Kota Pelajar.

Pada sebuah restoran kecil saya menemukan kalimat yang cantik, “Pare is not a place, but feeling” (Pare itu bukan tempat, tapi rasa). Wow! Itulah dulu yang saya rasakan ketika pertama menapakkan kaki di Malioboro. Sempat bertanya dalam hati, “apa yang istimewa dengan Jojga?” Jawabannya, ‘Tidak ada!’. Tidak ada yang istimewa, bangunannya biasa, orang-orangnya biasa, makannya juga biasa-biasa saja. Tapi setelah sebulan, setahun, dua tahun baru saya tahu bahwa yang berbeda itu adalah rasa dan nuansa. Budaya ilmu dan peradaban yang membuat ia berbeda.

Sama, tidak banyak yang istimewa di Kampoeng Inggris ini. Semua juga tampak biasa. Bangunan-bangunan juga masih sangat biasa. Rumah-rumah penduduk masih menampakkan keasliannya yang menampilkan kesederhanaan dan kesahajaan. Pohon mangga masih menjadi tanaman wajib di depan rumah. Jambu dan rambutan boleh memerah di pohon. Semua biasa kecuali satu, budaya ilmu.

Lihatlah, semua orang cinta ilmu. Sesuai labelnya ‘Kampoeng Inggris’, maka setiap orang di sini berbahasa Inggris, dari penjual kue keliling hingga tukang becak dan ojek online. Ratusan sepeda berkeliaran ke sana kemari. Tempat-tempat kursus berbagai bahasa ramai dan semarak. Jangan kaget jika ada orang berdiri di pinggir jalan dan berpidato Bahasa Inggris kepada siapa saja yang lalu lalang. Begitulah mereka melatih mental untuk berani berbicara Bahasa Inggris.

Akhirnya, saya betul-betul menemukan rohnya Jogja medio sebelum tahun 2000 di sini. Saya yakin, pada masanya nanti Pare ini akan menjelma menjadi ‘icon’ pendidikan di Provinsi Jawa Timur ini. ‘Bayi’ kecil ini akan tumbuh besar untuk menemui takdirnya sendiri. #BN29719122017

*Akademisi UIN STS Jambi

MENARI DENGAN MASA LALU

Oleh: Bahren Nurdin, MA

Saya menulis artikel ini sambil menyeruput teh panas di sebuah hotel di Kota Muara Bungo. Sruupp…sambil mempersiapkan diri sebagai pemateri pada Training Hypnoteaching di salah satu Pondok Pesantren terkenal di kota ini; Diniyah Al-Azhar. Menikmati akhir pekan dengan terus berbagi untuk kebaikan, insya Allah.

Pada artikel ringan ini, saya juga ingin menemani anda menikmati pagi ini dengan berdiskusi isu ringan tentang perubahan sambil ‘menari’ bersamanya. Harus jujur, dalam banyak hal dan problematika kehidupan tidak semua orang siap dan mampu berdamai dengan perubahan yang terjadi baik pada diri maupun lingkungan hidup. Sementara perubahan itu sendiri adalah sebuah keabadian. Tapi bagi saya, khususnya di kota ini saya hanya ingin mengambil kesempatan untuk menikmati perubahan-perubahan yang dilakukan oleh waktu. Itulah indahnya masa lalu.

Banyak hal yang terjadi seiring waktu yang berlalu. Saya ingin menari bersamanya.

Saya meninggalkan kota tempat saya menulis ini pada tahun 1998. Saya menelusuri seluk beluk kota ini dengan bersepeda ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saya menghabiskan waktu jauh dari orang tua dan hidup di kota ini dengan penuh kisah-kisah ‘heroik’. Perjuangan seorang anak petani yang ‘nekat’ menjemput impian. Beberapa ‘situs sejarah’ perjalanan itu masih dapat ditemui. Namun, beberapa diantaranya telah lenyap dilahap perubahan. Kota ini benar-benar sudah jauh berubah dibanding 19 tahun lalu. Tetapi memorinya masih tersimpan rapi bak melodi.

Tidak jauh dari hotel mewah ini, syukurnya saya masih bisa bertemu dengan salah satu kantor pemerintah di mana dulu saya menjadi office boy. Saya masih bisa berdiri di depannya sambil menyaksikan bayangan masa lalu yang masih tergambar dengan jelas dan nyata. Sebagai pesuruh, saya menikmati tidur di kursi rapat yang disatukan, menyapu dan mengepel, membersihkan setiap ruangan, menaik dan menurunkan bendera, dan banyak lagi.

Walau pun saya masih bisa menemukan ‘situs’ bersejarah itu, tapi sebagian besar kota ini sudah berubah bentuk. Bangunan-bangunan baru tumbuh. Ruko dan pusat perbelanjaan menjamur. Rumah-rumah mewah berjejer. Jalan-jalan dikembangkan sehingga banyak jalan-jalan baru yang saya tidak lagi tahu tembusnya kemana. Itulah perubahan secara fisik. Belum lagi bicara perubahan secara nonfisik yang juga tidak kalah banyaknya.

“Melodi’ perubahan mengalun bertalu-talu bersama kisah-kisah masa lalu. Saya bagai sebuah jembatan antara masa lalu dan masa sekarang. Apa yang dulu tidak terlihat kini dapat disaksikan. Indahnya menjadi kacung di lapangan tennis, lapangan juga bagian tidak terlupakan dari perjalanan di kota ini. Saya masih menyempatkan diri berdiri di samping lapangan tennis itu. Masih sangat jelas di upuk mata bagaimana bahagianya berlari ke sana kemari mengejar bola dari raket anak-anak yang sedang dilatih.

Siapa mereka yang sedang latihan itu? Mereka adalah adik-adik kelas di sekolah. Mereka beruntung terlahir di tengah keluarga berada, anak-anak pejabat. Walaupun satu sekolah, tapi beda kasta. Termasuk di lapangan tennis itu. Saya kacung mereka yang bermain. Indahnya lari mengejar bola itu ternyata masih tetap menari di upuk mata. Smile!

Waktu terus belalu dan saya harus terus bergerak. Teruslah bergerak sampai nanti dihentikan oleh maut. Tapi jangan lupa menghiasi setiap pergerakan dengan menempatkan Allah sebagai sandaran hakiki. Amin. #BNODOC29321102017

*Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi

MEMANTAPKAN PERAN MAHASISWA UNTUK DEMOKRASI

Oleh: Bahren Nurdin, MA

 

‘Agent of Change’ adalah label yang dilekatkan kepada mahasiswa sebagai tokoh intelektual yang diharapkan akan membawa perubahan-perubahan untuk masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai anak muda mamang sepantasnyalah sebutan itu disematkan karena mereka memiliki energi yang besar untuk melakukan segala perubahan yang diharapkan.

Pada hakekat mahasiswa merupakan kelompok ilmiah akademik yang rasional, kritis, terbuka, aset nasional, pemimpin masa depan, pribadi yang sedang berkembang. Maka sumber daya yang ‘mapan’ ini, dengan segala potensi yang dimiliki, harus diarahkan sedemikian rupa sehingga mampu mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk bangsa dan negara ini. Maka dalam melakukan perubahan itu tentunya harus dimulai sedini mungkin dengan memberikan ruang dan waktu kepada mereka untuk ‘action’.

Pada aspek inilah kemudian Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi mencoba memberi peluang yang sebesar-besarnya kepada kaum muda intelektual ini untuk berbuat. Maka pada hari ini (20/10/3017), semangat itu menggelora di kampus Universitas Jambi. Puluhan mahasiswa kampus ini menyatakan diri, jiwa dan raga siap dan bersedia berkontribusi untuk bangsa dan negaranya.

Telah terbentuk dan dikukuhkan KOPIPEDE Chapter Unja. Saya betul-betul dapat melihat dan merasakan batapa mereka telah menyiapkan diri untuk menjadi pejuang demokrasi.

Lantas apa yang dapat mereka lakukan? Pertama, menjadi garda depan agen demokrasi. Sebagaimana konsep yang diusung oleh KOPIPEDE yaitu membentuk agen-agen demokrasi untuk menyampaikan segala bentuk informasi tentang kepemiluan dan demokrasi. Para mahasiswa yang berhimpun di dalam wadah KOPIPEDE ini kemudian dengan aktif menyumbangkan tenaga dan pemikiran mereka untuk menghimbau seluruh kawan-kawan mereka agar berperan aktif mensukseskan berbagai pemilu (termasuk pilkada) yang berlangsung di negeri ini.

KOPIPEDE memang megusung konsep kerja ‘small act for great purposes’ (aksi kecil dengan tujuan luar biasa). Katakanlah, setiap anggota yang tergabung dengan KOPIPEDE Chapter Unja ini dengan suka rela mensosialisasikan hari pencoblosan Pilkada Serentak 28 Juni 2018 dan Pemilu 2019 kepada teman-teman mereka sendiri sehari sekali. Itu merupakan kontribusi yang hebat. Jika ada lima puluh orang saja, dalam sebulan telah terlaksana ribuan aksi kecil. Saya yakin ribuan aksi kecil ini akan dapat memberi dampak yang sangat besar terutama di kalangan mereka sendiri.

Kedua, agen perubahan paradigama kaum intelektual kampus tentang pemilu dan demokrasi. Harus diakui masih banyak diantara mereka yang masih menganggap bahwa pemilu itu adalah semata tanggungjawab penyelenggara pemilu yang telah ditunjuk oleh negara. Masyarakat cukup jadi penonton saja. Padahal tidak demikian. KOPIPEDE sejak lama telah mengkampanyekan bahwa masyarakat harus mengambil bagian seluas-luasnya untuk mensukseskan pesta demokrasi di negeri ini. Yang punya pesta itu ya rakyat, bukan penyelenggara!

Mahasiswa adalah agen yang sangat tepat untuk mengkampanyekan perubahan paradigma ini. Jika semua masyarakat di negeri ini sudah benar-benar sadar, termasuk kalangan intelektual seperti mahasiswa ini, bahwa pemilu harus menjadi tanggung jawab bersama, maka akan tercapailah azaz pemilu yang diinginkan itu yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Pada akhirnya akan terpilihkan pemimpin-pemimpin yang hebat di negeri ini.

Sekali lagi harus dicatat bahwa pemimpin yang hebat hanya bisa didapat dari proses pemilihannya yang benar dan pemilihnya yang cerdas. Maka KOPIPEDE mencoba memantapkan peran para mahasiswa untuk berkontribusi mensukseskan demokrasi di negeri ini.

Akhirnya, selamat kepada KOPIPEDE Chapter UNJA yang baru saja terbentuk. Selamat bertugas atas nama pejuang demokrasi untuk bangsa dan negara ini. Lakukanlah hal-hal kecil secara konsisten dan berkesinambungan untuk pemilu dan demokrasi. Mahasiswa harus berada pada barisan terdepan mengawal demokrasi di negeri ini. Selamat! #BNODOC29220102017

*Akademisi UIN STS dan Ketua Komunitas Pemilu dan Demokrasi [KOPIPEDE] Provinsi Jambi

BER-MEDSOS DAN MANAJEMEN WAKTU

Oleh: Bahren Nurdin, MA

 

Barat mengatakan “time is money” (waktu adalah uang). Pepatah Arab menyebutkan ‘waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu’. Bahkan Allah pun memberikan peringatan dengan sangat ‘keras’ dalam Al-Quran Surah Al-‘Ashr:1-3 yang berbunyi, “Demi Massa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasihati dalam kebenaran serta saling menasehati dalam kesabaran.” Itulah waktu!

Maka jika ditelaah lebih dalam, sumber kerugian pada diri manusia itu adalah ‘waktu’. Dan sebaliknya, barang siapa yang mampu ‘menaklukkan’ waktu maka ia akan mendapatkan keuntungan. Kata lainnya adalah manajemen waktu. Untung dan rugi yang didapat dari waktu akan dihasilkan dari pengelolaannya.

Pada konteks kekinian, saya ingin mendiskusikan bagaimana manajemen waktu yang berkaitan dengan kegiatan bermedia sosial (medsos) dalam kehidupan sehari-hari yang dilewati. Hipotesisnya, jangan-jangan karena tidak memiliki manajemen waktu yang baik, kegiatan bermedsos menjadi ‘pedang’ yang memotong diri anda sendiri. Artinya, banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena asyik ber-medsos.

Disadari atau tidak, kegiatan ‘otak-atik’ medsos yang anda miliki telah menjadi pemangsa waktu yang rakus. Klik sana-sini, scroll atas bawah, geser kiri kanan, buka-tutup, dan seterusnya adalah kegiatan-kegiatan yang nampaknya ringan dan sebentar. Tapi, tidak lama kemudian anda sadar bahwa anda baru saja menghabiskan waktu berjam-jam, “Apa? Sudah jam 2, wah perasaan baru azan Zuhur”. Bayangkan, dari azan zuhur hingga jam 2 sore dianggap sebentar bila sudah berhadapan dengan layar gadget.

Kuncinya cuma satu; manajemen. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memenej waktu dalam bermedsos? Pertama, batasi medsos yang anda miliki. Sama-sama diketahui saat ini ada begitu banyak medsos yang tesedia. Silahkan jalan-jalan di ‘play store’ maka tidak akan cukup waktu untuk memilih medsos yang disediakan. Semua bagus dan penting. Semua menarik dan asyik. Semua keren dan modern. Jika diperturutkan, maka smartphone anda akan berisi medsos semua.

Coba bayangkan jika adan memiliki lima medsos saja, berapa waktu yang diperlukan untuk memantaunya satu per satu? Sangat banyak. maka pertimbangkan dengan baik medsos mana yang dapat menunjang kehidupan anda dan tidak perlu pula terlalu banyak. Hemat saya, tiga buah medsos sudah cukup untuk menunjang komunikasi dan mempererat silaturrahmi, juga bisnis.

Kedua, ‘say stop’. Pakailah waktu berjangka. Tetapkan kapan waktu anda berhenti dan melanjutkan aktivitas lain. Salah satu syaratnya anda harus ‘tega’ berkata ‘berhenti’ pada diri anda sendiri. Buang jauh-jauh kata, ‘tanggung’, ‘sedikit lagi’, ‘nanti saja’, ‘habis inilah’, dan sejenisnya. Ketika waktu yang telah anda tetapkan habis, saat ini juga harus dihentikan. Lakukan log out (keluar) dan kabur.

Yakinlah ada magnet yang tetap menarik anda untuk berada dengan medsos-medos yang sedang dibuka. Hanya orang-orang yang memiliki disiplin diri yang kuat terhadap dirinyalah yang akan mampu mengalahkan tarikan tersebut. Kita memang memerlukan media sosial, tapi jangan sampai diperbudak hingga lupa waktu.

Akhirnya, sangat diperlukan manajemen waktu dalam bermedia sosial. Menghabiskan waktu berjam-jam bermedsos boleh jadi hanya akan merugikan diri sendiri. Harusnya bisa melakukan banyak hal, malah waktu habis di satu titik yaitu layar gadget. Bukan medsosnya yang salah tapi waktu yang terbuang begitu saja akan mendatangkan kerugian pada diri. Hal bijak yang harus dilakukan adalah dengan mengelola (manajemen) waktu dalam bermedsos. #BNODOC29119102017

*Akademsisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi