Liputan Pers

Rumah Makan Minang, TKI, dan Pengemis

http://infojambi.com/v.1/content/view/2969/118/lang,/

KUALALUMPUR – Dua hari yang lalu saya rindu sekali dengan masakan tanah air. Seperti biasa saya suka makan di Kajang tepatnya Restoran Kajan Jaya, rumah makan masakan Minang. Kajang adalah sebuah pusat kota kecil yang berdekatan dengan tempat tinggal saya dan sebagian besar pelajar Indonesia khusunya yang kuliah di Univeristas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Di dalam restoran ini (restoran adalah sebutan ramuah makan di Malaysia. Jadi sekecil apa pun rumah makan, disebut restoran) dapat saya pastikan 80% adalah orang Indonesia. Dari wajah-wajah mereka dapat dikenali mereka adalah pahlawan-pahlawan devisa yang sendan rindu tanah air dengan menikmati masakan Minang. Dan 20% lagi adalah orang Malaysia ras India, China, dan Melayu. Kita harus sepakat bahwa rumah makan mampu meniadakan setimen kesukuan dan kepentingan politik paling tidak pada kasus ini.

Ketika saya sedang asyik menikmati potongan-potongan rendang dan sambal terong masakan Minang itu, saya didatangi oleh seorang anak kecil berumur sekitar 10 tahunan. Anak kecil itu memakai pakaian melayu yang sedikit kumal dan berkopiah haji. Persis seperti anak pesantren. Di dalam genggamannya nampak beberapa lembar uang kertas bernilai satu ringgit dan beberapa koin. Dapat dikira jumlah uang yang ia pegang tidak lebih dari RM 10 (sekitar Rp. 30.000). Sebelum datang ke meja saya, dia sempat mendatangi beberapa meja tamu lain di rumah makan itu untuk meminta-minta. Ada yang memberi dan ada yang hanya mengangkat tangan sebagai isyarat “saya tidak mau memberimu”. Dia anak Malaysia yang sedang mengemis, alias meminta-minta.

Bagi saya pemandangan seperti ini tentu tidak lagi mengagetkan karena tentu saja kita sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti ini di tanah air. Di Jambi saja contohnya, cukup anda berdiri di deretan konter hp di daerah Hotel Abadi, anda akan ‘diserbu’ oleh anak-anak seperti ini sambil membawa kotak amal. Ada yang mengatakan untuk infaq mesjid, anak yatim, panti asuhan dan lain-lain (suatu saat nanti saya akan adalak penelitian motive di balik semua itu, insya Allah). Namun ini di Malaysia yang katanya tingkat perekonomiannnya lebih baik paling tidak dibanding dengan Indonesia. Sebagai orang yang bergulat dengan ilmu-ilmu sosaial dan kemanusiaan, saya tertarik untuk menggali lebih jauh mengenai fenomena ini.

Ketika ia datang ke meja saya, saya undang dia duduk makan bersama. Ternyata dia tidak bersedia entah dengan alasan apa. Tapi ketika saya pesankan teh tarik (teh campur susu khas Malaysia), dia menganggukkan kepala. Setelah saya bujuk dia akhirnya bersedia untuk berbagi cerita dengan saya. Dari perbincangan hampir satu jam ini saya banyak menggali kehidupannya. Namanya Muhammad Agus Salim. Berasal dari negeri Selangor. Ia telah lama ditinggal mati ayahnya. Sekarang ibunya sedang sakit. Dia mengemis untuk makan dan mengobati ibunya yang sedang sakit. Dia mengemis hanya hari sabtu dan minggu karena hari lain dia gunakan untuk sekolah. Sat saya tanya apa dia tidak pernah mendapat bantuan dari pihak kerajaan dia hanya geleng-geleng kepala. Dan banyak lagi cerita lugu Agus Salim yang cukup menyentil nilai-nilai humanistik kita.

Itu sepenggal kisah tentang Agus Salim. Dua minggu yang lalu saya menjelajah Malaysia dengan mendatangi daerah Chow Kit. Di sini ternyata banyak TKI dan TKW yang bermukim. Tapi bukan masalah itu yang ingin saya sampaikan di sini (suatu saat nanati saya akan ceritakan bagaimana kisah-kisah pejuang divisa ini di Chow Kit, dari persoalan pelacuran sampai pada makan-makan enak ala Indonesia). Masih tentang pengemis di Malaysia. Di daeraha ini saya juga menemukan beberapa pengemis di pinggir jalan. Pertama saya menemukanya dua orang pengemis yang sedang berbaring di lantai jembatan layang. Dengan pakaian kumal dan menadahkan manglok kepada setiap pejalan kaki yang ingin menyebrang menggunakan jembatan layang tersbut.

Selain di Chow Kit saya juga menemukan pengemis di daerah Petaling Street, Kuala Lumpur. Petalingg Street adalah tempat belanja barang-barang murah. Jika mau diambil gambaran persis sepeti Malioboro di Jogjakarata. Di sini dijuar beraneka aksesoris dan pakaian juga makanan. Di sini pun saya menemukan paling tidak dua orang pengemis tua. Dari wajahnya dapat ditebak mereka bersukubangsaan china dan india.

Dari penemuan-penemuan ini saya hanya ingin menyampaikan kepada sidang pembaca bahwa di Malaysia pun ada pengemis. Jika keberadaan pengemis (termasuk juga tunawisma) di jadikan sebagai tolak ukur kemakmuran suatu bangsa, maka Malaysia pun belum makmur. Hipotesa ini tentu saja masih lemah dan belum dapat diertanggungjawabkan secara akdemik (perlu peneliitian lebih lanjut). Anggap saja tulisan ini semacam travel writing namun paling tidak saya telah berbagi sedikit informasi. “Di Malaysia juga ada pengemis lho…”, begitu kira-kira.

================================

http://202.152.33.84/index.php?option=com_content&task=view&id=18955&Itemid=15

Thursday, 04 December 2008

jambi-ekspress

Bang Zul For Presiden

Oleh: Bahren Nurdin & Hermanto Harun*

Dinamika politik di tanah air terus terasa semakin memanas. Daya magnetik Pemilu 2009 yang semakin dekat, mengisi semua ruang pragmatisme pencari kekuasaan, untuk menjadi pemenang dalam medan pertempuran. Opini publik seakan tak pernah bosan untuk menyantap fluktuasi drama politikus, seakan bincang politik memiliki candu yang tidak mengenal rasa bosan membincangnya. Meskipun kadang, bincang politik berakhir dengan sikap apatisme, mengingat medan politik di tanah air sekarang, sudah menjadi arena laga kapitalistik, karena semua tergantung ketersediaan modal. Seolah uang menjadi tuhan baru dalam game politik. Siapa yang kuat aminusi rupiahnya, itulah calon kuat pemenang di medan laga.

Di antara isu politik yang mencuat adalah soal calon presiden setelah kekuasaan SBY mencapai batas akhir waktunya. Bincang calon presiden bahkan menerawang para pelaku politik, baik dari tokoh tingkat nasional maupun lokal. Disini yang menarik, karena, untuk di tingkat lokal, Jambi khususnya, ada ”penerawangan” yang mencoba melihat sejauh mana kelayakan tokoh Jambi untuk diusung memasuki ring calon Presiden di masa mendatang. Bagi masyarakat Jambi, seakan ada secercah cahaya harapan dalam senyum sejarah, jika sendainya ada diantara putra Jambi yang berhasil menduduki kursi pertama RI tersebut. Walau, terkadang, isu itu terkesan hanya seperti mimpi di saat terjaga.

Dalam sebuah website berita lokal infojambi, ada sebuah polling yang mencoba melihat isu itu dalam realitas pulblik Jambi, dengan mengusung sebait pertanyaan, bang Zul (Zulkifli Nudin) dicalonkan jadi Presiden RI, Menurut Anda?” Inilah pertanyaan yang terasa menyindir, tapi menantang.  Dari polling ini, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat Jambi, tepatnya pengunjung wisata maya website tersebut, (update coraktanggal 25 November 2008) dari 1030 pemilih, 66.1% (681 pemilih) menyatakan tidak layak, 29.9% (308 pemilih) menyatakan layak, dan yang lainnya, 4% (41 pemilih) menyatakan tidak tahu. Diakui memang, dari hasil polling ini tidak memenuhi unsur-unsur ilmiah dari sebuah penelitian, karena tidak bisa dijadikan pijakan untuk menentukan sebuah policy atau judgment dari aturan ideal sebuah polling. Akan tetapi  polling semacam ini paling tidak, boleh dijadikan sebagai rujukan view of reality yang mewakili pandangan umum masyarakat awam, tentunya selain akademisi, politisi, ekonom dan seterusnya.

Angka 66.1% dari pemilih tersebut, adalah suara yang sangat ‘lantang’ menyatakan bahwa Bang Zul tidak layak dijadikan kandidat presiden Republik Indonesia. Agaknya fakta ini merupakan realitas yang anomalik, ketika masyarakat Jambi tidak menginginkan orang sedang memimpin daerahnya menjadi Presiden. Mengingat, biasanya faktor emosi tribalitas yang bercorak kesukuan dan kedaerahan masih mengental dalam tolak ukur memilih pemangku kekuasaan di bumi pertiwi. Jangankan menjadi presiden, menduduki kursi menteri saja rasanya cukup mewakili ruang emosionalitas yang sangat membanggakan. Nyatanya, masyarakat Jambi mungkin berbeda dari daerah lain di Indonesia. Sebuah diskursus yang lumayan joki, ketika seorang pemimpin yang telah lama mengabdi di daerahnya, malah dianggap tidak layak menjadi Presiden oleh rakyatnya sendiri. Sebuah pertanyaan yang menantang untuk diselidiki dan menarik untuk ditelaah dengan beberapa pandangan.

Pertama, rakyat Jambi sudah semakin matang dan objektif dalam berpolitik. Polling ini menunjukkan bahwa rakyat Jambi tidak lagi terbuai oleh fanatisme ke daerahan. Artinya, asal putera daerah yang mau jadi pemimpin, kita dukung. Ternyata tidak demikian, karena mereka masih berkata jujur dan melihat sebuah realitas dengan sangat objective (walau pun ini perlu penelitian lanjutan).

Hal ini diyakini selaras dengan pepatah Jambi yang menuturkan ”jangan sampai menegakkan benang basah, membangkitkan batang terendam”. Artinya tidak akan membela yang salah dan tidak akan mengiyakan yang seharusnya tidak.

Kedua, beberapa kasus korupsi yang mencuat kepermukaan di era kekuasaan bang Zul, seperti kasus mess Jambi yang sampai saat ini masih menyimpan kecurigaan dan pertanyaan akan kemungkinan keterlibatannya dalam kasus tersebut, menjadi preseden buruk bagi kepemimpinan bang Zul. Kasus ini paling tidak, sudah menunjukkan bahwa bang Zul lemah kontrol dalam menjalankan roda pemerintahannya. Ini terbukti beberapa pejabat dibawahnya telah menjadi tersangka korupsi.

Ketiga, program pemberdayaan masyarakat yang menyangkut hak hidup orang banyak seperti pendidikan juga tidak dapat dirasakan kemajuannya oleh masyarakat Jambi (kalaupun ada, tidak signifikan). Setiap tahun ada saja berita-berita miris tentang pendidikan. Program perekonomian kerakyatan, seperti program peremajaan karet rakyat sampai hari ini belum bisa dibanggakan, karena proses dan hasilnya bahkan cenderung memilukan. Program patin Jambal terus bermasalah dengan pemasaran dan hutang petani, dan seterusnya.

Keempat, adanya kecenderungan untuk mengekalkan dinasti ”nurdinisme” di daerah Jambi. Aroma pengekalan dinasti nurdinisme semakin tampak dalam kampanye pemilihan walikota Jambi beberapa bulan lalu. Belum lagi kuatnya aroma bandar modal politik dalam setiap pilkada di kabupaten di provinsi Jambi yang dilakukan oleh keluarga dan kroni bang Zul. Kemenangan Sum Indra dan posisinya di nomor dua dalam pemerintahan kotamadya, bisa dijadikan justifikasi akan proyek ”kekaisaran” dan kecenderungan cengkeraman dinasti tadi.

Kelima, seloko Jambi mengatakan “ambik contoh yang telah sudah, ambik tuah kepado yang menang” Artinya, selama Bang Zul memimpin Jambi dua periode terakhir, belum ada yang dapat dibanggakan oleh masyarakat Jambi. Mereka belum melihat ada contoh yang baik (pembangunan provinsi Jambi ke arah yang lebih baik), atau tuah (prestasi-prestasi di tingkat nasional dan internasional) yang dapat dibanggakan. Bang Zul belum mampu membuktikan kemana arah pembangunan provinsi Jambi ke depan. Sebagai daerah yang selalu berseloko “adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi kitabullah” nampaknya ambigu dengan selokonya. Yang terlihat adalah, pemandangan perkantoran gubernuran yang selalu sesak dengan aktivitas hedonistik anak muda Jambi di sore hari, bahkan mungkin menjadi tempat mesum yang terbuka dan menjadi tontonan gratis bagi rakyat kota Jambi. Bagaimana mungkin berharap untuk menutup lokalisasi prostitusi yang telah menjadi virus berbahaya bagi masyarakat Jambi, mencegah adegan syahwat di arena perkantoran saja tidak mampu. Adalah sesuatu yang nisbi, ketika berharap sesuatu kepada orang yang tidak memiliki. Karena, pepatah mengatakan, ”jangan berharap kail sejengkal, mampu memancing ikan besar di lautan lepas”.

Semua pointer di atas, hanya sebatas analisa picisan anak rantau yang mencoba merindukan pemimpinnya dari kejauhan. Karena terjemahan rindu akan kampung halaman, kadang harus dibahasakan dengan sebuah kritik konstruktif kepada penguasanya. Kami yakin, bahasa cinta tidak selamanya tepat jika diungkapkan dengan pujian indah kata-kata, karena pujian kadang menenggelamkan objeknya dalam fantasi semu yang seringkali menghilangkan alam sadar.

Akhirnya, dalam realitas politik tanah air, semuanya memiliki kesempatan untuk berkuasa. Sederet nama calon presiden yang diusungkan pelbagai media, agaknya membangkitkan kecemburuan dan sentimen kedaerahan. Mengingat, watak tribalitas moderat merupakan hal yang absah selama masih dalam koridor profesionalisme. Jadi, cita-cita ”bang Zul for Presiden” bukanlah ungkapan yang terperangkap dalam taqdir kemustahilan, karena kata Barac Hosein Obama ”yes we can”, yang bermakna ’ya, kami bisa’.

*Dosen IAIN STS Jambi. Mahasiswa Program Master & Doktor Universitas Kebangsaan Malaysia.

========================================

http://infojambi.com/v.1/content/view/2613/118/lang,

Minggu, 16/11/2008 | 00:15 WIB

Image

Peradaban Melayu Telah Terkoyak-Koyak

SELANGOR – Walaupun kondisi pendidikan bangsa Indonesia saat ini masih curat marut dengan segala parsoalannya, namun Provinsi Riau optimis dalam jangka sepuluh atau dua puluh tahun ke depan akan menjadi kiblat pendidikan di Asia Tenggara. Inilah salah satu harapan disampaikan oleh Gubernur Riau Drs. Wan Abu Bakar, MS. M.Si pada saat membuka seminar regional di UKM, Malaysia tanggal 15 November 2008 yang bertempat di Gedung Kelab Danu UKM, Selangor Malaysia. Seminar bilateral pendidikan Riau dan Malaysia ini mengangkat tajuk Menuju Pendidikan Riau yang Mapan dalam Era Globalisasi dan Modernisasi. Seminar yang digagas oleh Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PRMR) ini dihadiri oleh beberapa pejabat penting Riau di antaranya kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi Riau, Asmaran Hasan, Pakar pendidikan dan pengamat Melayu Dr. (HC) Tenas Effendi, Pengamat Pendidikan Riau, Prof. Dr. Mohd. Diah, M.Ed, dan perwakilan dari UNRI. Sementara itu, acara ini juga dihadiri oleh pejabat UKM diantarnya Prof. Ir. Dr. Hasan Basri sebagai pejabat pengurusan Akademik antar Bangsa, Prof. Dr. Musa Ahmad, sebagai Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

Pada kesempatan ini juga Gubernur sangat mengharapkan seminar ini menjadi wadah untuk merumuskan konsep yang jelas tentang kerja sama yang di jalin antara Riau dan Malaysia untuk menuju kejayaan Melayu. Juga menentukan karakter pendidikan Riau sendiri. Gubernur menegaskan bahwa unsur utama dalam pembangunan bangsa adalah pendidikan. ”Agenda utama adalah bidang pendidikan, bukan politik atau ekonomi” ungkap Gubernur yang sebentar lagi akan melatakkan jabatan tertinggi di Provinsi Melayu itu.

Sementara itu, Dr. (HC) Tenas Efendi, dalam paparan makalahnya menyatakan bahwa saat ini budaya dan peradaban Melayu telah terkoyak-koyak karena tipisnya saringan globalisasi. Padahal pendidikah orang Melayu itu telah dimulai dari sejak dini yaitu dimulai sejak ia dikandung di dalam rahim ibunya. ”Kita tidak ada lagi penapis sehingga Melayu kehilangan jati diri termasuk dalam bidang pendidikan” Ungkap beliau.  Maka dari itu membenahi pendidikan adalah jawaban yang paling arif untuk mengatasi masalah tersebut.

Ditambahkan oleh Pengamat pendidikan Riau yang juga mantan rektor UNRI Prof. Dr. Mohd. Diah, M.Ed bahwa saat ini pendidikan kita bagaikan benang kusut. Bahkan lebih tegas lagi beliau menyatakan bahwa ”pendidikan kita sakit jiwa” ungkapnya lantang. Beliau mencontohkan masalah Ujian Nasional (UN), bagaimana bisa input dan proses berbeda setiap daerah, tapi output disamakan. Ini sungguh tidak adil.

Ketua Fraksi Gabungan Baru DPRD Prov. Riau, H.M Rizal Akbar, S.Si. M.Phil menyatakan dalam makalahnya bahwa miskin dan bodoh itu bukan masalah pribadi (personal) tapi masalah sosial. Maka ketika menjadi masalah sosial, ia harus diselesaikan dengan kebijakan. Disinilah peran pemerintah dalam mengatasi pendidkan. Ditambahkanya lagi bahwa saat ini pendidikan di Indonesia hanya mengarahkan orang untuk pindah ke kota (urbanisasi). ”Pendidikan kita tidak memfasilitasi orang desa untuk pintar di desa dan mengembangkan desa. Tapi selalu membawa orang ke kota.” Ungkap mantan UKM ini.

Dari seminar ini ada optimisme yang besar dari semua kalangan untuk membangun pendidikan Riau sesuai apa yang telah diharapkan Gubernurnya. ”Kita haru membangun pendidikan jangka panjang. Kerangkanya yang harus kita bangun. Jadi siapa pun yang menjadi gubernurnya tidak ada masalah” pungkasnya saat menuju ke dalam mobilnya kembali ke indonesia. Akankah harapan ini menjadi nyata?  (Bahren Nurdin).

BERITA TERKAIT

===============================================

http://infojambi.com/v.1/content/view/2407/106/lang,/

Rabu, 05/11/2008 | 01:53 WIB
“Malaysia (masih) belajar ke Indonesia”

Kuala Lumpur – Malaysia dan Indonesia sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Akibatnya, di kalangan mahasiswa terjadi ‘arus silang’. Artinya, tak sedikit mahasiswa asal Malaysia yang harus menuntut ilmu ke Indonesia, begitu juga mahasiswa Indonesia juga ada yang kuliah di negara serumpun tersebut.

Malaysia memang cukup unggul di beberapa bidang ilmu antara lain ekonomi akuntansi, teknologi informasi (komputer, multimedia, desain grafis), maupun teknik sipil. Sementara di sisi lain mereka masih minim di beberapa bidang ilmu lainnya yaitu bidang ilmu kedokteran, farmasi dan gigi. Sehingga tidak sedikit mahasiswanya harus belajar ke Indonesia. Maka dari itu seyogyanya belum ada yang boleh mengklaim bahwa pendidikan Malaysia lebih baik dari pendidikan Indonesia atau sebaliknya.

Ada pamahaman yang keliru atau paling tidak terlalu dibesar-besarkan dengan kata-kata “dulu Malaysia belajar ke Indonesia”. Dan penulis ingin tegaskan bahwa sampai sekarang pun “Malaysia (masih) belajar ke Indonesia”. Ini harus dipahami dengan kerangka berpikir global bahwa seorang warga negara mana pun boleh belajar di negara mana pun asal mereka memeliki keinginan dan tergantung dengan bidang yang mereka minati. Di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta contohnya, ada begitu banyak mahasiswa yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Belanda, Jepang, dll. Apakah serta merta kita akan mengatakan bahwa pendidikan Indonesia jauh lebih baik dari pendidikan negara-negara tersebut? Tentu belum bisa kita kelaim demikian.

Warga negara tersebut datang ke Indonesia untuk mempelajari seni tradisioal, budaya, Bahasa Indonesia, dan lain sebagainya. Maka dari itu, jika kita melihat dengan kaca mata global, Bangsa Indonesia tidak perlu terlalu silau dan minder terhadap apa yang dicapai oleh Malaysia saat ini. Banyaknya pelajar Indonesia ke Malaysia hanya semata konteks percaturan global dimana batas-batas negara akan semakin tidak berarti difasilitasi oleh kemajuan-kemajuan tekhnologi dan transportasi. Inilah kemudian yang disebut dengan pelajar antar bangsa (International Students). Dari sini pula akan terbangun jaringan atau network pemikiran dan kerjasama juga toleransi antar bangsa. Mereka melihat negara lain sehingga seperti kata pepatah kuno “tidak seperti katak dalam tempurung”. Untuk menghadapi tantangan globalisasi kedepan hal ini sangat dibutuhkan.

Terlepas dari tarik menarik image building (bangunan pandangan) yang terbangun di tengah masyarakat Indonesia bahwa pendidikan Malaysia lebih unggul dari Indonesia, penulis ingin merujuk pada seleko adat Jambi yang mengatakan “Ambik tuah kepado yang menang, Ambil contoh kepado yang sudah”. Tidak ada salahnya kita mengambil beberapa point penting sebagai contoh dan tuah mengapa image itu bisa terbangun. Dalam hal ini, pemerintah Malaysia dengan sepenuh hati membangun fasilitas pendidikan. Sarana dan prasarana seperti bangunan cantik dan megah, jaringan internet, laboratorium, perpustakaan, dan lain sebagainya merupakan image kasat mata (eye catching) yang dapat dilihat di semua tingkat pendidikan di Malaysia. Sebelum orang melihat ke dalam (content and quality), paling tidak mereka sudah mencuri perhatian public internasional. Mereka kemudian berjibaku memenuhi stantdar-standar internasional seperti ISO dan memenangkan penghargaan-penghargaan internasional lainnya. Inilah bangunan image yang terbangun. Tapi jika benar-benar masuk kedalam sendi-sendi kehidupan dan system pendidikannya, juga masih banyak kekurangan sana-sini. Mereka pandai memoles semua itu (kata orang Minang inyo pandai baminyak ayi).

Dalam kesempatan ini penulis tidak lagi bermaksud mendiskusikan hal tesebut tetapi lebih pada bagaiman sesungguhnya mental pembangunan itu didirikan. Pilar semangat membangun itu ditancapkan. Negara-negara yang sekarang memiliki pendidikan maju dan mempunyai peradaban yang kokoh seperti Malaysia dan Jepang pasti berangkat dari apa yang dilakukan para pendahulu mereka beberapa puluh tahun silam. Hari ini sesungguhnya hanyalah akumulasi dan hasil (menuai) dari apa yang nenek moyang mereka perbuat dahulu. Jika demikian adanya, jika kita menemukan bahwa pendidikan tanah air kita hari ini tentu tidak terlepas dari tanggungjawab para pendahulu kita. Jika ada yang salah hari ini maka pasti ada yang tidak beres dahulu. Ibarat membuat rumah jika pondasinya tidak kuat maka bagai manapun membangunnya pasti rubuh.

Tentu kita tidak perlu mencari-cari salah siapa. Satu hal yang sangat bijak adalah kita harus menyadari dengan penuh hati agar dua puluh tahun ke depan kebobrokan hari ini tidak lagi terulang lagi. Jika kemudian kita menyadari bahwa hari ini adalah buah dari yang ditaman beberapa tahun silam, maka kita harus menanamnya hari ini agar bisa dipetik kemudian hari. Inilah sebenarnya poin lain yang perlu digarisbawahi bahwa topangan ilmu pengetahuan bagi suatu peradaban bangsa menjadi kata kunci dari kesinambungan peradaban itu, termasuk peradaban bangsa Indonesia. Kalau tidak, maka kita akan selalu menjadi penumpang dari peradaban bangsa lain, (baca Membangun Peradaban).

Maka pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang akan menjadi pendekar pembagun peradaban itu?

Jawabannya adalah siapa saja (berpuluh-puluh tahun ke depan akan disebut oleh generasi kita sebagai pendahulu mereka) yang memiliki keinginan besar untuk membangun pendidikan di negeri ini. Semua elemen masyarakat tentunya harus terlibat dengan segala potensi yang dimiliki dan yang paling pantas untuk berada dibarisan depan menjadi ‘pendekar’ adalah para pengambil kebijakan dan pimpinan daerah.

Kita kemudian harus memberikan apresaiasi yang besar terhadap para pemimpin daerah (Bupati dan Gubernur) yang menyumbangkan perhatian besar untuk dunia pendidikan. Tanpa meniadakan daerah laen, penulis bangga melihat kiprah pemerintah daerah Kabupaten Sarolangun melalui bupatinya yang mencanangkan 5 doktor, 25 master dan 100 serjana setiap tahunnya. Ini sebuah langkah besar untuk membangun peradaban Kabupaten Sarolangun ke depan. Bagi putra Sarolangun yang benar-benar ingin belajar diberikan fasilitas dan kemudahan oleh pemerintah daerah. Artinya paling tidak lima tahun ke depan akan tercetak 25 doktor 125 master dan 500 serjana dari berbagai disiplin ilmu yang siap menyumbangkan ide dan tenaganya untuk membangun Kabupaten Sarolangun, sekaligus membangun peradaban daerah ini dengan baik.

Akan tetapi langkah-langkah seperti ini terkadang secara politis dianggap langkah yang kurang populis karena anggaran yang dikeluarkan untuk biaya pendidikan para penuntut ilmu tersebut tidak nampak secara nyata. Tidak seperti membangun jalan raya, jembatan, gedung perkantoran, dan lain-lain yang langsung dapat dilihat secara kasat mata. Tapi sebenarnya secara awam dapat dilihat bahwa pembangunan fisik akan hancur dimakan usia, sementara membangun sumber daya manusia akan selalu tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Inilah kesadaran yang harus dibangun. Bangsa Indonesia sudah tinggal satu langkah dalam memahami hal ini. Sehingga lebih banyak para pemimpin daerah yang tidak peduli dengan pembagunan peradaban melalui pembagunan pendidikan, sebagai contoh apa yang terjadi di Kabupaten Tebo. Pemerintah Kabupaten Tebo tidak sama dengan Pemerintah Kabupaten Sarolangun dengan segala alasan-alasan politis populisnya. Dapat dipastikan (jika para decision maker-nya tidak cepat disadarkan) daerah ini akan menemukan ‘lobang’ yang sama di masa yang akan datang, (perlu belajar dengan keledai agar tidak msuk lobang yang sama).

Akhirnya, membaca peradaban Bangsa Indonesia khususnya Provinsi Jambi dan daerah-daerah kabupatennya beberapa dekade ke depan, maka kita semua harus mempertanyakan apa yang kita perbuat untuk semua itu. Kita harus melihat dengan cermat pemimpin-pemimpin besar yang siap menajdi pendekar tangguh peradaban. Golongannya tentu ada dua yaitu golongan pembangun dan golongan penghancur peradaban. Bagamana dengan anda dan pemimpin anda? Allahu’alam bissawaab. (Bahren Nurdin: Mahasiswa Pasca Sarjana Univ. Kebangsaan Malaysia)

BERITA TERKAIT

* Islam Hadhari dan Hasan Basri Agus
* Orang Jambi di Malaysia (bagian ketiga – habis)
* Orang Jambi Juara Puisi di Malaysia
* Orang Jambi di Malaysia (Bagian ke-dua)
* Orang-Orang Jambi di Malaysia (Bagian Pertama)
==================================================

Dosen IAIN Juara Puisi

Tuesday, 28 October 2008

Prestasi berharga terus ditoreh dosen Fakultas adab IAIN STS Jambi ini. Dalam perhelatan Hari Apresiasi Puisi Cinta (RISISITA 2) yang diadakan oleh Universitas Kebangsaan Malaysia pada tanggal 25 Oktober 2008 lalu, dosen yang bernama lengkap Bahren B Nurdin, SS ini berhasil menjadi pemenang. Disamping satu dosen Unbari, Amsori bin Muhammad Das, ST. Prestasi ini paling tidak sudah mampu mengharumkan nama Jambi dikancah internasional karena acara tersbut juga dihadiri oleh pelajar-pelajar asing dari berbagai negara di dunia seperti Irak, Perancik , Nigeria , Yaman, RRC, dan lain-lain.

Judul puisi yang diciptakan Bahren Nurdin yakni, Naga UKM, Kau Tak Lagi Dirimu. Ini merupakan protes terhadap sungai yang mengalir di dalam lingkungan UKM yang angkuh dan kotor.

Sementara Amsori menulis puisi “Bertaubat” yang menyampaikan kegelisahannya akan manusia yang tidak mau bertaubat. Puisi-puisi ini terpilih dari ratusan puisi yang dikirim oleh peserta dan diseleksi oleh dewan juri yang ditentukan oleh UKM sendiri. “Ya..kami bangga telah membrikan yang terbaik untuk nama Jambi. Saya sendiri pakai batik Jambi haa…” ujar Bahren ramah saat dihubungi melalui hp nya. Beliau juga merupakan Direktur Eksekutif Pusat Studi Humaniora (PSH) Jambi.

Menurut penuturannya, perlombaan tersebut dilaksanakan dalam rangka penutupan Matakuliah “Bahasa Melayu Sebagai Kepentingan Akademik” yang merupakan mata kuliah wajib bagi pelajar-pelajar asing yang berlajar di UKM. Walau pun Bahasa Melayu tidaklah begitu berbeda dengan Bahasa Indonesia, bahkan cendrung sama untuk beberapa daerah seperti Jambi, Pekanbaru, Kalimantan, dll namun UKM tetap mewajibkan mahasiswanya yang berasal dari Indonesia untuk mengambil mata kuliah tersebut. (arm)

===================================

http://www.infojambi.com

Minggu, 26/10/2008 | 18:26 WIB
Orang Jambi Juara Puisi di Malaysia

Kuala Lumpur –Dalam perhelatan Hari Apresiasi Puisi Cinta (RISISITA 2) yang gelar Universitas Kebangsaan Malaysia tanggal 25 Oktober 2008 lalu, dua putra terbaik Jambi berhasil menjadi pemenang penulisan puisi yaitu Bahren B. Nurdin, SS dan Amsori Bin Muhammad Das, ST.

Kedua pemenang tersebut merupakan dosen yang berasal dari Jambi yang sedang mengambil program master di UKM. Bahren B. Nurdin, SS merupakan dosen Sastra Inggris di IAIN STS Jambi dan Amsori Bin Muhammad Das, ST merupakan dosen Unbari. “ Prestasi ini mengharumkan nama Jambi dikancah internasional karena acara tersbut juga dihadiri oleh pelajar-pelajar asing dari berbagai negara di dunia seperti Irak, Perancik , Nigeria , Yaman, RRC,” ujar Bahren.l

Judul puisi “Naga UKM, Kau Tak Lagi Dirimu” yang ditulis oleh Bahren (biasa dipanggil) merupakan protes terhadap sungai yang mengalir di dalam lingkungan UKM yang angkuh dan kotor. Sementara puisi “Bertaubat” yang ditulis oleh Amsori menyampaikan kegelisahannya akan manusia yang tidak mau bertaubat.

Puisi-puisi ini terpilih dari ratusan puisi yang dikirim oleh peserta dan diseleksi oleh dewan juri yang ditentukan oleh UKM sendiri. “Kami bangga telah memberikan yang terbaik untuk nama Jambi. Saya sendiri pakai batik Jambi haa…” ujar Bahren yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Humaniaora (PSH) Jambi.

Perlombaan ini dilaksanakan dalam rangka penutupan Matakuliah “Bahasa Melayu Sebagai Kepentingan Akademik” yang merupakan mata kuliah wajib bagi pelajar-pelajar asing yang berlajar di UKM. Walau pun Bahasa Melayu tidaklah begitu berbeda dengan Bahasa Indonesia, bahkan cendrung sama untuk beberapa daerah seperti Jambi, Pekanbaru, Kalimantan, dll namun UKM tetap mewajibkan mahasiswanya yang berasal dari Indonesia untuk mengambil mata kuliah tersebut. (ij00 )

BERITA TERKAIT

======================================

AII – AusAID Scholarships Alfonse, Bahren, Fransiskus, Yuniar, Yulqi and Anwar attend UGM in Yogyakarta. They are just six of over 300 students there who have been assisted by AusAID and the Australia Indonesia Institute (AII) with their education expenses. Alfonse, for example is studying physics. Bahren from Jambi… http://www.kangguru.org/magazine/april2002.htm

=====================================

Join Motivation: Dengan bergabung di komunitas ini saya berharap dapat menambah ilmu dan pengalaman dalah hal tulis menulis. insya Allah, Amin. http://www.kemudian.com/users/bahren_nurdin

=====================================

Di lokasi ini juga terdapat pemancingan, kafe menara, yang bisa digunakan untuk menikmati hidangan yang ditawarkan seperti ikan bakar, ikan goreng, chicken nugget, dan aneka menu lainnya. “Bagi yang ingin makan hasil ikan pancingan, bisa langsung dimasak di sini, ini juga salah satu layanan yang diberikan,” jelas Bahren, HRD Manager Kampung Radja. http://jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=1076

======================================

STOP MENJADI PENGEMIS INTELEKTUAL (Udah kuliah masih minta-minta)KIAT SUKSES KERJA SAMBIL KULIAH

HADIRI SEMINAR MOTIVASI MENGATASI MASALAH KEUANGAN ANDA SAAT PENDIDIKAN.Hari/ tanggal : Minggu/7 Januari 2007Waktu : 14.15 WIBTempat : Hotel Aini Simpang Kawat JambiTema : “STOP MENJADI PENGEMIS INTELEKTUAL (Udah kuliah masih minta-minta)Pemb icara : 1. Bahren Nurdin (Manajer Marketing Taman Wisata Kampoeng Radja Jambi 2. Jon Rial (Pebisnis Sukses Kota Jambi)Moderator : Oyon Subiyanto (Pebisnis Sukses Kota Jambi)Yang berminat menghadiri acara ini hubungi 0811744949 atau 08127830594Tempa t terbatas dan GRATIS. https://bahren13.wordpress.com/wp-admin/page-new.php

======================================

Dan dalam pandangan lembaga ini penyebabnya adalah minimnya kesempatan petani memiliki tanah. ‘’Petani kita hanya diberi kesempatan untuk menjadi buruh tani,’’ tukas Direktur PSH IAIN STS Jambi, Bahren kepada koran ini. http://202.152.33.84/index.php?option=com_content&task=view&id=9750&Itemid=16

======================================

PSH IAIN Kuak Soal Pertanahan

‘’Petani kita hanya diberi kesempatan untuk menjadi buruh tani,’’ tukas Direktur PSH IAIN STS Jambi, Bahren… kepada koran ini… 202.152.33.84/index.php?option=com_content&task=view&id=9750&Itemid=16 – 24k –

======================================

Iklan

Satu Tanggapan

  1. thanks atas iklan infojambi.com di blog ini…sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: